My Ideas and Stories About PAPUA

Making the rich and beautiful resources in Papua become the social economic strength for Papuan has become the long home works. Many people believe that the early start to find the answer is by understanding how Papua looks like, their communities and their special strength. And it can be realize by directly in touch with them. This blogs provides you chance to touch and gets insight ideas, trends and stories about Papua.
  • Stories About Beautiful Papua

    Every Single Place In Papua Have Its Stories To Be Shared To Build Other People Understanding About This Island

  • The Last Frotier Primary Forests

    With 42 Million ha of forests, Papua play crucial rules in Indonensia forests development targets.

  • Women and Natural Resources

    Forests or land right are not only about Man. So understanding the roles women and the impact of forests changes to women are also crucial

  • Our Traditional Value

    Papuan Community Have Been Living for Centuries with Their Knowledge and Wisdom in Managing Natural Resources and Practice Best Conservation

  • For Papuan Generation

    Every Works We Do Now Must Be Dedicated To The Future Papuan Generation

  • Dependency to Forests Resources

    Practicing Good Forests Governance in Papus About Understing the Right of Indigenous People and Their Dependency to Natural Resources

  • All Are Wonderful

    You Will Get Good Scene That You May Not Able Somewhere Else - Only In PAPUA

  • Bitter Nut Is Papuan Favorit Gums

    Bitter Nut or In Papua We Call 'Pinang' Is The Local Gum You Can See In Every Corner of the Cities. Papuan People Love To Chewing It. Sometime People Consider It As Contact Material When You Travel to The Village

  • Papuan Traditional Conservation Practices

    For Centuries, Papuan Has Practicing Local Wisdom to Sustainaible Use of Natural Resources. They Have Traditional Education System to Teaching Them How To Interact With Human, Spiritual Power and Understanding The Words Of Nature

Tampilkan postingan dengan label Sampah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sampah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 April 2016

Inspiring Story: Baywatch “Pasir Putih” Manokwari


Broom stick, coconuts, inner tube and plastic carpets are the materials in the beach where we can easily know where the white sand (pasir putih) beach guardian is. ‘Decky Kadakolo’ is the man I meant. This Moi Man has moved and live in this place for more than 30 years together with his Mother which originally part of the Doreri tribe those who living and claim the rights over the coast city of Manokwari – West Papua Province of Indonesia. He is the important man behind the comfortable, clean and save of the beach.
Trash is remaining appears be the main problem of management of Pasir Putih as the mass tourism site in Manokwari. It come mostly from the bad garbage management in the city where people are mostly throw their trash in the main roads, small river and bank of the sea. When the rain comes, they are pushed down to the sea and then the wave took into the beaches. Garbage left by the tourist are also then come makes the beach are dirty. Here are the crucial parts of Decky and his groups contributions - spending hours every afternoon to clean the beach and burn the trash. He says “people in the city need wake up and aware that they have done a wrong thing. Together with the government they needs to create a good garbage managements so they not throwing them into the small river, main roads or sea”. People some time don’t aware that they enjoy the beach that covered by urban garbage. 


 
As one of the nearest, beautiful and long white sand beach in Manokwari, this place is always become the main choice of people in the city to spent a holiday, recreation and relaxing. Not less than 1000 peoples are coming to this beach every week. The beautiful sand and low cost are always become reasonable why Pasir Putih are always in the main list of the weekend holiday for young, kids and adults people in Manokwari. Face to face with Mansinam island and the scene of Arfak mountain from the distances are also coloring this beach when the sunny day. But as consequences to be the mass tourism place, making sure that the environment are well maintain, security and comfortable of the tourist are guaranteed should become the main priority to make sure people are enjoying the beach and all economic vehicles are run equally each other. Here are why the roles of Pasir Putih guardian are crucial.




“We believe that the best ways to make Pasir Putih remain the main choice of mass domestic tourism sites in Manokwari is by keep it clean and comfortable for everyone” Decky added. Even though officially the beach has been bought by the government for public facilities but it hasn’t yet well managed. The problems in land tenure claims and un-clear benefit sharing has driven to not clear management of this tourism site. The government has built a good facilities and small houses for trading but it still not occupied. Decky said that the determined renting price is high so they can’t pay for it. The problem of Pasir Putih management are more complicated in the fact that no management unit for the business governance within an institution that having a concrete management agenda on ecological and social business perspective. Every year there is a chance of funding and physical supports that the government provided but it still not well managed. Decky and his colleague are often collecting money from the parking services. Some tourist are often complaining but they said this is the way to keeps the beach clean after visiting hours. The money they collected are using to paying people time in cleaning the beach from the remaining trash in the sand.


Rabu, 23 Maret 2016

Alarm....... Manokwari Darurat Sampah.................

"Menjaga kebersihan dan kepedulian terhadap lingkungan selalu mudah dimasukan menjadi slogan dalam gaung megah-nya program pembangunan, tetapi tidak mudah untuk di implementasikan ternyata. Kira-kira kapan kita akan betul-betul sadar akan pentingnya menjaga lingkungan yang bersih?"

Sore itu hujan tidak terlalu deras, mendung kabut dan jalanan agak padat di Kota Manokwari - Papua Barat dengan hiruk pikuk lalu lalang kendaraan. Perjalanan saya dari Amban yang tadinya akan menuju Cafe Calais di Jalan Borobudur pun kemudian berubahan menjadi sebuah perjalanan photo sore. Kali ini object yang menjadi perhatian saya adalah 'sampah'. Sampah dalam tulisan ini mengandung pengertian adalah material sisa dari manusia yang berbentuk padat umumnya didonimasi oleh limbah rumah tangga, bahan plastik dan material sisa berwujud padat lainnya. Yang material-material ini yang terus mengganggu indahnya kota Manokwari dan juga menggangu perjalanan saya hari ini. Saya pun memutuskan untuk terus melakukan perjalanan menuju pasar sanggeng yang setiap minggu-nya saya pun membuang sampah rumah tangga kami - itupun karena disitu ada bak sampah milik pemerintah yang kata-nya selalu rutin diantar ke TPA (tempat pembuangan akhir).

Singkat kata, singkat cerita, dalam photo session sore ini, saya mengabadikan potret-potret sedih kota Manokwari yang alam dan keindahannya betul-betul dikotori oleh masyarakatnya sendiri. Jejeran sampah yang saya potret mulai dari jalan Makalo-Amban, Makalo - Sanggeng sampai dengan Pasar Wosi dan Pantai di Pasar wosi merupakan potret lingkungan yang kotor akibat ketidakpedulian kita terhadap nilai keindahan dan kesehatan lingkungan yang kita tinggali. Ya.... Lihat saja photo pertama ini yang merupakan potrets yang saya ambil di Sungai kecil yang melintas dari dalam SMP N 3 menuju Borobudur, bagaimana tumpukan sampah botoh, sampah rumah tangga dan sampah-sampah padat lainnya sudah mencemari sungai dan menutup arus aliran airnya.
Gambar 1. Tumpukan sampah di Kali Kecil dekat jl. Borobudur Manokwari.

Menariknya sebagian besar dari penduduk disekitar sungai ini masih menggantungkan kebutuhan air bersih untuk masak, mencuci dan mandi dari sumur-sumur bor/galian yang sudah bisa kita bayangkan kira-kira gimana kualitas airnya apabila aliran permukaannya sudah kotor seperti ini?

Saya pun melanjukan perjalanan saya menuju Pasar Sanggeng. Ya, yang saya sini salah satu lokasi yang selalu menjadi tempat buangan akhir, karena ada bak sampah disitu. Saya pun sejak akhir tahun 2014 selalu membuang sampai di tempat ini. Sebelumnya jujur saya pun buang sampah-nya di bak-bak umum bahkan pernah dengan sangat merasa berdosa harus membuangnya ke Jalan malam-malam. Ya, itu harus dilakukan dari pada sampah menumpuk dirumah makin membuat saya dan keluarga terganggu kesehatanya.

Sanggeng juga adalah pasar yang menjual sayuran segar, ikan dan kebutuhan pokok lainnya untuk penduduk kota manokwari. Bersama dengan pasar wosi, keberadaannya sangat memegang kendali utama perekonomian masyarakat lokal di Manokwari. Tetapi nampaknya pengaruh-nya secara ekonomi tersebut juga membuat tempat ini menjadi lumbung pembuangan sampah. Lihat saja gambar 2 dibawah ini, Tampilan selokan besar disamping pasar sanggeng yang harus-nya bersih karena saluran buangan air menuju laut, tetapi sekarang pemandangan kumuh dan kotor-nya sangat menggagu dan sangat mengganggu mud berbelanja sayuran segera yang dijual mama-mama di pasar sanggeng, Uniknya sepanjang saluran ini berjejer ratusan bangunan megah yang kalau dilihat saluran pembuangannya juga menuju ke selokan ini. Coba lihat gambar 3 dibawah.

Gambar 2, Tumpukan sampah di saluran sungai-selokan samping Pasar Sanggeng

Gambar 3. Saluran air di samping pasar Sanggeng. Tampilan satu bak sampah yang di Pasar Sanggeng
Sedih bukan? Ketidakpedulian yang disengaja, entah apa yang sebenarnya dipikirkan orang pemerintah bersama warga tentang sampah, Sudah jelas-jelas ini persoalan serius, tetapi masih tetap diabaikan. Pasar, jalan, saluran air dan laut yang seharusnya menjadi tempat-tempat penting bagi publik berubah menjadi tempat pembuangan sampah yang tidak dikelola dan dibiarkan menjadi kotoran dan sumber penyakit.

Laut sudah pasti menjadi perhatian saya yang lain. Mulai dari penampakan pantai pasar Wosi sampai dampaknya ke Pantai Pasir Putih yang setiap minggu-nya menjadi pilihan utama masyarakat manokwari untuk berlibur, rekreasi, bercengkrama dengan keluaga melepas penat-nya kesibukan pekerjaan. Laut yang juga mensupply protein bagi kita pun ikut tercemar berbagai bentuk sampah yang dibuang. Lihat saja gambar 4 dan 5 dibawah. Gambar 4 adalah potret kotor pantai di pasar Wosi, sedangkan gambar 5 adalah potret pilu pantai pasir putih yang selalu menerima dampak dari kotor dan buruknya rasa empati terhadap lingkungan dengan membuang sampah disembarang tempat.

Gambar 4. Pantai pasar wosi yang indah sebelumnya, berubah menjadi gudang sampah yang kemudian dibawa obak ke laut dan mengotori laut.

Gambar 5. Serakan sampah di pantai pasir putih yang dibawa ombak dari pembuangan di kota.

Kira-kira bagaimana Manokwari bisa keluar dari persoalan ini? Bagaiman agar tugu Adipura yang baru saja selesai pembangunannya didepan Kantor Kejaksaan Tinggi Manokwari - Polda Papua Barat itu bisa benar-benar layak berdiri sebagai wujud penghargaan terhadap upaya manokwari menjaga kebersihan kota-nya? Siapa yang harus bertanggung jawab terhadap urusan sampah ini? Bagaimana warga juga bisa berkontribusi dalam menjaga kebersihan kota Manokwari? Apa saja sich kendala-kendala sehingga pengelolaan sampah tidak bagus-bagus juga? Mau sampai kapan sech persoalan-persoalan ini dibiarkan? Haruskah sampai ditemukan kasus besar dan masal akibat sampah baru kita sadar dan menyesalinya? Saya kira pertanyaan-pertanyaan ini bersama dengan pertanyaan lain yang mungkin muncul dikepala2 kita adalah pertanyaan penting yang harus dijawab untuk membangun Manokwari menjadi kota sehat melengkapi gaung-nya sebagai Kota Injil,