My Ideas and Stories About PAPUA

Making the rich and beautiful resources in Papua become the social economic strength for Papuan has become the long home works. Many people believe that the early start to find the answer is by understanding how Papua looks like, their communities and their special strength. And it can be realize by directly in touch with them. This blogs provides you chance to touch and gets insight ideas, trends and stories about Papua.
  • Stories About Beautiful Papua

    Every Single Place In Papua Have Its Stories To Be Shared To Build Other People Understanding About This Island

  • The Last Frotier Primary Forests

    With 42 Million ha of forests, Papua play crucial rules in Indonensia forests development targets.

  • Women and Natural Resources

    Forests or land right are not only about Man. So understanding the roles women and the impact of forests changes to women are also crucial

  • Our Traditional Value

    Papuan Community Have Been Living for Centuries with Their Knowledge and Wisdom in Managing Natural Resources and Practice Best Conservation

  • For Papuan Generation

    Every Works We Do Now Must Be Dedicated To The Future Papuan Generation

  • Dependency to Forests Resources

    Practicing Good Forests Governance in Papus About Understing the Right of Indigenous People and Their Dependency to Natural Resources

  • All Are Wonderful

    You Will Get Good Scene That You May Not Able Somewhere Else - Only In PAPUA

  • Bitter Nut Is Papuan Favorit Gums

    Bitter Nut or In Papua We Call 'Pinang' Is The Local Gum You Can See In Every Corner of the Cities. Papuan People Love To Chewing It. Sometime People Consider It As Contact Material When You Travel to The Village

  • Papuan Traditional Conservation Practices

    For Centuries, Papuan Has Practicing Local Wisdom to Sustainaible Use of Natural Resources. They Have Traditional Education System to Teaching Them How To Interact With Human, Spiritual Power and Understanding The Words Of Nature

Tampilkan postingan dengan label Manokwari. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Manokwari. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 Maret 2017

Ekonomi Papua: Bagaimana Meningkatkan Akses Pasar Produk Perikanan Laut?

Sore ini, tampak berjejer perahu motor fiber dengan palka berkapasitas antara 1 - 3 ton ikan disepanjang pantai pasar ikan Sanggeng Manokwari, Papua Barat. Beberapa nelayan diatasnya sedang sibuk memindahkan hasil tangkapannya untuk kemudian langsung di bawa untuk dijual. La Jumat seorang nelayan tuna mengatakan "ini hasil pancingan semalam, hampir 2 ton kita dapat. Satu palka begini (red: ukuran 1m x 55 cm) bisa kita isi ikan sampai 200 ekor hanya dalam 1 malam" sambil menunjukan kearah palka berwarna biru tempat dia menaruh ikannya. Perahunnya memiliki panjang kurang lebih 9 m dengan lebar 55 cm dan digerakan oleh motor tempet berkapasitas 40 pk, tampak 2 unit motor tempel melekat dibelakang perahu yang sedikit dibuat rumah sebagai tutupnya. "Kami hanya fokus mencari tuna saja, sedangkan yang lain ada yang mencari ikan kakap, kerapu atau jenis ikan lema yang kecil-kecil" terang la jumat sambil menunjukan ke arah perahu yang lain yang kebetulan sedang membongkar muatannya. Di atas pelabuhan tempat parkir perahunya tampak para penadah dan penjual sudah menunggu dengan memegang uang untuk langsung dibeli secara tunai hasil tangkapan dari perahu bapak La Jumat. Secara total dengan hitungan kasar, hari ini La Jumat memegang uang cash sekitar 10 juta rupiah karena ikan yang didapat-nya kali ini dijual dengan harga 35 - 50 ribu rupiah per ekor tergantung ukuran besar kecilnya. Ikan yang ditangkapnya pun antara 700 gram sampai berat > 10 kg untuk tuna yang besar. La Jumat adalah satu dari puluhan nelayan yang setiap harinya mengantarkan ikan untuk di jual ke pasar sanggeng.

Di dalam Gedung utama tempat penjualan ikan suasana pasar yang riuh dan ramai dengan proses tawar-menawar dan transaksi ekonomi yang terjadi. "ekor-kuning.... ikan merah.... gurapu... julung.... cumi-cumi.... " terdengar suara para penjual berusaha memikat para pembeli yang sore ini, karena cuaca cukup cerah jumlahnya banyak dan mebuat padat pasar. Luther seorang pedagang asli Papua adalah salah satu dari pedagang di pasar induk sanggeng. Lelaki muda yang umurnya masih sekitar 30 tahun ini keseharian/pekerjaan utamanya adalah pedagang ikan. "ikan jenis kerapu, lalosi ekor kuning atau kakap merah kalau mau cari yang segar, harus datang hari jumat atau sabtu, kerena ketong pu nelayan baru datang dari laut" jelasnya. "Ikan banyak, tetapi pembeli kurang, makannya kita siapkan box-box es dan tempat penyimpanan seperti dibelakang sana untuk tetap memastikan ikan tidak rusak dan bisa dijual lagi besok paginya. Tapi tidak tahan lama dan harus segera dijual atau dimakan karena kita tidak mau tahan ikan lama-lama" Luther kembali menjelaskan bagaimana mereka berjualan. Hampir semua pedagang di pasar induk sanggeng memiliki freezer atau box es untuk tetap menjaga kualitas ikan dan box-box ini berjejer rapi memadati gudang penampungan yang sudah dibangun oleh pemerintah. Luther setiap harinya menjual jenis-jenis ikan seperti kakap, kerapuh dan bubara yang memiliki kandungan protein tinggi dan nilai pasar yang tinggi pula. Sampai sore menjelang malam pasar mulai sepi tampak sebagian pedagang yang tidak habis dagangan ikannya mengemas ikan untuk segera disimpan di dalam pendingin. Kira-kira hampir 30% dari total ikan yang dijual dibawa kembali untuk disimpan dan dijual pada hari berikutnya. Ada beberapa yang beruntung dagangannya habis tentunya.

Bapak Rumadas dari Dinas perikanan Kabupaten Manokwari pada saat ditemui mengatakan bahwa prospek usaha perikanan di Manokwari khususnya dan Papua Barat secara keseluruhan masih sangat tinggi tetapi pemasaran masih menjadi kendala utama mengapa belum signifikan kontribusi sektor perikanan terhadap pendapatan daerah. "Kalau ada pasar yang menguntungkan dan mendekat langsung dengan masyarakat pastinya akan mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat" terangnya. Pilihan pasar yang dominan hanya didalam Manokwari sejauh ini atau pasar lokal sebenarnya tidak seimbang dengan jumlah tangkapan yang dilakukan masyarakat. Sehingga faktor ini mempengaruhi masyarakat untuk tidak mengumpulkan dalam jumlah yang banyak karena kekhawatiran tidak terjual semua. Menghitung bagaimana jumlah hasil tangkapan dari puluhan nelayan di Kabupaten Manokwari setiap harinya sudah pasti akan membawa kita pada pertanyaan bagaimana seharusnya penatausahaan hasil perikanan laut dilakukan? Penyediaan pilihan pasar seperti apa yang harus dihadirkan untuk memastikan orang-orang seperti La Jumat dan Luther mendapatkan manfaat lebih dari usahanya sekaligus bagaimana mereka bisa berkontirbusi pada pertumbuhan ekonomi daerah?

Potensi Tinggi, Belum Optimal dikelola, Minim Pasar

Papua dengan laut yang luas dan belum banyak terkontaminasi sudah pasti menjadi rumah ternyaman bagi berbagai jenis ikan. Raja Ampat misalnya sebagai salah satu yang terkenal parairan dan pulaunya berdasarkan hasil riset CI dan TNC tercatan > 450 jenis ikan karang, semua tipe jenis ikan tuna dan ribuan biota laut yang nilai ekonomi tinggi bisa ditemukan ini. Sebagai bagian dari coral triangle area, sekitar 70% dari total spesies ikan dunia ada disini. Inilah kenapa kemudian kepulauan Raja Ampat saat ini mendunia dan menjadi satu pilihan destinasi wisata exclusive bagi para pencinta laut. Kebanggan laut Papua Barat masih terus harum dengan nama-nama besar seperti PT. Usaha Mina di Kota Sorong dengan hasil tuna-nya serta PT. Wimbrow di Kabupaten Teluk Bintuni dan PT. Avona di Kaimana dengan produksi udangnya. Tidak tangung-tanggung; PT Usaha Mina misalnya menangkap dan mengirimkan > 400 ton ikan tuna pada tahun 2013 dengan laba bersih mencapai Rp. 17 miliar.

Pengembangan sektor perikanan laut pada berbagai pilihan kelas produksi dan pasar belum dilakukan secara baik. Kecenderungan untuk tetap memberikan pasar dikontrol bebas dan urusan outreach market diluar daerah menjadi tanggung jawab masing-masing orang atau kepada siapa yang membaca peluang tanpa campur tangan serius pemerintah kelihatan menjebak progress pembangunan industri perikanan yang maju. Cerita bagaimana nelayan dan para pedagang di pasar sanggeng harus menyimpan ikannya kembali karena tidak habis terjual adalah persoalan krusial di sektor perikanan yang harus direspon. Mendapatkan nilai tambah ekonomi, pendapatan daerah dan penigkatan penghasilan masyarakat adalah ketika pertumbuhan pasar dan intensitas jual beli/transaksi pasar terjadi bukan hanya inter wilayah atau lokal tetapi juga intra wilayah. Mendekatkan pasar dan menghadirkan pilihan pasar produk perikanan kepada masyarakat adalah langkah yang perlu dilakukan untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi kerakyatan Papua dari sektor perikanan. Bagaimana kemudian ikan Kakap, Kerapu, Bubara dan Tuna yang di pasar-pasar di Jakarta, Surabaya bahkan pasar luar adalah ikan-ikan yang mahal tetapi masih menjadi buruan konsummen perlu dicermati dan ditindaklanjuti serius untuk meningkatkan pemanfaatan hasil laut yang lebih besar dan bermanfaat bagi masyarakat dan daerah.

Perikanan menjadi bagaian dari satu sektor ekonomi "primitif" yang mana lebih dari 30% penduduk asli Papua bergantung pada-nya. Potret pasar sanggeng Manokwari sebagai satu contoh dimana jumlah pedagang dan nelayan Papua yang melebihi 50% dan bagaimana pertukaran dan transaksi ekonomi yang terjadi bisa mencapai puluhan juta rupiah dalam sehari adalah titik penting membangun ekonomi Papua dari sektor perikanan dengan melihat pada kekuatan dan persoalan yang harus respon.


Senin, 06 Februari 2017

GPS Venture, Aplikasi GPS Offline Terbaik Untuk Outdoor Tracking

Pada saat pertama kali menggunakan smartphone berbasis android, satu bagian bawaaan produk ini yang sangat saya sukai adalah GPS fiture-nya. Kita bisa menjumpai disetiap smartphone bahkan untuk smartphone yang murahanpun fitur GPS dengan kualitas A-GPS atau ditambahkan GLONASS bisa kita temukan didalam spec-nya. Tetapi kemudian karena awalnya sistem kerja smartphone yang saya pahami adalah menggunakan paket data dengan koneksi jaringan seluler/internet yang aktif maka saya selalu kaku dengan penggunaan bawaan aplikasi seperti google maps dan geo-tagging apabila mengambil photo objek tertentu yang ingin kita rekam juga posisi geografisnya. Sampai kemudian muncul pertanyaan pada saat beberapa diskusi saya dengan teman-teman penggiat pemetaan sebut saja Bang Martin Hardiono. Berawal dari diskusi ini dengan mengoptimalkan canggih-nya om google, saya kemudian mencari "android application for offline GPS tracking". Hasilnya pun banyak rekomendasi ternyata dari om Google, seperti GPS tracker, Map Factor, Maverick GPS Navigation, Maps Me, dll. Saya pun kemudian mempertimbangkan lebih jauh: (1) ukuran dan fitur yang ditawarkan, (2) operasi-nya yang sederhana, (3) akurasi pengambilan data walaupun sudah pasti jauh dari GPS navigasi bahkan GPS Geodetik, (4) kestabilan perekaman data geografis dan (5) format penyimpanan data yang bisa dikonvert untuk dikemudian dikelola dengan software GIS seperti Arc GIS dan QGIS yang saya gunakan. Pilihan itupun kemudian jatuh pada applikasi GPS Venture.

Applikasi GPS venture dibandingkan dengan applikasi GPS offline lainnya ukurannya sangat kecil hanya 1,9 MB dan pada saat terinstal penggunaan memori hanya maximum 8MB tergantung photo yang kita ambil pada saat perekaman tracking. Applikasi ini bisa kita download langsung dari play store google, ini link-nya: https://play.google.com/store/apps/details?id=com.ventureGPSFree yang didalam situ-nya disebutkan pengembangnya adalah David Vuco. System yang dikembangkan dalam GPS venture mencakup beberapa fitur sederhana dari perangkat GPS yang selalu digunakan para navigator, mapper dengan perangkat seperti GPS Navigasi produksi Garmin atau Oregon yaitu: (1) merekam titik, (2) merekam rute perjalanan, (3) merekam gambar lokasi titik dengan geo-tagging informasi, (4) menerima dan mengirimkan sms berisi informasi lokasi kita, (5) overlay atau menunjukan lokasi dan rute pada peta google atau peta opensource lain dan (6) navigasi mencari lokasi tertentu. Beberapa vitur didalamnya juga membantu untuk melihat elevasi dan tampilan 3D lokasi kita. Hasil rekaman, titik lokasi, rute dan wilayah disimpan dalam format data KML yang bisa kita simpan didalam SD Card atau langsung kita email untuk kebutuhan-kebutuhan sharing informasi lokasi yang urgent. Data KML ini kemudian bisa dibuka di perangkat GIS untuk di transfer kedalam format shp (shapefile) yang compatibel dengan operasi-operasi data vektor GIS.  

Sejak 2015 saya mulai menggunakan applikasi ini didalam smartphone saya yang lama yaitu Caterpillar B15 dan kemudian saya menginstalnya kembali pada smart phone saya yang sekarang Advan D50S. Sampai sejauh ini applikasinya berjalan dengan baik dan membantu kebutuhan outdoor saya. Beberapa hasil rekaman dan olahan data spasial dengan sofware QGIS (open sources) sudah saya lakukan untuk tujuan uji alat seperti: trip saya ke Gunung Meja di Manokwari Papua Barat, trip didalam kota Kaimana dan trip saya dari Kasonaweja mengikuti sungai mamberamo sejauh hampir 164 KM by boat menuju Kampung Papasena di hulu sungai Mamberamo. Hasilnya cukup baik dan membantu untuk merekam jejak perjalanan dan delinasi wilayah, perekaman rute dan titik dari wilayah kunjungan saya. Secara spasial dan geografis fitur-fitur dengan fungsi-fungsi yang disediakan secara default didalam applikasi GPS Venture sangat membantu kenyamanan operasi teknis delineasi tentang kawasan dan lokasi yang dikunjungi, melihat jarak tempuh dan elevasi dari lokasi tersebut. Pengoperasiannya yang mudah karena sebagian besar fitur dan fungsi disajikan secara sederhana juga mendukung pengguna pemula untuk cepat menguasai pengoperasian applikasi ini. Kemampuan operasinya secara offline tanpa harus terkoneksi dengan sambungan paket data internet adalah keunggulan tersendiri pastinya dimana dapat digunakan di hutan, padang rumput, pulau atau wilayah outdoor lain diluar jangkauan cellphone signal untuk merekam titik dengan mengoptimalkan A-GPS yang ada di smart phone kita dan sudah terbukti. Akurasi tentu menjadi kelemahan. Saya sendiri belum melakukan uji untuk melihat berapa besar error atau kesalahan perekaman dari titik sebenarnya karena tidak memiliki GPS Geodetic atau GPC-GCP pada wilayah yang saya kunjungi untuk melakukan analisis perbandingan atau uji kesalahan titik. Tetapi untuk melihat tingkat kepercayaan terhadap data geografis yang terekam, saya melakukan uji sederhana dengan meng-overlay data-data hasil perekaman dengan GPS Venture dengan smart phone saya dengan google maps dan peta dasar yang tentang jaringan sungai dan jalan milik pemerintah. Hasil yang temui adalah kesalahan perekaman rata-rata antara 1 - 2 m (tidak besar) dari peta dasar yang ada. 

Fiturnya dengan size kecil dan ukurannya operasinya yang relatif menyerap data yang kecil secara terbukti cukup efisien untuk penghematan daya baterai pada saat kita melakukan tracking atau field trip. Pengalaman saya, untuk baterai berkapasitas 2000 - 3200 mAh, masa aktif dan operasi smartphone kita dengan kondisi offline selama 13 jam itupun ditambah dengan pemutar lagu MP3. Tentu dengan kapasitas yang ada, GPS ini adalah teman yang baik untuk tracking dan kegiatan pemetaan sederhana untuk memberikan informasi tematik dan lokasi/rute/area tertentu yang kita ingin orang lain ketahui. Sebagai GPS yang bekerja dengan kualitas GPS yang kecil sudah pasti kekurangan terbesar dari applikasi ini ada di akurasi sebagaimana yang saya deskripsikan diatas. Dengan fitur yang terbatas pastinya untuk kebutuhan-kebutuhan seperti fishing atau hiking pada kondisi yang extreme GPS ini tidak banyak membantu, tetapi bisa dikombinasikan dengan applikasi lain yang membantu seperti altimeter, thermometer, compass offline dan fitur pengukur cuaca lain yang saat ini tersedia secara banyak dan bebas di google play store. 
Saya merekomendasikan applikasi ini untuk digunakan bagi para pencinta outdoor terutama untuk pekerjaan mapping cepat sebuah area, merekam titik dengan geo-tagging dan merekam jejak perjalanan yang kita lakukan pada misi tertentu. Fiturnya yang sederhanya dengan pengoperasian yang sangat mudah sudah pasti memberikan kelebihan tersendiri bagi applikasi ini. Saya berharap bisa menyediakan modul singkat penggunaan applikasi ini, tetapi sebenarnya secara cepat kita bisa mengoperasikankan dengan butuh waktu 1 hari saja belajar sekalipun sebagai pemula. Silahkah mencoba dan semoga bermanfaat. 

Kamis, 26 Mei 2016

Alarm....... Manokwari Darurat Sampah..... (Edisi Asap)......

Dalam postingan sebelumnya saya menghighlight bagaimana sampah menjadi perusak tampilan kota Manokwari terutama di jalan-jalan, parit, pasar, sungai bahkan laut. Kali ini edisi postingan saya menyajikan cerita sore yang saya tangkap masih tentang sampah tetapi dari sisi implikasi dari buruk tata kelola, penampungan dan pengelolaan sampah di kota Manokwari. Ya.... yang saya maksudkan adalah pilihan warga kota manokwari untuk membakar sampah dilingkungan mereka ketimbang ditampung dan dibuang ke TPS (tempat penampungan sampah sementara) atau TPA (tempat pembuangan akhir) yang sudah disediakan. Maklum TPA dann TPS sendiri tidak juga ditata dengan baik dan management pengelolaannya sepertinya juga buruk.
Photo: pembakaran sampah rumput di pinggir jalan. by: Yunus Y
Sore ini saya berkeliling kota Manokwari dan mencoba menghitung berapa banyak jumlah titik pembakaran sampah. Cukup mencengangkan angkanya, titik api sore ini mencapai lebih dari 123 titik bakaran dengan variasi pembakaran sampah yang berbeda-beda. Angka ini tentu secara akumulasi bisa lebih besar karena saya baru hanya berkeliling wilayah kota dan belum menjangkau tempat pinggiran seperti pasir putih, amban pantai bahwa sowi dan arfai. Ada yang saya temukan membakar sampah plastik, ada yang membakar sisa dampur berupa bahan organik, ada yang membakar sampah berupa sisa rumput dan ada pula yang membakar sampah bekas ban/karet. Kira-kira apa dampak langsungnya ya? Sudah pasti kualitas udara yang sangat kotor sebagai akibat dari akumulasi gas dan asap kotor yang dilepas keudara selama proses pembakaran. Saya pun berpikir dan bertanya kira-kira Manokwari dengan kota yang dikerumuni pepopohon masih cukup sehatkah apabila yang dihirup disore hari adalah udara kotor dari asap buangan pembakaran sampah? Bagaimana kualitas kesehatan kita kira-kira?

Di tengah ketidaksadaran semua pihak terhadap sampah dan dampaknya serta makin menumpuknya jumlah sampah dan tingginya pembakaran yang dilakukan pemerintah sendiri cenderung belum beraksi banyak. Indeks kualitas udara saja tidak kelihatan dan tidak terpasang sehingga kita masyarakat sendiri tidak sadar apakah udara yang mereka hirup di kota setiap sore adalah udara bersih atau udara yang sebenarnya sudah tidak sehat? Implikasi dari asap terhadap masalah pernapasan mungkin belum diketahui angkanya tetapi dugaan saya angkanya cukup besar dengan cara masyarakat membakar sampah yang mereka punya - mungkin menarik untuk mengetahui catatan dari puskesmas atau rumah sakit yang ada di manokwari tentang jumlah pasien penderita penyakit pernafasan.

.........Manokwari darurat sampah, Manokwari darurat asap pembakaran sampah........ adalah pesan kritis yang saya temukan sore ini. Melakukan evaluasi dan perubahan total terhadap tata kelola pengelolaan sampah di kota Injil menjadi kebutuhan tindakan emergency yang harus dilakukan oleh pemerintah daerah merespon situasi yang sudah darurat ini. Selain pemerintah, masyarakat juga perlu secara sadar melihat pentingnya pemeliharaan lingkungan hidup, mengumpulkan sampah dan mengurangi pembakaran.



Minggu, 08 Mei 2016

Gunung Meja - The Forgotten Forests Park in the City Manokwari

The silent un-managed beauty forests park would be the sentence I conclude after this holiday trips in Gunung Meja. Gunung Meja or in English we could say “table-mountain” is a designated public forests park in the city of Manokwari through ministry of forestry decree in 2012 cover an areas of 462,16 ha. Lays in the 100 - 210 m above sea level the park provides the beautiful spot to enjoy all the city and landscape of Manokwari that mostly developed bellow it. As a forests it is the home of different types of trees, epiphytes, birds, orchids and insects. We could easily found beautiful butterfly, wild flowers and orchids along the park that for me is the place to taking a walks in the hot sunny days. Tree canopy covers creates cool fresh air that people always feel in the primary untouched forests. But yes it is not well managed so many the facilities have broken and more sadly is the park is also become an alternative garbage spots for the people around the park.
Explored the history the park actually has exist since Dutch colony, Bosh Reselve Tuffelberg[1] is the early given names back in 1950 when it was designated as protection forests because of its crucial hydrology function as the water catchment areas. Then having several legally designation changes by Indonesia Government since 1963, 1980 and 2012 as Taman Hutan Rakyat (public forests parks) and be legally supervised by ministry of forestry through conservation management body at provinces level. In 1980 the name was changed into natural tourism park (Taman Wisata Alam/TWA), which designed as one of the recreation spot in the city that would also increase city income from tourism.

Major problem I saw is there’s no clear management unit with its duties that managed the park even though the legal decree has in place. It implicates to the situation where: (1) all the building are completely broken, (2) trash everywhere, (3) broken roads, (4) no sign, (5) no toilet, (6) no clear regulation, forbidden or any other action to control the areas, (7) no guards that collecting enter fee, (8) no walking track, (9) no wall that protects the park with its buffers area and (10) not clear who own the park.

Despite of its complex management problems, from what I found in this park the complete picture of steady forests, is working function on climates/temperature regulatory, hydrology functions and the home of high threaten biodiversity in city. The waters that clean and fresh for example is flowing without stop even in the dry season. I met some students of UNIPA (I quest they are from Wamena-the central highland of Papua) in the stream while washing and taking a bath, there is medium size pipes that taking water to several houses in the borders of the parts. As I continued climbed the hill, I found carts rocks holding big trees above it and for me this is the great point to enjoy the city even though high canopy density. The diversity index is also high in term of tree species you can see in the park. Several high price timbers such Matoa (Pometia, sp) and Merbau (Instia, sp) can also easily be founded here. Moved to the northern part the robust stock of palm and pendants will welcome you with their long spicy green leave. Across the main roads beautiful wild flowers decorating the scene. And I think this made me confirmed the publication I got from Prof Charlie Heatubun et all (2008) about the diversity of flora and fauna in Gunung Meja. They said the parks has 101 species of timber species in almost dominated by Matoa family (Pometia Sp and has at least 15 species palm, bamboo and pandan. 


Having a clear management body with concrete action and duty in managing the parks seems like the only solution to revitalizing the existence of park while maintaining the major function on hydrology. Its requires a comprehensive attention, action and intervention to makes the parks is benefits. Built this spot is convenient fresh and beautiful forests park for public should be agreed on common consensus. Emerging question now is who should move first to mobilize other?  In this scenario I think Government should be in the frontline on powering all stakeholder to move on. Papua State University (UNIPA) with plenty of forestry, social, institutional and policy experts is the vital capital that the city has to help the government and they partners in make the expectation become a reality.

[1] Sources, Max Tokede.

Sabtu, 02 April 2016

Inspiring Story: Baywatch “Pasir Putih” Manokwari


Broom stick, coconuts, inner tube and plastic carpets are the materials in the beach where we can easily know where the white sand (pasir putih) beach guardian is. ‘Decky Kadakolo’ is the man I meant. This Moi Man has moved and live in this place for more than 30 years together with his Mother which originally part of the Doreri tribe those who living and claim the rights over the coast city of Manokwari – West Papua Province of Indonesia. He is the important man behind the comfortable, clean and save of the beach.
Trash is remaining appears be the main problem of management of Pasir Putih as the mass tourism site in Manokwari. It come mostly from the bad garbage management in the city where people are mostly throw their trash in the main roads, small river and bank of the sea. When the rain comes, they are pushed down to the sea and then the wave took into the beaches. Garbage left by the tourist are also then come makes the beach are dirty. Here are the crucial parts of Decky and his groups contributions - spending hours every afternoon to clean the beach and burn the trash. He says “people in the city need wake up and aware that they have done a wrong thing. Together with the government they needs to create a good garbage managements so they not throwing them into the small river, main roads or sea”. People some time don’t aware that they enjoy the beach that covered by urban garbage. 


 
As one of the nearest, beautiful and long white sand beach in Manokwari, this place is always become the main choice of people in the city to spent a holiday, recreation and relaxing. Not less than 1000 peoples are coming to this beach every week. The beautiful sand and low cost are always become reasonable why Pasir Putih are always in the main list of the weekend holiday for young, kids and adults people in Manokwari. Face to face with Mansinam island and the scene of Arfak mountain from the distances are also coloring this beach when the sunny day. But as consequences to be the mass tourism place, making sure that the environment are well maintain, security and comfortable of the tourist are guaranteed should become the main priority to make sure people are enjoying the beach and all economic vehicles are run equally each other. Here are why the roles of Pasir Putih guardian are crucial.




“We believe that the best ways to make Pasir Putih remain the main choice of mass domestic tourism sites in Manokwari is by keep it clean and comfortable for everyone” Decky added. Even though officially the beach has been bought by the government for public facilities but it hasn’t yet well managed. The problems in land tenure claims and un-clear benefit sharing has driven to not clear management of this tourism site. The government has built a good facilities and small houses for trading but it still not occupied. Decky said that the determined renting price is high so they can’t pay for it. The problem of Pasir Putih management are more complicated in the fact that no management unit for the business governance within an institution that having a concrete management agenda on ecological and social business perspective. Every year there is a chance of funding and physical supports that the government provided but it still not well managed. Decky and his colleague are often collecting money from the parking services. Some tourist are often complaining but they said this is the way to keeps the beach clean after visiting hours. The money they collected are using to paying people time in cleaning the beach from the remaining trash in the sand.


Rabu, 23 Maret 2016

Alarm....... Manokwari Darurat Sampah.................

"Menjaga kebersihan dan kepedulian terhadap lingkungan selalu mudah dimasukan menjadi slogan dalam gaung megah-nya program pembangunan, tetapi tidak mudah untuk di implementasikan ternyata. Kira-kira kapan kita akan betul-betul sadar akan pentingnya menjaga lingkungan yang bersih?"

Sore itu hujan tidak terlalu deras, mendung kabut dan jalanan agak padat di Kota Manokwari - Papua Barat dengan hiruk pikuk lalu lalang kendaraan. Perjalanan saya dari Amban yang tadinya akan menuju Cafe Calais di Jalan Borobudur pun kemudian berubahan menjadi sebuah perjalanan photo sore. Kali ini object yang menjadi perhatian saya adalah 'sampah'. Sampah dalam tulisan ini mengandung pengertian adalah material sisa dari manusia yang berbentuk padat umumnya didonimasi oleh limbah rumah tangga, bahan plastik dan material sisa berwujud padat lainnya. Yang material-material ini yang terus mengganggu indahnya kota Manokwari dan juga menggangu perjalanan saya hari ini. Saya pun memutuskan untuk terus melakukan perjalanan menuju pasar sanggeng yang setiap minggu-nya saya pun membuang sampah rumah tangga kami - itupun karena disitu ada bak sampah milik pemerintah yang kata-nya selalu rutin diantar ke TPA (tempat pembuangan akhir).

Singkat kata, singkat cerita, dalam photo session sore ini, saya mengabadikan potret-potret sedih kota Manokwari yang alam dan keindahannya betul-betul dikotori oleh masyarakatnya sendiri. Jejeran sampah yang saya potret mulai dari jalan Makalo-Amban, Makalo - Sanggeng sampai dengan Pasar Wosi dan Pantai di Pasar wosi merupakan potret lingkungan yang kotor akibat ketidakpedulian kita terhadap nilai keindahan dan kesehatan lingkungan yang kita tinggali. Ya.... Lihat saja photo pertama ini yang merupakan potrets yang saya ambil di Sungai kecil yang melintas dari dalam SMP N 3 menuju Borobudur, bagaimana tumpukan sampah botoh, sampah rumah tangga dan sampah-sampah padat lainnya sudah mencemari sungai dan menutup arus aliran airnya.
Gambar 1. Tumpukan sampah di Kali Kecil dekat jl. Borobudur Manokwari.

Menariknya sebagian besar dari penduduk disekitar sungai ini masih menggantungkan kebutuhan air bersih untuk masak, mencuci dan mandi dari sumur-sumur bor/galian yang sudah bisa kita bayangkan kira-kira gimana kualitas airnya apabila aliran permukaannya sudah kotor seperti ini?

Saya pun melanjukan perjalanan saya menuju Pasar Sanggeng. Ya, yang saya sini salah satu lokasi yang selalu menjadi tempat buangan akhir, karena ada bak sampah disitu. Saya pun sejak akhir tahun 2014 selalu membuang sampai di tempat ini. Sebelumnya jujur saya pun buang sampah-nya di bak-bak umum bahkan pernah dengan sangat merasa berdosa harus membuangnya ke Jalan malam-malam. Ya, itu harus dilakukan dari pada sampah menumpuk dirumah makin membuat saya dan keluarga terganggu kesehatanya.

Sanggeng juga adalah pasar yang menjual sayuran segar, ikan dan kebutuhan pokok lainnya untuk penduduk kota manokwari. Bersama dengan pasar wosi, keberadaannya sangat memegang kendali utama perekonomian masyarakat lokal di Manokwari. Tetapi nampaknya pengaruh-nya secara ekonomi tersebut juga membuat tempat ini menjadi lumbung pembuangan sampah. Lihat saja gambar 2 dibawah ini, Tampilan selokan besar disamping pasar sanggeng yang harus-nya bersih karena saluran buangan air menuju laut, tetapi sekarang pemandangan kumuh dan kotor-nya sangat menggagu dan sangat mengganggu mud berbelanja sayuran segera yang dijual mama-mama di pasar sanggeng, Uniknya sepanjang saluran ini berjejer ratusan bangunan megah yang kalau dilihat saluran pembuangannya juga menuju ke selokan ini. Coba lihat gambar 3 dibawah.

Gambar 2, Tumpukan sampah di saluran sungai-selokan samping Pasar Sanggeng

Gambar 3. Saluran air di samping pasar Sanggeng. Tampilan satu bak sampah yang di Pasar Sanggeng
Sedih bukan? Ketidakpedulian yang disengaja, entah apa yang sebenarnya dipikirkan orang pemerintah bersama warga tentang sampah, Sudah jelas-jelas ini persoalan serius, tetapi masih tetap diabaikan. Pasar, jalan, saluran air dan laut yang seharusnya menjadi tempat-tempat penting bagi publik berubah menjadi tempat pembuangan sampah yang tidak dikelola dan dibiarkan menjadi kotoran dan sumber penyakit.

Laut sudah pasti menjadi perhatian saya yang lain. Mulai dari penampakan pantai pasar Wosi sampai dampaknya ke Pantai Pasir Putih yang setiap minggu-nya menjadi pilihan utama masyarakat manokwari untuk berlibur, rekreasi, bercengkrama dengan keluaga melepas penat-nya kesibukan pekerjaan. Laut yang juga mensupply protein bagi kita pun ikut tercemar berbagai bentuk sampah yang dibuang. Lihat saja gambar 4 dan 5 dibawah. Gambar 4 adalah potret kotor pantai di pasar Wosi, sedangkan gambar 5 adalah potret pilu pantai pasir putih yang selalu menerima dampak dari kotor dan buruknya rasa empati terhadap lingkungan dengan membuang sampah disembarang tempat.

Gambar 4. Pantai pasar wosi yang indah sebelumnya, berubah menjadi gudang sampah yang kemudian dibawa obak ke laut dan mengotori laut.

Gambar 5. Serakan sampah di pantai pasir putih yang dibawa ombak dari pembuangan di kota.

Kira-kira bagaimana Manokwari bisa keluar dari persoalan ini? Bagaiman agar tugu Adipura yang baru saja selesai pembangunannya didepan Kantor Kejaksaan Tinggi Manokwari - Polda Papua Barat itu bisa benar-benar layak berdiri sebagai wujud penghargaan terhadap upaya manokwari menjaga kebersihan kota-nya? Siapa yang harus bertanggung jawab terhadap urusan sampah ini? Bagaimana warga juga bisa berkontribusi dalam menjaga kebersihan kota Manokwari? Apa saja sich kendala-kendala sehingga pengelolaan sampah tidak bagus-bagus juga? Mau sampai kapan sech persoalan-persoalan ini dibiarkan? Haruskah sampai ditemukan kasus besar dan masal akibat sampah baru kita sadar dan menyesalinya? Saya kira pertanyaan-pertanyaan ini bersama dengan pertanyaan lain yang mungkin muncul dikepala2 kita adalah pertanyaan penting yang harus dijawab untuk membangun Manokwari menjadi kota sehat melengkapi gaung-nya sebagai Kota Injil,