Terobosan baru teknologi penginderaan jauh terus berkembang dewasa ini. Apabila pada tahun 1900 - 1970an penggunaan pesawat terbang adalah pilihat utama untuk aerial photograph atau foto udata, yang kemudian berkembang dengan refolusi teknologi satelite atau
satellite image yang muncul tahun 1970an dan masih terus berkembang sampai sekarang, kini muncul lagi teknologi baru yaitu drone atau pesawat tanpa awak. Oleh beberapa pihak Drone dinilai mampu menjawab kebutuhan data spatial beresolusi tinggi secara real time dan kapan saja dibutuhkan.
Drone pada posisi sedang terbang di udara. Sumber photo: http://www.cityofslt.us/images/pages/N859/Drone.jpg
Tentunya perkembangan ini menjeadi info bahagia bagi penggiat pemetaan partisipatis seperti Samdhana Institute, JKPP, AMAN dan Kolega untuk mempercepat target-target pemetaan wilayah adat di Indonesia. Apabila sebelumnya untuk mengadakan citra satelite dengan resolusi spatial yang tinggi membutuhkan nilai uang yang besar dengan drone dinilai mampu menjawab kegalauan tersebut. Rasa penasaran ini kemudian coba untuk diuji di Biak. Samdhana Institute memfasilitasi 3 penggiat dan pengembang drone rakyat yaitu Irendra Rajdwali (Radja), Aries Sugiri (Aris) dan Arif untuk membawa Drone yang dikembangkan untuk di ujicobakan. Wilayah Baik dipilih karena kebetulan menjadi site prioritas intervensi Samdhana untuk kegiatan 'pengelolaan hutan bersama masyarakat adat didalam ruang lingkup KPH'. Kegiatan uji coba pun dilaksanakan di beberapa titik yaitu halaman hotel Asana - Biak, depan Kantor KPHL Biak Numfor dan Kampung Makmakerbo - District Biak Timur.
Misi menerbangkan Drone tidak berjalan mulus, karena selain kesalahan Aries mengatur setting auto/manual di telemetri control drone yang menyebabkan drone terbang dan tidak kembali juga ada faktor alam yang mengganggu stablitas drone di wilayah biak Timur - di indikasi karena gangguan medan magnet. Tetapi beberapa photo dan video yang direkam dan diskusi yang dibangun dengan semua tim Samdhana dan mitra KPHL Biak Numfor, banyak catatan penting yang mnejadi perhatian dan refleksi untuk memutuskan bagaimana langkah yang tepat menggunakan drone untuk menjawab kebutuhan percepatan pemetaan wilayah adat di Papua?
Catatan berikut merupakan catatan awal yang coba saya kembangkan pasca test drone di Baik pada bulan Juni 2014. Selain berdasarkan pengamatan dan penilaian dari alat yang diterbangan, catatan ini juga saya kembangkan berdasarkan diskusi dengan semua teman-teman penggiat drone termasuk Martin Hardiono yang selama ini aktif mendukung kerja-kerja pemetaan wilayah adat yang didanai Samdhana Institute di Papua
"Dengan kemampuan terbang, kapasitas alat dan kemampuan
merekam yang ada, tentu Drone sangat membantu pekerjaan pemetaan, tetapi bukan
menjadi jawaban untuk menyelesaikan pekerjaan pemetaan secara keseluruhan.
Khusus untuk Papua dengen wilayah adat yang luas, topografi yang cukup berat
batasan penggunaan drone perlu dipertimbangkan".
Kutipan diatas adalah satu kalimat yang coba saya formulasikan setelah melihat, berdiskusi dan mengenal awal Drone ini. Tentu pikiran diatas muncul karena mencoba untuk melihat jauh keunggulan dan kelemahan drone berdasarkan perkembangan saat ini.
Keunggulan penggunaan drone:
- Resolusi spasial yang baik, perekaman object yang
jelas. Dan kemampuan menampilkan object dalam bentuk 3D.
- Pengaturan tinggi terbang bisa disesuaikan
berbasis kebutuhan pengguna untuk kejelasan perekaman objeknya
- Gambar spatial yang dihasilkan diperoleh tanpa
harus ada koneksi internet untuk mendownload data dan informasi citra slave
dari services provider yang ada atau melalui proses pemesanaan dengan biaya
yang kenakan per unit luas tertentu.
- Data
spatialnya bisa dioleh secara cepat setelah aplikasi terbang dilakukan. Dan
juga compatible apabila di kelola dengan softfare-software GIS.
Kelemahan penggunaan drone:
- Jangkauan terbang yang terbatas dengan coverage area yang juga terbatas mengikuti kemampuan pesawat. Dalam kasus Biak, Radja cs menyampaikan bahwa beberapa drone yang sedang dirakit optimal coverage-nya adalah 500 - 1000 ha dalam 1 misi 3 - 4 hari.
- Keterbatasan pesawat dan teknis. Saat ini memang faktor alat dan tenaga masih menjadi kendala. Setidaknya butuh uang sekitar 15 - 20 juta rupiah untuk mengembangkan drone rakyat dan semua onderdilnya.
- Stabilitas, akurasi geografis dan pengaruh alam. Pada beberapa lokasi drone mengalami keterbatasan karena tidak secara akurat merekam lokasi, atau mengalami gagal baca GPS karena faktor medan magnet dll.
- Batery yang terbatas, max 1 jam terbang. Artinya untuk satu hari kerja butuh cadangan baterai yang banyak untuk mengantisipasi terbatasnya stock ditengah kebuuthan pekerjaan yang besar.
- Resiko kehilangan alat tinggi baik akibat faktor alam maupun kesalahan manusia.
Dengan keunggulan dan kelemahan ini, saya melihat bahwa dalam konteks kebutuhan pekerjaan pemetaan wilayah adat yang didorong Samdhana Institute dan mitra saat ini, drone akan sangat membantu pada:
- Apabila kebutuhan data spasial/foto udara untuk
cakupan wilayah kerja untuk pengelolaan hutan oleh masyarakat tentu peran drone
sangat membantu --> Kasus seperti IUPHHK-MHA dalam wilayah KPH misalnya akan terbantu dengan dron. Kombinasi antara foto drone dengan
transek lokasi/ground check untuk estimasi potensi hutan sampai rencana
pemanenan. Rencana pembangunan kampung dengan jangkauan luas sampai 100 ha.
- Apabila kebutuhannya untuk pekerjaan pemetaan wilayah
adat yang luas (contoh Sorong dan Merauke), kombinasi antara Drone, citra
satelite dan ground check bisa di optimalkan. Disini drone di Pakai secara
terbatas untuk merekam gambar kampung, tempat-tempat penting bagi masyarakat,
ruang-ruang sengketa dan lokasi-lokasi yang menjadi perhatian khusus masyarakat
adat ketika memfasilitasi pekerjaan pemetaan wilayah adat.
Sekalipun begitu, saya kira Drone harus dioptimalkan sebagai satu terobasan baru dalam pemetaan wilayah adat dan ruang kelola masyarakat adat. Hanya saja sama seperti kerja-kerja inderaja dan GIS lainnya beberapa tantangan yang harus dijawab diawal antara lain:
- Mempersiapkan kapasitas-kapasitas yang siap dan
komitmen untuk bekerja dilapangan. Teknologi yang ada secanggih apapun dikembangkan,
tetapi jika tidak ada orang yang siap mengerjakannya yang tetap saja tidak
berguna
- Kesalahan yang terjadi dimana Drone hilang di Biak
pada saat testing di kantor KPHL Kamis 05 Juni 2014 adalah karena
ketidakhati-hatian dalam prosedur operasional sebelum pesawat di terbangkan.
Sehingga mempersiapkan orang-orang yang secara baik memahami prosedur dan
teliti dalam mengoperasionalisasikan alat
- Proses pengolahan data untuk memasukan data attribute
didalamnya tetap mengikuti tahap-tahapan digitasi dan pengolahan data
sebagaimana dilakukan di software-software fotogrametri yang ada. Sehingga
membutuhkan kapasitas teknis yang cukup