My Ideas and Stories About PAPUA

Making the rich and beautiful resources in Papua become the social economic strength for Papuan has become the long home works. Many people believe that the early start to find the answer is by understanding how Papua looks like, their communities and their special strength. And it can be realize by directly in touch with them. This blogs provides you chance to touch and gets insight ideas, trends and stories about Papua.
  • Stories About Beautiful Papua

    Every Single Place In Papua Have Its Stories To Be Shared To Build Other People Understanding About This Island

  • The Last Frotier Primary Forests

    With 42 Million ha of forests, Papua play crucial rules in Indonensia forests development targets.

  • Women and Natural Resources

    Forests or land right are not only about Man. So understanding the roles women and the impact of forests changes to women are also crucial

  • Our Traditional Value

    Papuan Community Have Been Living for Centuries with Their Knowledge and Wisdom in Managing Natural Resources and Practice Best Conservation

  • For Papuan Generation

    Every Works We Do Now Must Be Dedicated To The Future Papuan Generation

  • Dependency to Forests Resources

    Practicing Good Forests Governance in Papus About Understing the Right of Indigenous People and Their Dependency to Natural Resources

  • All Are Wonderful

    You Will Get Good Scene That You May Not Able Somewhere Else - Only In PAPUA

  • Bitter Nut Is Papuan Favorit Gums

    Bitter Nut or In Papua We Call 'Pinang' Is The Local Gum You Can See In Every Corner of the Cities. Papuan People Love To Chewing It. Sometime People Consider It As Contact Material When You Travel to The Village

  • Papuan Traditional Conservation Practices

    For Centuries, Papuan Has Practicing Local Wisdom to Sustainaible Use of Natural Resources. They Have Traditional Education System to Teaching Them How To Interact With Human, Spiritual Power and Understanding The Words Of Nature

Tampilkan postingan dengan label Non timber forests product. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Non timber forests product. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 Mei 2017

"Daun Gatal" A Powerful Natural Leaf for Tired

It was the long tired trip in November 2009 to explored the Kensi villages hill and learn about how community in this village managing their non forests timber product. About 2 hill and 1 valley we went with Mr. Hengky Yafata the chief of Kensi to gets the pohon lawang "Melaleuca" and Masohi "Criptocarpa, sp" the two main product community in this village was confirmed has contributed to their cash income. Yeah, the rough way crossing rock and small river made our big tired appear when we reached the villages. We were definitely then thinking on something that we can consume or uses to helps cure our big tired. So 'Daun Gatal" or in english we can say itchy leaf is one of the recommended medicine we had and its also recommended by the community to have this leaf massage our body our having a long tried trip or works. Finally after taking a bath and shaking Daun Gatal in our body the chemical reaction that fell like be massaging has provoked our eyes and body to laying down in the bed with relax and fluent blood flood. We were hypnotized by this leaf and slept in the deep.

For me 'Daun Gatal" has familiar since i had interact with this leaf since i was child. Almost of the people in my tribe always using this leaf for their natural medicine. My father even almost every day used this leaf to keep his body relaxing and recover from long tired days of works. Same with my tribe community in Kensi also known this leaf and has used for century as their herbal medicine. Hengky explained to us the function and used of this leaf when he took us to the forests that this plant are growing. Not only for man, the leaf can also be used by the woman. Beside for tired, I know that the leaf is also powerful for our muscle problems or injury. Daun gatal is widely growing in Papua Natural forests, and its also a fast growing species with only simple technical if you want to plant it in your gardens. For sure it need shades.

Why is "Daun Gatal" or ecology scientist call it Laportea decumana, Wedd have this therapist uses and has widely and for generation used Papua Indigenous Papuan for their local medicine? What are the chemical contain that this leaf has so it makes our body relax? Several chemical extraction researched explain this facts. On of the recent study was conducted by Eva Simaremare, pharmacy student at Chendrawasih University confirmed the chemical content of this leave that consist of onoridin, tryptophan, histidine, alkaloid, flavonoid, Acid formiat and authraguinones . Formiat acid is hidden on it little spiny that then injected to human skin when we shake for messaging, the chemical reaction of this injection is the opening of skin pores and then stimulate blood reaction and muscle stretching. This is why relax feeling and recovery of our body as experienced in Kensi.

Daun Gatal, Medicine to cure your tire, Photo: Andrew Ingles, 2009
Even though the uses and medical function of the leaf has been confirmed by the scientist about "Daun Gatal" power but it not yet well extracted for medical products that massively produced. Until today most of the green daun gatal are only selling in local markets by Papuan. Almost in all traditional markets in Papua mainly Biak, Jayapura, Manokwari, Sorong, Kaimana and Fakfak we can easily found this leave. The price is also cheap between 5000-10,000 rupiah per bundles containing more that 15 leafs. Prospect of Daun Gatal as alternative natural medicine needs to be developed and facilitated by the government and other relevant actors to brings this traditional Papuan products as herbal option and at the same time support increase the economic income of IPs community.

 

Kamis, 11 Mei 2017

Ekonomi Papua: Durian Fak-fak "Aset Pembangunan Ekonomi Masyarakat Adat Fakfak"


Suhu udara yang panas, asap kendaraan yang keluar dan jual hiruk pikuk orang di depan jalan utama Basuki Rachmat Sorong tidak mempengaruhi keinginan Pak Saiful dan anaknya untuk menikmati durian yang dijual oleh beberapa penjual asal Sulawesi. "Tidak peduli panas, yang penting bisa makan durian fakfak ini" kata Pak Saiful ketika saya sapa ringan dengan mengatakan "wah.. panas makan durian bisa tambah panas tu Pak" memulai pembicaraan kami.  Disamping Pak Saiful duduk Om Burhan yang katanya dari Palopo sebagai jual durian ini. "Ini durian dari fakfak, orang yang banyak yang suka di Sorong. Satu buah harganya 50,000 rupiah. Kita ambil tiap minggu karena di Fak-fak lagi musim banyak" katanya. Pikir saya: Wah mahal juga ya? 1 buah 50,000 pikir saya padahal difakfak harganya bisa sangat murah tentunya. Selain Burhan ada juga sekitar 5 penjual lainnya yang berjejeran dijalan ini sampai dekat Masjid Raya Kota sorong menjual durian yang dikirim dari Fak-fak.

Pilihan untuk melakukan transaksi antar kabupaten atau provinsi menurut saya sangatlah layak di diambil oleh orang Fak-fak karena potensi duriannya yang sangat besar dan jumlah pembeli yang ada di fakfak tidak sebanding dengan jumlah produksi duriannya. Fak-fak Kota Durian mungkin bisa jadi sebutan lain yang bisa kita sematkan ke Kabupaten Fak-fak selain daripada julukannya sekarang sebagai kota Pala. Ya pemberian nama itu tentu sah diberikan untuk potensi duriannya yang sangat besar. Setiap tahun pada saat puncak musim durian, jumlah durian yang membanjiri kota sangatlah besar. Truck, angkutan umum bahkan kendaraan pribadi yang turun dari kampung-kampung pasti memuat durian untuk dijual di pasar. Hampir setiap sudut kota bahkan di pinggir jalan orang menjual durian. Pasar Tambaruni adalah salah satu titik sentral masyarakat menjual duriannya. Nilai jual durian pun bisa dihargai sampai 1,000 rupiah per buah pada puncak musimnya karena bisa dilihat tumpukan durian dengan penjual yang banyak bahkan pada beberapa titik jumlah penjual bisa lebih banyak dari pembeli. Karena potensinya yang sangat besar ini, pada awal Tahun 2016 yang lalu bahkan Bupati mewacanakan akan membangun menara dari buah durian dan meminta MURI hadir untuk mencatat-nya dalam Musium Rekor Indonesia.

Bongkar muatan durian dari dalam Angkutan umum yang baru turun dari salah satu kampung di Fakfak


Mengupas lebih jauh tentang durian Fakfak saya masih tetap mengingat beberapa nama yang selalu kami banggakan di Faf-fak seperti Durian Mentega dan Kerak Bum. Durian Mentega adalah jenis durian khas dari Fakfak yang selalu menjadi primadona disetiap musimnya. Terkadang sulit membedakan mana durian mentega dan mana yang bukan durian mentega karena penampakannya yang sama. Tetapi berdasarkan pengalaman sewaktu masih di Fak-fak kami pasti hafal terutama dari penjual, pemilik atau kampung yang selalu menjual durian jenis ini saja. Kasus-nya tentu berbeda seperti yang saya temukan di Sorong, dimana Sorong, durian selalu dicampur tidak dijual berdasarkan kekhususan jenis mentega tersebut. Mungkin karena tampilan warnanya seperti mentega dan rasananya yang sangat lezat, manis dan legit sehingga durian ini dinamakan durian mentega. Saya teringat satu dusun Durian yang letaknya tidak jauh dari rumah orang saya di Fak-fak milik "Kakek La Saleh" beberapa pohon durian mentega sudah kami hafal dan selalu kami kesitu untuk mencari buah yang jatuh. Sedangkan durian 'Kerak Bum' adalah sebutan bagi durian yang ukurannya sangat besar seperti bola basket. Istilah ini menurut cerita di berikan karena hantaman buah durian yang bisa mematahkan dahan pohon dan bunyinya yang besar ketika menyentuh tanah. Setiap musim durian tiba, durian Mentega selalu menjadi incaran utama penikmat durian di Fakfak. 

Jumlah pohon dan hasil buahnya yang sangat besar tentu menjadi kekuatan ekonomi masyarakat adat di Fakfak yang merupakan pemilik pohon/dusun durian tersebut. Pada tahun 2014 ketika terakhir kali saya kembali ke Fakfak bahkan ada kerabat dekat saya dari Kampung Nembukteb yang penerimaan bersih dari menjual durian bisa mencapai 5 juta rupiah. Padahal banyak buah yang tidak semuanya diambil dari Dusunya karena kapasitas angkutan yang terbatas untuk ke kota. Nembukteb hanya satu dari sekian banyak kampung di Fakfak yang memliki durian. Menurut pemerintah daerah, luas dusun durian yang becampur dengan dusun pala, cengkeh, coklat dan buah-buah lainnya mencapai 12,000 ha serta lebih dari 3000 kepala keluarga memiliki aset adat tersebut. 

Sejauh ini Durian dari fakfak dijual keluar seperti yang saya temukan di Sorong dalam bentuk buah utuh. Mungkin karena pasar durian segar yang memang selalu dinanti. Belum banyak industri pengolahan berbahan baku durian yang muncul di kota Fakfak. Tentu pilihan untuk menjual buah utuh secara ekonomis sangat menguntungkan apabila margin keuntungannya besar. Di pasar-pasar seperti pulau jawa pun pada musimnya banyak durian yang dijual dijalan-jalan, sekalipun rasa-nya tidak selezat Durian fakfak. Bagaimana animo dan tingginya transaksi yang terjadi di Sorong harus dinilai krusial oleh pemerintah daerah dan Masyarakat adat pemilik durian untuk mengemas durian sebagai salah satu produk export dari Fakfak. Pasar-pasar di luar Papua seperti Maluku, Sulawesi (Makasar), Jawa (Surabaya, Semarang, Jogja dan Jakarta) mungki perlu dijajaki dengan membangun sebuah rantai dagang durian Fakfak. Beberapa tulisan tentang durian fakfak seperti contoh tulisan yang di muat di kompasiana oleh Daniel H.T (http://www.kompasiana.com/danielht/panen-raya-durian-di-fakfak-papua-barat_55292310f17e61d53f8b4573) bahkan di respon oleh nitizen pencinta durian dengan usulan untuk expanding pasar durian fakfak sampai ke pulai jawa. Tentu total fokus pada durian mentega dan durian kerak bum, bisa menjadi branding khusus awal memulai tata niaga kekuatan ekonomi durian Fak-Fak sama seperti bagaimana Durian Montong menjadi populer dengan branding dan kekhasan-nya. 

Selasa, 02 Mei 2017

Ekonomi Papua: Sirup Pala Fakfak Pontensi Baru Produk Herbal Papua

Saat ini promosi tentang hidup sehat dengan mengkonsumsi makanan-makanan organik dan juga supplemen atau obat-obatan herbal menjadi trend pemberitaan dan iklan. Bahkan diapotik-apotik berbagai skala pilihan produk kesehatan dan obat herbal yang tersedia dari berbagai extract buah, daun, pohon, batang ataupun bagian lain marak. Satu yang cukup terkenal karena sering keluar dalam iklan di TV-TV indonesia adalah extract kulit manggis. Bahkan berbagai produk supplement atau obat herbal dari extract kulit manggis di produksi dalam jumlah masal dengan beberapa nama produk yang berbeda. Sebut saja 'garcia" http://www.manggisgarcia.com/ atau 'mastin' http://mastinkulitmanggis.com yang merupakan 2 produk unggulan dari dua produsen obat herbal di Indonesia. Selain manggis, tentu dengan mengingat kata 'jamu' dari jawa kita sudah terbawa pada bagaimana ramuan extract alam yang menjadi produk-produk kesehatan bagi manusia untuk berbagai masalah dan kebutuhan tambahan tubuh kita.

Kali ini cerita saya mengangkat extract alami buah pala dari kota fak-fak, manfaat dan potensi pengembangannya untuk manfaat industri obat-obatan dan supplement bagi kesehatan tubuh manusia. Beberapa bagian awal mungkin sebuah testimoni dari pengalaman pribadi saya. Tetapi bagian lain dari tulisan ini juga diarahkan untuk melihat bagaimana manfaat buah pala yang belum terekspose dan dikemas baik sebagai kekuatan ekonomi rakyak. Ya.... Sebenarnya agak malu, karena pasti orang bertanya "Dari mana saja sih loe? Anak fak-fak kok tidak tau sech?" Hehehe... Saya bagian dari masyarakat Fak-fak karena lahir, besar dan belajar banyak hal dari kota ini. Bahkan pala juga memberikan saya banyak manfaat dan cerita dalam hidup dimasa kecil di Kota Pala ini. Pastinya bangga jadi bagian dari fak-fak, begitu juga bangga mengangkat cerita ini untuk menjadi perhatian publik.

............................

Siang itu, Kaka Sitorus (Istri Pak Sinaga) pemilik rumah tempat kami sementara mengontrak di Manokwari datang dan meminta sedikit sirup pala yang dibawa Bapak saya (Kakek Emmi) dari Kota Fak-fak, katanya "minta dulu sedikit sirup kalian, karena ada keluarga kami yang batuknya parah. Dia sudah berobat sampai ke Makasar, tetapi belum baik. Padahal sudah disarankan untuk meminum sirup pala dari fak-fak yang sudah terbukti mujarab". Saya pun dipandang istri saya, karena saat Kaka Sitorus data, saya sedang dalam kondisi flu dan batuk, tetapi kenapa saya tidak mengkonsumsi buah ini pikirnya. Dengan suara tegas istri saya sampai "bapa Emmi ayo ko minum segera untuk sembuh". Sudah dua hari saya diserang flu dan batuk berat bahkan berdahak. Sebagaimana orang menderita batuk, tenggorokan terasa gatal dan mudah batuk. Konsekuensinya tidurpun terganggu selama dua hari. "Okay baiknya, saya minum sekarang" kata saya. Dua sendok makan sirup buah Pala Fakfak dengan air hangat saya siapkan dan minum malam itu juga. Efek-nya luar biasa, saya langsung enak tidur malam itu dengan sedikit saja gatal di tenggorokan tidak seperti malam sebelumnya. Pagi-pagi saya langsung bangun dan minum lagi, malam juga begitu saya kembali meminumnya. Khasiat-nya sungguh terasa karena flu dan batuk saya mengalami pemulihan yang cepat.

Cerita manfaat sirup Pala Fakfak sebelum saya merasakan-nya diatas berawal dari saran Kaka Sitorus juga agar kami memberikan sirup ini secara rutin kepada putri saya yang sedang berjuang keluar dari gangguan pembengkakan kelenjar adenoid dan sistem amandel-nya. Gangguannya yang sudah dialaminya sejak bayi sampai sekarang usianya sudah 3 tahun tersebut menurut Dokter Ahli anak berkaitan dengan alergi makan dan udara kotor terutama asap yang menjadi faktor pemicu-nya. Anak-saya bahkan sudah di fonis dokter untuk harus operasi dan memotong amandel-nya karena ukurannya yang tidak normal. Khasiat sirup Pala yang diminum-nya sekalipun tidak rutin kami akui cukup membantu membawa mengurangi gangguan yang dideritanya terutama bagaimana dia berjuang untuk bernafas dengan lega selepas minum susu atau tidur dengan enak tanpa gangguan pernafasan yang extreme pada saat udara dingin. Karena selama ini efek paling tidak mengenakan untuk kita lihat adalah ketika nafas-nya tertutup akibat protein susu dan udara kotor atau udara dingin - implikasi dari alergi-nya.

..................

Kandungan Kimia Buah Pala

Mengetahui lebih jauh feeling dari testimoni yang saya angkat diatas dan bagaimana pala Fakfak atau juga disebut pala Papua (Myristica argantea) mampu memberikan manfaat herbal untuk keluhan-keluhan masalah kesehatan yang terkait dengan THT - tenggorokan, hidung dan telinga? Banyak literatur yang secara online bisa kita temukan menghighlight kandungan Myristicin yang padat, mungkin inilah kenapa nama Genus dan family dari pala adalah Myristica. Banyak literatur kedokteran yang menyebutkan bahwa myristicin adalah bagian dari zat-zat psikotropika yang bisa menyebabkan orang berhalusinasi apabila dikonsumsi dalam jumlah yang banyak. Bahkan pengaruhnya kepada gangguan fungsi hati. Kandungan kimia lain yang terkandung di dalam pala adalah terpene hydrocarbon dan perpene derivative yang kemudian menjadi sumber penghasil minya esensial. Kandungan ini ditunjukan dari getah yang ada di pohon, daun bahkan buah pala. Mungkin inilah kenapa buah biji dan fully menjadi produk utama yang diambil dari pala karena kandungan esensial oil yang diextract menghasilkan myristicin dan terpene dipakai untuk berbagai industri kosmetik, makanan, parfum, produk-produk aroma terapik bahkan campuran dalam rokok. Tetapi zat apakah yang menyebabkan batuk saya sembuh setelah mengkonsumsi sirup pala - fakfak? Tidak banyak mendapatkan literatur yang mendukung (mungkin butuh waktu tuk baca lagi lebih banyak :-) ) tetapi satu zat kimia ini mungkin sedikit memberikan jawaban tersebut yaitu: "champhene", wikipedia.org mendeskripsikan senyawa ini dengan efek panas dan citra rasa khusus di tenggorakan yang membuat hangat. Jahe adalah salah satu tumbuhan yang juga memiliki kandungan champhene yang tinggi, oleh sebab itu jahe juga sering dibilang obat batuk karena buat hangat tenggorokan (begitu kah?).

Baru Biji (nutmeg seed) dan Fuli (mice) Yang Dimanfaat Dalam Jumlah Besar

Sebagaimana semua literatur dan kajian menampilkan banyak analisis tentang biji dan bunga pala/fuli begitu juga mengapa angka perdagangan dari kedua produk pala ini lebih tinggi dan massive dibandingkan daging buah atau extrack getah dan daun palanya. Saya ingat waktu kecil bagaimana tumpukan daging buah pala yang dibiarkan membusuk dibawa pohon papua dalam jumlah yang banyak, karena hanya biji dan fuli yang diambil sebagai produk yang liquid dan cepat terjual dipasaran. Kajian lebih dalam tentang buah pala belum dilakukan dengan baik sepertinya terutama dengan beberapa pengalaman yang saya alami dengan khasiat sirup pala fak-fak terhadap gangguan batuk dan flu. "Laporan Assessment Rantai Nilai Pala dan Pendekatan Iklim Usaha" yang dilakukan oleh UNDP dan ILO pada tahun 2014 adalah satu dari sekian laporan komprehensif yang menyajikan bagaimana industri potensi, produksi dan industri pala berkembang serta prospek bisnisnya kedepan. Laporan ini mencatat total produksi biji dan fuli di fakfak mencapai 1,884 ton atau sekitar 11% dari total produksi pala Indonesia. Indonesia sendiri menjadi negara produsen dan pengekspor pala terbesar di Dunia dengan kuasa 75% pasar pala dunia.

Pada saat pemanenan, buah pala yang petik akan dibelah dan diambil biji dan fuli-nya untuk dijual, komposisi-nya cukup jomplang karena sekitar 83,3% dari buah pala adalah daging buah, sedangkan disisanya 3,2 % fuli, 3,9 % tempurung dan 9.6% biji. Artinya apabila tidak dimanfaatkan keseluruhan maka ada 83% limbah buah pala yang dibiarkan dan tidak dimanfaatkan. Sejauh ini daging buah dimanfaatkan tetapi tidak dalam jumlah masih, dilihat dari produk dan rantai analisis pasar yang buat oleh UNDP dan ILO estimasinya hanya sekitar 5% total buah yang dipanen yang kemudian dioptimalkan menjadi beberapa produk olahan khas pala seperti sirup dan manisan yang selalu menjadi pilihan oleh-oleh dari fakfak. Kandungannya yang cukup kaya selain dengan zat-zat kimia psicotopic atau hallugonic yang mencakup protein, selulosa, asam dan mineral menjadi kunci kenapa banyak produk olahan yang bisa dikembangkan dari tanaman ini bahkan sebagaimana Prof Yohanis Pontoh - Ahli teknologi pangan sebutkan bahwa ada 36 komponen produk olahan buah pala yang bisa dikembangkan untuk meningkatkan nilai tambah dari buah pala (dikutip dari: http://pala-fakfak.blogspot.co.id/ ) .

Belum ada informasi khusus tentang pengembangan extract daging buah pala untuk obat. Tetapi dengan khasiat sirup pala melegakan tenggorakan gatal, batuk dan flu, mungkin bisa direkomendasikan dan dipromosikan sirup olahan buah pala dari fak-fak sebagai pilihan alternatif herbal pengobatan masalah THT. Pengembangan secara massive untuk mengoptimalkan buah-buah daging buah yang selama ini sudah dioptimalkan mungkin bisa menjadi pilihan ekonomi baru bagi komunitas adat di fakfak yang dalam laporan ILO dan UNDP 2014 disebutkan ada 2300 KK yang menguasai dan memanfaatkan 6,078 ha hutan pala di kota fakfak.

Kamis, 27 April 2017

Ekonomi Papua: "Masohi" Kenapa Masyarakat Hanya Menjual Kulit Pohon-nya?

Masohi, Lactone dan Status Pengembangannya

Berawal dari obrolan singkat siang ini dengan Abang Lichin dan Mas Risdianto, dua Senior NGO di Papua Barat tentang potensi Kulit Masohi yang besar di wilayah teluk bintuni saya kemudian mencoba untuk menelusuri informasi-informasi yang ada tentang Masohi. Perkenalan saya dengan produk alam yang cukup terkenal dari Papua ini secara langsung terjadi ketika studi bersama IUCN dan Samdhana Institute yang dilakukan di Kampung Kensi Kabupaten Kaimana Tahun 2009. Dimana studi ini membawa kami untuk mendaftarkan dan mengidentifikasi kondisi market untuk merangkai pilihan ekonomi yang tepat kepada masyarakat adat. Masohi menjadi produk yang disebutkan oleh masyarakat kensi berkontribusi besar terhadap ekonomi masyaraka di kampung sekalipun sebenarnya mereka rugi karena cost yang lebih besar dari profit. Mungkin mereka menjadi terus rugi karena menjual mentahan kulit masohi yang nilai jual-nya tidak besar dan tidak mampu menutupi biaya logistik pengiriman barang (kulit) ke pasar. Pada saat itu, Pak Andrew Ingles dari IUCN dengan hasil assessment yang kita lakukan memberikan saran agar dua opsi dilakukan yaitu (1) membangun hutan tanaman masohi untuk pasokan yang lebih stabil dan (2) introduksi teknologi penyulingan untuk membantu meningkatkan nilai tambah dari produk daripada masyarakat hanya menjual kulit dengan harga yang merugikan mereka di kota.

Saya mencoba untuk menelusuri cerita tentang masohi, memulai dengan mengetik "jual minyak masohi Papua". Sayapun dibawa Google ke beberapa pilihan informasi. Perhatian saya kemudian tertuju khusus pada info google dimana link-nya adalah tokopedia.com. Sebagai orang Indonesia, tokopedia kita kenal baik sebagai salah satu situs e-commerce yang sangat aktif dan lancar transaksi. Didalam tokopedia muncul sekitar 10 iklan produk minyak kulit masohi dengan kisaran harga yang kurang lebih sama. Semua penjual berdomisili di luar Papua, mereka tersebar di Jakarta, Surabaya dan Palu. Harga terendah yang disajikan disitu adalah Rp.80,000 rupiah untuk minya dengan ukuran botol 25ml sedangkan harga tertinggi adalah Rp.440,000 untuk botol 80ml. Nilai ekonomi produk yang besar tentunya. Informasi dari Litbang Kehutanan Manokwari sebagaimana di upload di http://www.forda-mof.org/files/HHBK-Potensi_Pemberdayaan_Masyarakat_Sekitar_Hutan.pdf , bahwa dipasaran nilai minyak masohi dihargai rata-rata Rp. 3,250,000/liter: itupun tergantung dari kandungan "Lactone" didalamnya untuk kandungan lakton yang tinggi mencapai 70% nilai jualnya bahkan bisa mencapai Rp. 4,500,000/liter.


Apa sebenarnya yang spesial dari kulit pohon ini? Kenapa nilai jual per liter-nya begitu tinggi dipasaran? Pertanyaan ini terjawab dengan beberapa literatur. Dari situs https://www.britannica.com/science/lactone misalnya saya menemukan informasi bahwa inti dari pohon kulit kayu Masohi adalah kandungan 'Lactone' yang merupakan bagaian dari gugus ester asam pekat. Lactone selama ini menjadi asam organic yang dipakai di industri parfum ingredient, kosmetik, plastik, vitamin C dan antibiotic. Situs http://beneforce.com  singkat tetapi tegas menyebutkan contoh penggunaan extract lactone ini untuk mengurangi kesuburan pria, dan digunakan di china untuk praktek ini. Sehingga penggunaan secara berlebihan sangat tidak disarankan. Lebih jauh http://indonetwork.co.id  memberikan penegasan tentang rasa manis tetapi panas yang dihasilkan sebagai akibat dari reaksi kimia dari lactone, sehingga beberapa minyak urut sebagaimana yang dipromosikan di tokopedia adalah untuk menjadi minya urut. Literatur-literatur ini secara padat membantu saya untuk memahami apa manfaat pohon ini dan kenapa nilai jualnya tinggi serta tingkat pencarian-nya begitu tinggi di Papua.

Hanya Kulit yang Dijual Masyarakat 

Sumber: http://hutanpapua-indonesia.blogspot.co.id/2015/10/teknologi-budidaya-kulit-masohi.html
Mempelajari tentang Masohi dan fakta bahwa kayu ini adalah endemic Papua dan hanya ditemukan di Papua memberikan perasaan sedih bahwa inilah kekuatan ekonomi Papua yang belum optimal manfaatnya dirasakan masyarakat. Kesedihan itu tentu berkaca dari bagaimana masyarakat Kensi dan Masyarakat di Irarutu Teluk Bintuni hanya menjual kulit kayu saja kepada penadah. Introduksi teknologi yang didorong dengan paket pengembangan kapasitas kepada masyarakat untuk proses penyulingan, kontrol mutu dan pengemasan belum dilakukan optimal. Informasi bahwa nilai jual di kampung sebesar 8000 rupiah/kg sangatlah jauh dari nilai di tingkat pengempul yaitu Rp. 40,000 - 50,000 rupiah/kg.

Minim Perhatian

Sama seperti produk-produk unggulan Papua lainnya, kulit masohi yang sudah jelas diketahui nilai pasar dan juga kebutuhan industrinya belum dilihat sebagai sumber kekuatan ekonomi kehutanan di Papua. Pemberian ijin konsesi kayu dan pembukaan lahan untuk peruntukan non kehutanan sayangnya terus naik menjadi prioritas daerah yang jelas konsekuensinya pada hilangnya aset-aset ekonomi yang mungkin sengaja di abaikan ini. Minim perhatian jelas sekali dari bagaimana tidak adanya kajian lengkap yang diikuti dengan rencana pengembangan produk unggulan daerah dari masohi. Regulasi daerah untuk perlindungan ekologi masohi pun tidak ada.

Membangun Ekonomi Rakyat dari Masohi

Pemanfaatan sumber daya hutan yang benar sudah pasti akan memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat terutama masyarakat adat yang saat ini hidup didalam hutan adatnya dalam kemiskinan. Pemerintah bersama dengan smua pihak perlu memberikan perhatian serius pada pengembangan usaha masohi sebagai produk unggulan daerah. Pembangunan hutan tanaman masohi dan pengembangan industri destilasi di tingkat kampung bisa menjadi langkah awal yang harus dibangun di tingkat tapak. Yang kemudian dilanjutkan dengan fasilitasi pemasaran dan kontrol kualitas dan harga untuk menjamin kelancaran bisnis masyarakat yang mengelola dan memanfaatkan masohi.

Jumat, 10 Maret 2017

Sira and Manggroholo Villages Received Forests Management Licenses


Official Awarding by the Provincial Government 

Historical moment just happened in Teminabuan the capital of South Sorong District when the West Papua Province Secretary Assistant Mr. Nicolas Uttung Tike officially awarded the forests management licenses/right to the elders of Sira and Manggroholo. Standing on the bench, Alfred Kladit, Yoel Sremere and Markus Kladit representing big groups of community in the village received the Governor Decree. Traditional dancing such as Tihor, Sayo and Salawa were performed by the community to welcome the news path of responsibilities in protection and properly manage the resources in their territories. As shared by phone, Arkilaus Kladit who is the focal point and key facilitator of this groups shows his happiness of this momentum and said "we are now in good track to make sure we can manage our own resources. Because we worry and don't want oil palm expansion coming and destructing our forests". Adding to him Fredrik Sagisolo the Chief of Knasoimos Customary Community Council (Dewan Perwakilan Masyarakat Adat Knasoimos) raised his grateful by emphasizing, "this a new victory of customary community here in South Sorong. And we hope this inspiring other community to build their spirit to secure and manage their own forest resources".

Officially this is the 1st forests management license awarded to customary community in West Papua. The decree is the next legal steps the community need to be able to manage their forests products after Ministry Of Forestry approved and granted village forests concession in 2014. Total areas of the concession in both village are 3,545 ha and dominated by swamp, dry land and mangrove forests. Resin and sago are the chosen products that the community facilitated by Bentara Papua, Green Peace and Samdhana Institute has identifying will be the potential products to be managed by this villages forests. As confirmed by the Mr. Herman Remetwa, the head of community development division in Forestry Department of West Papua province that these Governor Decree No 181 and 182 of 2016 are part of provincial active supports to the initiative emerging in the areas since social forestry is putting as one of the key strategic issues in forests development agenda of the province in the 5 years.

Social forestry with its 12,7 million ha target are an opportunities for community those who living inside and around forests areas to gets an access to manage their resources. This is part of the current president Mr. Jokowi's regime priority program to provide more clarity and legal security for people to be able to step out from poverty by managing the resources in their territories. As reported by Mr. Sahala Simanjuntak, the head of Maluku Papua Social Forestry Unit (technical unit of Forestry and Environmental ministry) indicatively there are 254,581 ha areal that potentially facilitated as social forestry sites in West Papua Province. Beside South Sorong, there was also a concession granted to customary community in Esania - Kaimana for about 11,005 ha but it has expired last year since there is no facilitation to apply for management licenses two years after awarded.

Next Step: Packaging the detail Management Plan

Overall outcomes or dream we catches from communities in these two villages are "securing their land rights and increasing of welfare by self managing forests resources". Village forests licenses is the tools and scheme they used to meets this targeted changes by trying applying legal and sustainable forests product management at community based level. Since 2014 resin gathered from Agathis and Fatica trees been introducing by Greepeace and Bentara Papua as one of the priority product of these two village forests and its been mainstreaming as one of the core forest product to expand the business that village forests management body will manage eventhough there is no clear record or specific assessment that confirming about the potency of resin.


Sago is another product emerging as priority. It is one of the cash and non cash income for the community. It growing robustly in around villages and has gradually harvesting by the community with the traditional technique the adapting for generations. Papua State University of their 2015 assessment report mentioned that there are about 40 ha of sago plots that spread in Sira and Manggroholo, of which 8 trunk per ha can be harvested and produce up to 350 kg of wet starch. At the same event of lincese Awarding, the sago production and procession machine was granted to the two communities by the social forestry units. Sahala Simanjuntak said "this is the way how ministry of forestry and environment is commitment to help community whose initiating social forestry in their region". Looking at the facts that Sago is the best option this grant has be another positive momentum for community to be more equipped with technical requirement on managing the resources.

Creating a proper management plans with accurate data potency and markets assessment are needed after the license is secured to help community in Sira and Manggrholo taking an advance steps on small scale enterprises. To effectively implement the new awarded governor license, the management body must have a solid and valid management plans for 20 - 35 years and break down detail of annual plans with simple detail business calculation of benefit costs and marketing plan that become reference for community to gets in to the real production of their forests products. On the other sides these documents are also required by the government to make sure the management licenses are applied according to the norms, procedure and standard been regulating by the law. Both Markus Kladit and Alfred Kladit as the head of village forests  management body aware that the robust requirement of forests products production and marketing should be well understood by them to secure their management practices after the governor decree received. Both keep emphasizing the needs of continue facilitation by the NGOs whose has working with them to provisioning concrete benefits and changes they can gets from this village forests.

Sabtu, 30 Mei 2015

Mencari Produk Hutan Prioritas Bagi Hutan Desa Sira dan Manggroholo


Damar Belum Berjalan Optimal

Tumpukan damar putih dan damar merah tersusun rapi di belakang rumah/kantor sementara koperasi Kna Mandiri di Kampung Sira. Koperasi yang didirikan sekitar 7 Tahun lalu ini adalah bentuk semangat masyarakat adat kampung Sira dan Mangroholo, Distrik Saifi Kabupaten Sorong Selatan untuk mengelola sumber daya alamnya. "Damar kami beli dari masyarakat, tetapi tidak lancar, masyarakat ingin harga tinggi terutama karena mereka pergi ambil damar yang jauh didalam hutan" kata Alfred Kladit ketua Koperasi yang juga menjabat sebagai ketua LHPD Kampung Sira. "Saat ini kami masih tampung dan cari penjual, kami beli saja dalam keadaan kasar seperti ini dari masyarakat" terangnya menunjukan tumpukan damar yang bercampur dan belum di sortir.

Kampung Sira dan Manggroholo pada tahun 2014 telah menerima SK Penetapan Hutan Desa dari kementerian kehutanan RI dengan luasan mencapai 3,800 ha. Dimana arelanya mencakup semua hutan produksi dan hutan lingdung di wilayah adat dua Marga besar yaitu kladit dan sremere. Damar pada saat di temukan melalui survey potensi yang dilakukan, dinilai bisa menjadi pilihan produk utama yang akan dikelola oleh kedua hutan adat ini. Terutama karena orientasi utama dari advokasi dan fasilitasi pengelolaan hutan di Sira dan Manggroholo yang difasilitasi oleh Greenpeace dan Bentara Papua adalah untuk optimalisasi hasil hutan Non-kayu. "Kami menolak perusahaan kayu atau perusahaan sawit yang ingin masuk di tempat kami. Oleh sebab itu saya bersama dengan masyarakat adat di Kampung Sira dan juga kampung Manggroholo mengusulkan hutan desa untuk kami kelola sendiri, terang Bapak Yoel Sremere kepala Kampung Sira menjawab pertanyaan yang saya sampaikan "kenapa bapak dan masyarakat ingin fasilitasi hutan desa?" 

"Kami masih terus mencari pasar dan pembeli damar. Sudah ada informasi pasar di Surabaya, tetapi belum juga bisa kita pasarkan karena permintaan kuota yang belum bisa dipenuhi juga jaminan pasokan ke pembeli yang belum bisa digaransi" Jelas Amos Sumbung sebagai fasilitator lapangan Greenpeace. Damar yang dikelola adalah jenis damar merah dari kelompok Jenis Fatica, Sp dan juga beberapa diambil dari Jenis Agathis. Market damar di Sorong Sendiri belum sebanyak market produk lain seperti kayu sehingga mempengaruhi stagnan-nya usaha komunitas adat di Sira-Manggroholo. 
Menemukan Opportunity cost Untuk Pilihan Produk Hutan Menguntungkan 

Dua tahun pasca dikeluarkannya SK Menhut tentang penetapan Hutan Desa, sedianya kedua LPHD bersama dengan fasilitatornya harus bisa menyediakan rencana kerja jangka panjang untuk mendapatkan ijin pengelolaan terhadap produk hutan yang ingin dikelola oleh hutan Desa. Rencana kerja atau rencana pengelolaan adalah dasar untuk pengusulan ke Gubernur mendapatkan Hak Pengelolaan Hutan Desa atau HPHD. Tentunya didalam dokumen perencanaan tersebut harus memuat detail produk yang dikelola dengan estimasi kelayakan usaha dari produk-produk hutan yang menjadi fokus pengelolaan. 

Tantangan tentu ada pada tingkatan ini untuk bisa menemukan produk-produk hutan yang (Kayu, non kayu dan jasa lingkungan) yang bisa dikelola oleh LPHD dan Koperasi Kna Mandiri di Kampung Sira dan Kampung Manggroholo. Selain damar masyarakat adat di Kampung Sira dan Manggroholo telah lama menggantungkan hidupnya dari Sagu, Produk kebun tradisional dan daging buruan. Didalam hutan sira dan manggroholo juga tumbuh dan berkembang beberapa jenis rotan tetapi belum diketahui pasti potensinya. Sebagian dari hutan manggrove dan rawa yang berada dibagian timur kampung juga tersimpan potensi hasil laut seperti udang, kepiting dan ikan yang selama ini sudah dimanfaatkan oleh pihak luar. Kayu tidak menjadi fokus utama, sekalipun ada beberapa masyarakat yang memanfaatkan kayu untuk kebutuhan internal didalam kampung dan ada juga yang dijual keluar dalam bentuk kayu gergajian. 

"Sejauh ini sagu, menambang pasir, mengerjakan proyek pemerintah adalah sumber pendapatan uang utama di masyarakat" Terang kepala Kampung Manggroholo. Damar telah muncul sebagai satu info produk potensial tetapi karena beberapa kendala alam, pemasaran dan intensitas pemanenan sehingga masyarakat tidak menggantungkan sumber pendapatannya ke produk ini. 

Analisis ekonomis, market dan value chain dari produk serta uji kelayakan usaha dengan pilihan-pilihan produk perlu menjadi perhatian pengembangan rencana pengelolaan Hutan Desa Sira dan Manggroholo. Sehingga inisiatif menjaga hutan dan mendapatkan manfaat ekonomi daripadanya bisa kelihatan serta program-program fasilitasi yang dilakukan tidak hanya dinilai projekan oleh komunitas adat didalamnya. Memulai dari produk-produk hutan yang sudah dimanfaatkan, fluid secara bisnis dengan nilai rantai harga yang terkontrol mungkin perlu menjadi pilihan awal sambil mempersiapkan masyarakat dan akses ke pasar-pasar produk lain yang dimiliki oleh sira dan Manggroholo. 


Sabtu, 30 Juni 2012

Wonderful of West Yapen Island, 'Suanggi', Bobo, Sago and Wooden Water House

For many Papuan, when the name of Ansus be mentioned people are then thinking of the famous human ghost "Suanggi" or some saying "Suanter" or flying ghosts. Yaa... Because Ansus was claim as the school of people who want to take the supra natural/magic strength that mostly to kill people. I felt this experienced when I did mapping exercise here in 2012. But for other reason most of the villages in Western Yapen Island includes Ansus, Papuma, Kairawing, Sasawa, Munggui and Toweta are one of the bests tourism sites to visits in Papua. It because the combination of cultures, housing, foods and nature are attracting and will makes your memories are well saved the experiences you have.

It was June 2012 that become my 2nd trip with Bang Martin Hardiono for initial mapping discussion we spent almost 7 days stayed in Papuma and Ansus. It takes about 3 hours with the long motor boat to get this place. And if you are someone comming from West Indonesia, the best ways to reach this place is by plane from Biak and then take small rural airplane to get the City of Yapan.  Join in the big meeting of about 32 clans the visits was aiming to helps community in West-North of Yapen Island to have a customary boundary maps. Combination of social discussion, ground checks and desk maps analysis were conducted with full supports of the customary groups in Ansus and Papua. Clans like Kayoi, Arronggear, Woniana, Atururi, May and Raweyai were part of the groups those rights and history were conveyed and recorded. During the visits beside focused on the keys responsibilities on Mapping, we were also enjoying the wonderful of the West Yapen island beauty of nature, foods and local drinks. Fresh fish delicious sago with alcoholic drink or people in Ansus called it with Bobo are parts of the stories been taken away from this trip.

Wooden Water House 



The picture above is how the houses in West Yapen is looks likes. People are mostly prefer to build their house in the waters, I don't get the reason maybe because they try to protect them self from 'Suanggi' - some people says 'Suanggi" are afraid of sea water. :-). Some reason also said that because this helps them to parking their canoes. All building material they use is easily to collect from the bush around the village such as woods, bamboo, nipah, sago leaf and rattan. The long wooden pier are made to connects all the houses the big poles are punch in the mud to help the pier construction. The size is average with wide 8 x 9 meters with mostly two bedrooms and one kitchen inside. Some people also constructing big houses with more that 2 bedrooms.

As a new person that new in the piers like this, I was walked carefully because was worried with the strength of the woods they use to construct the pier. It is mostly the hard wood such as Merbau (Intsia, sp), Matoa (Pometia Sp) and Langgua (Dipterocapacea). But i saw kids and young people are walking and run with out worrying for felling down to the waters that surrounding the houses. I was also amazed that this one meter wide of piers are the ways babies learned for walk. In the night sometme the people whose has got hardly drunk are walking without afraid I think its because they usually doing this for years so have knowing how to do well steps even though you're hardly drunks.

Despite of the condition that for some people like me are dangerous the house location in the bays are a good location to get the fresh air and smooth winds blowing though out the seas and forests. In the day and night the cold air could influence you eye to closes for a while and laying down in short sleep --- Fantastic--. In the afternoon the piers become the beautiful spot to enjoy people paddling their canoes to reach the house from they garden, sago plots or from fishing.

Small Wooden Canoes 

Since the community are living in the floating houses in the bay, canoe is the transportation vehicles that almost all household has. The canoe I meant is the small woods canoe with length not more than 4 meter and wides 30 - 40 cm. It is moving with small paddle being moved by the drivers. Its always a peace lovely afternoon or early morning if we want to enjoy the beauty of people paddling their canoes arrive and leaving the villages. It can occupied 4 - 5 peoples average. Community are often using this canoe to takes fish, crop vegetable, crop fruits and sago from their plots that become the domestic needs of the community.


Foods and Beverages 

Fish is always become my favorite foods but not all fish I like. One of the best and delicious fish I ever tastes is 'Samandar Papan Ansus". Unfortunately I forgot to capture the fish I meant. But its one of the coral with with sweat tastes. The best ways to serve it by fried or roasting. In Ansus we can easely find this fish in the local market with price between 10,000 - 20,000 rupiah for 5 - 8 piece. Another best cuisine i loved here is Papeda dan charcoal sago that always be served with yellow fish soup and water spinach. The fish prices and vegetables and affordable prices puts me on the part of keeps buying the fish and sago from the local market in Ansus Village.

Sago is the traditional foods that all people in the low land of new guide are harvesting and cultivating for foods. It is "PAPEDA" the name of the sago powders cooked with hot waters and serve in the big plates for the groups of people to enjoy it. Papeda has become and icon of tradition and identity of cultures and has become one of the most consuming foods together with rices and yams/cassava. Sago is growing widely in the swamp of the village in this west Yapen and has dividing based on its owners. Beside Papeda, sago powders can also be processed become "cake/cookies" and charcoal sago mix with coconut that all are serve with frees salt water fish with delicious tastes. Even though most of the community have their sago plots but there are also people selling sago and the one has processed in the Ansus Market where we can easily found in low prices.

As a beverage "Bobo' a local alcohol drink processed from nypah trunks are mostly close the nigh of social event with the people - particularly man. A 'Bobo' can be easily found in the villages when people using traditional method to processed it become alcoholic drink. For some point I realized Bobo was the enter doors to talk with elders about the land rights and communal land conflict issue and I did that in Papuma Village to explore more info about Aronggear and Koromat clans history. Bobo is selling closely because it is banned by the Government and sometime police do sweeping for the villages security reason. Most people believe that 'Bobo' is a words water that can stimulate people to be braves and talks much about any issues even though his/her personality is a silent man. It is recommended to enjoy Bobo at night before you sleep. For me its like beer in modern economic society where people takes while creating a good conversation about something. But for you people in Bali or Jakarta, don't expect to find a Bar or cafe with Bobo because there is no cafe/bar here. If you want to enjoy Bobo you have to come or visit the community houses and sitting with them in the quest room of some place they usually setting for relax and enjoy Bobo.

Beside Sago, Fish and Bobo, West Yapen is also a home of different kinds of fruits. Let says Durian, Cempedak (wild jack fruit) and Langsat. But most of it are seasonal. When the time comes people are mostly not able to finishing big amount of fruits they have and Biak is usually become the choice for people to selling this products. To close this session one thing that you should taste is 'Pinang" or bitter nuts fruits that people always loved to chewing it. Red juice coming out from the mouth like vampire drink your bloods are the pictures of people chewing bitter nut. hehehe. Me personally don't like bitter nut but always love to see how majority Papuan are addicted with this "snack". Ansus and surrounding village are also the home for bitter nuts where people cultivating it or collecting from the wild. Beside foods, coffee and cigarettes, bitter nuts is always served to welcome quests or have a meeting of people - we do experienced this in our meeting. To enjoy bitter nut you needs to have sirih and kapur (powder made from burned shell)  as its complement because you cannot produce the red juice with out Sirih and Kapur.






Rabu, 20 Januari 2010

Masohi dan Minyak Lawang di Kensi, Antara Semangat dan Pilihan Ekonomi Yang Belum Tepat

Dengan berjalan kaki sekitar 1,5 jam dari titik Kampung Kensi mendaki 2 bukit dengan jalan yang lumayan terjal kita akhirnya sampai juga di lokasi dimana Abang Hengky Yafata menenjukan dimana lokasi pohon Kayu Lawang dan Pohon Masohi berada. Kedua produk HHBK ini oleh masyarakat Kensi disebutkan sebagai sumber pendapatan cash mereka. "Masohi kita hanya jual kulit di kota dan kadang ada pembeli yang datang ke Sarara (ibu kota Kecamatan Arguni Atas) untuk membeli barang ini" Kata Hengky menjelaskan kembali kulit kayu Masohi ini. Ditambahkannya "Sedangkan Kayu Lawang, pohonnya kita tebang, kemudian ambil kulit kayu-nya dan di saring secara tradisional menggunakan belanga cina". Dengan perjalanan yang cukup melelahkan dan hanya mendapatkan satu pohon dengan jarak yang jauh, saya pun bertanya "apakah betul Masohi yang tumbuh secara liar di Alam Hutan Kampung Kensi ini bisa menjadi pilihan ekonomis produk hutan yang tepat saat ini? Ataukah ini hanya pilihan terpaksa yang harus dilakukan karena kebutuhan akan uang.



Abang Hengky Yafata adalah sosok penting yang sangat dihormati di kampung Kensi, terutama karena gaya dan kemampuan berkomunikasi kensi dengan orang luar yang cukup baik. Hengky tipikal yang mudah bergaul dan cukup mengenal bagaimana peta jejaring penjualan HHBK di Kota Kaimana, karena dia adalah salah satu masyarakat kenci yang memiliki intensitas ke kota yang cukup tinggi. "Tantangan terbesar kita di Kensi ini adalah pemasaran produk, karena kampung ini jaraknya sangat jauh. Saya ini salah satu yang paling aktif dulu menjual masohi dan minyak lawang tetapi sekarang berkurang. Masalah yang masih tetap muncul adalah rendahnya harga beli dan tidak banyak penadah di kota" Hengky menjelaskan bagaimana intensitas dia mengunjungi kota sebelumnya untuk berjualan kulit Masohi bersama dengan persoalan yang dihadapi.  "Di kota harga jual produk ini antara 40-50rb/kg sedangkan biaya yang harus kita keluarkan kalau dihitung-hitung lebih besar dari pemasukan" tambah Hengky menjelaskan persoalan kenapa masohi dan kulit lawang tidak dikelola lagi.

Assesment yang dilakukan tim Livelihood and Landscape Strategy Kaimana dibawah asistensi Andrew Ingles dari IUCN menemukan info sebaga berikut: "Pasar: Selama ini masyarakat kensi memasarkan atau menjual hasil kulit masohi ke pedagang-pedagang besar di kota seperti CV. Senja Indah, Marsuki, CV. Surya Pasifik dan CV. Anggrek, CV. Anugrah, dan CV. Sejahtera.  Haga Jual: Harga yang berlaku terhadap hasil masohi milik masyarakat sangat bervariasi dari harga yang ditetapkan disetiap pembeli. Hal  bergantung pada kualitas masohi yang dijual oleh masyarakat. Dan harga yang berlaku ini ditentukan oleh pembeli. (Harga pembelian tertinggi Rp. 50,000,-/kg). Biaya: Biaya yang dikeluarkan untuk pemanfaatan hasil masohi adalah pada biaya logistic dan transportasi. Biaya logistic dikeluarkan selama kegiatan pencarian, pemanenan sampai pengeringan. Sedangkan biaya trasportasi umumnya dikeluarkan untuk pengakutan hasil masohi kering untuk dijual ke kota. Rata-rata biaya yang dikeluarkan adalah (Rp. 1juta - Rp 1.2jt per trip)

Jarak tempuh yang jauh, kemampuan produksi local yang terbatas dan stock yang terbatas di alam adalah catatan penting bagaimana pilihan untuk mendorong pengelolaan HHBK dengan produk Masohi dan Minyak Lawang di Kampung Kensi saat ini belum tepat. Perlakuan tambahan dengan pengembangan hutan tanaman rakyat untuk dua jenis HHBK ini adalah langkah yang harus diambil untuk mendukung masyarakat mewujudkan semangat dan harapannya pada kedua produk HHBK ini serta mendapatkan manfaat yang optimal darinya. Bang Hengky diakhir perjalanan bersama kami menyampaikan bahwa "tolong dibantu bagaiman agar produk-produk masyarakat dari Kensi bisa mendapatkan pasar yang bagus, kita punya tanah adat luas dan masih bisa mencari lebih banyak lagi" harapan yang tetap masih melihat stock dialam yang sebenarnya terbatas menjadi tumpuan gerakan ekonominya.


Video Cara Pemanenan Kulit Masohi Oleh Masyarakat Kensi


Selasa, 26 Mei 2009

Tabel Berat Tepung Sagu Duri di Sorong Salatan, Barat

Di posting saya sebelumnya http://tapakbatas.blogspot.co.id/2009/05/model-matematis-penduga-berat-tepung.html saya sudah share ringkasan penelitian saya dengan model matematis yang  coba hitung dan hasilkan untuk melihat hubungan korelasi antara volume pohon sagu yang diukur dengan pendekatan diameter (Dbs) dan tinggi bebas pelapah (Tbp). Melengkapi postingan tersebut, tulisan kali ini adalah lebih jauh berbagi tentang table berat tepung basah pohon sagu duri (Matroxylon Rumphii) yang tumbuh disorong selatan dan dimanfaatkan secara massive oleh masyarakat adat disana. Table ini adalah pengolahan lanjutan dari model penduga yang sudah saya susun.

Table ini menurut saya sangat bermanfaat dan akan membantu masyarkat, korporasi, pemrintah atau pihak lain yang ingin secara cepat mengetahui berapa banyak kira-kira jumlah tepung sagu basah yang bisa dihasilkan dari proses extraksi secara tradisional yang dilakukan oleh masyarakat adat di sekitar Kais, Kokoda, Teminabuan, Buuk dan Beraur di Sorong Selatan. Detail tentang tabel berat yang saya dapatkan dari penelitian saya bersama cara membaca dan memahaminya bisa didownload di link ini: https://drive.google.com/file/d/0BygScToA2HKFY0FxM1hHd0lneHc/view?usp=sharing


Dari hasil penelitian dan tabel berat yang saya susun ini saya mencacat point penting bahwa pendekatan penghitungan nilai manfaat sagu kepada masyarakat sedianya tidak dilihat jumlah pohon dan jumlah batang yang ada didalam satu hamparan hutan sagu tetapi dari jumlah tepung yang bisa dihasilkan dari total bataang sagu tersebut. Saya melihat bahwa dengan potensi yang besar sangatlah besar kemungkinan satu waktu exploitasi skala besar akan masuk ke wilayah ini terutama untuk industry pengolahan sagu. Sangatlah disarankan agar pendekatan berat dipakai sebagai acuan dalam penentuan nilai produksi dan manfaat yang harus diterima oleh masyarakat.