My Ideas and Stories About PAPUA

Making the rich and beautiful resources in Papua become the social economic strength for Papuan has become the long home works. Many people believe that the early start to find the answer is by understanding how Papua looks like, their communities and their special strength. And it can be realize by directly in touch with them. This blogs provides you chance to touch and gets insight ideas, trends and stories about Papua.
  • Stories About Beautiful Papua

    Every Single Place In Papua Have Its Stories To Be Shared To Build Other People Understanding About This Island

  • The Last Frotier Primary Forests

    With 42 Million ha of forests, Papua play crucial rules in Indonensia forests development targets.

  • Women and Natural Resources

    Forests or land right are not only about Man. So understanding the roles women and the impact of forests changes to women are also crucial

  • Our Traditional Value

    Papuan Community Have Been Living for Centuries with Their Knowledge and Wisdom in Managing Natural Resources and Practice Best Conservation

  • For Papuan Generation

    Every Works We Do Now Must Be Dedicated To The Future Papuan Generation

  • Dependency to Forests Resources

    Practicing Good Forests Governance in Papus About Understing the Right of Indigenous People and Their Dependency to Natural Resources

  • All Are Wonderful

    You Will Get Good Scene That You May Not Able Somewhere Else - Only In PAPUA

  • Bitter Nut Is Papuan Favorit Gums

    Bitter Nut or In Papua We Call 'Pinang' Is The Local Gum You Can See In Every Corner of the Cities. Papuan People Love To Chewing It. Sometime People Consider It As Contact Material When You Travel to The Village

  • Papuan Traditional Conservation Practices

    For Centuries, Papuan Has Practicing Local Wisdom to Sustainaible Use of Natural Resources. They Have Traditional Education System to Teaching Them How To Interact With Human, Spiritual Power and Understanding The Words Of Nature

Sabtu, 01 Mei 2010

Deskripsi Kampung Esania Distrik Buruway, Kabupaten Kaimana-Provinsi Papua Barat

I. Gambaran Umum

Secara geografis, kampung esania terletak antara 02o 28’ LS sampai diselatan 03o 38’ LS, dan 133o 21’ sampai 133o 36’ BT[1]. Secara administartif Kampung Esania terletak di Distrik Buruway Kabupaten Kaimana. Kampung esania berbatasan langsung dengan kampung Ubia, Distrik Kambrau disebelah Utara, sebelah selatan berbatasan dengan Kampung Yarona, Distrik Buruway dan Laut Arafuru. Sebelah barat berbatasan dengan Kampung Hia dan Tairi Distrik Buruway, serta sebelah timur berbatasan dengan Teluk Kambrau. Wilayah kampung Esania, terbagi kedalam 2 dusun besar yaitu Dusun Esania dan Dusun Kuna, yang didalamnya ada wilayah adat berdasarkan marga besar diantaranya: wilayah adat Marga Naroba, wilayah adat marga Natraka, wilayah adat Marga Goga, wilayah adat marga Aboda, wilayah adat Marga Kurdow dan wilayah adat Marga Badu. Dari peta Master Plan Pembangunan Kehutanan Kabupaten Kaimana wilayah kampung esania masuk dalam kawasan hutan produksi tetap, hutan produksi terbatasan dan hutan produksi konversi. Tipe hutan di wilayah esania sebagian besar di dominasi oleh hutan dataran rendah kering dan hutan rawa serta hutan mangrove yang tumbuh subur dipinggir sungia-sungai besar. Dalam peta tutupan lahan yang dibuat oleh tim lapangan berdasakan hasil kunjungan ke wilayah Kampung Esania diperoleh gambaran tutupan kawasan hutan dan lahan adalah sebagian tegakan eukaliptus dengan tanah berpasir di sekitar kampung, hutan dataran rendah kering, kasawan hutan sekunder (log over area), hutan rawa dan rawa sagu.



Gambar 1. Letak Kampung Esania di Distrik Buruway, Kabupaten Kaimana[2]

II. Penduduk dan Penghidupannya

Jumlah penduduk kampung Esania sekitar 325 jiwa, dengan 61 kepala keluarga. Sebagian besar masyarakat yang tinggal di kampung Esania merupakan pendusuk asli yang memiliki wilayah kekuasaan ada di Esania. Dan dari pembagian suku di Kaimana, wilayah dan masyarakat Esania merupakan bagian dari Suku besa Madewana. Masyarakat di wilayah ini mengenal sistem marga yang menunjukan garis keluarga berdasarkan perkawinan patrilinear (Marga diturunkan dari Marga Ayah). Selain penduduk asli, ada juga beberapa penduduk yang datang dari luar dan menetap untuk sementara waktu karena tututan profesi (Guru, Mantri, Pendeta dan Pedagang). Secara adat, marga-marga (family name/clan) yang barada diwilayah Kampung esania adalah Marga Naroba, Natraka, Goga, Aboda, Kurdow, Badu, Batina, Nanggewa dan Toge. Semua marga ini memiliki wilayah adat di Kampung Esania. Terutama untuk 6 marga besar pertama merupakan marga yang asli kampung Esania. Hampir semua masyarakat kampung Esania beragama Kristen Protestan. Mereka cukup ramah dan hidup dengan aturan agama dan adat yang dipegang kuat.
Sebagian besar dari masyarakat kampung Esania menggantukan hidupnya dari ekstraksi sumber daya hutan yang mereka miliki. Dimana aktifitas-aktifitas itu adalah berkebun tradisional, mencari ikan dan  memanfaatkan kayu. Disamping memanfaatkan sumber daya alam yang mereka miliki, ada pula yang berprofesi sebagai aparat desa. Dalam beberapa tahun terakhir selain memanfaatkan hasil alam, sebagian masyarakat lebih banyak meluangkan waktu di Kampung untuk mengerjakan proyek-proyek pembangunan di Kampung dari Pemerintah. Hasil yang mereka jual ke Kota umumnya adalah kayu gergajian, namun hanya laki-laki yang memiliki akses paling besar terhadap sumber daya hutan kayu ini. Para wanita umumnya hanya bekerja dirumah untuk mengurusi keperluan harian keluarga dan berkebun, namun tidak jarang sebagian dari mereka ikut membantu pekerjaan yang dilakukan oleh lelaki.
Untuk ekstraksi sumber daya hutan, sumber pendapatan uang tunai masyarakat di esania umumnya berasal dari pengambilan kayu untuk dijual ke kota dalam bentuk kayu gergajian dan membuat perahu. Sedangkan hasil kebun, hasil ikan/udang dari sungai, hasil buruan, dan hasil lain yang dikumpulkan dari hutan umumnya hanya untuk konsumsi harian keluarga, dan/atau apabila ada kelebihan biasanya dibagikan ke keluarga yang lain. Hasil perkebunan berupa pala juga turut menyumbang pendatapan tunai bagi masyarakat namun tidak terlalu signifikan seperti hasil kayu atau pendapatan dari proyek pemerintah.


III.  Sarana dan Prasarana Pendukung

Terdapat beberapa fasilitas penunjang di kampung Esania, seperti sebuah jembatan kayu kecil (sekarang kondisinya rusak) untuk tempat parkir perahu atau long boat sebagai sarana transportasi laut utama. Ada sebuah bangunan sekolah dasar (SD) dengan 6 ruang kelas dengan 3 tenaga Guru, ada puskesmas pembantu (PUSTU) dan seorang petugas kesehatan (mantri), Balai dan kantor kampung, 2 bangunan Gereja (GKI dan GPI), serta jalan setapak yang dibangun rapi menggunakan beton. Hampir sebagian besar rumah penduduk di Kampung Esania merupakan rumah permanen layak huni dengan tembok beton (campuran batu, semen dan pasir). Dimana sebagian besar bahan-bahan bangunan berupa semen, seng, dan paku merupakan bantuan dari Pemerintah melalui program-program bantuan sosial dan pembangunan kampung yang ada. Namun ada juga beberapa masyarakat yang sudah mampu membeli sendiri dengan pendapatan tunai yang mereka peroleh dari berbagai aktifitas penghidupnnya. Untuk air bersih, terdapat 6 sumber air utama bagi masyarakat untuk mandi, air minum, dan mencuci. Sumber air ini berupa kolam mata air tanah dan pancuran. Jaraknya tidak jauh dari kampung sehingga tidak terlalu membutuhkan energi yang besar untuk mengangkut air atau mengangkut hasil cucian. Untuk membantu tercukupinya kebutuhan air bersih di kampug Esania ini, pemerintah melalui program PNPM-Mandiri memberikan bantuan satu buah profil tank bagi setiap rumah untuk menampung air sewaktu hujan. Selain sarana air bersih, telah dibangun pula beberapa kamar kecil untuk toilet masyarakat. Untuk mendukung penerangan dikampung, telah di pasang jaringan listrik dari rumah ke rumah serta ada sebuah mesin diesel lampu Yanmart berkapasitas besar yang mambantu untuk mensuplai energy listrik yang dimanfaatkan masyarakat untuk penerangan dimalam hari. Jaringan listrik dan mesin diesel lampu ini merupakan bantuan pemerintah daerah. Selain sebuah mesin ini, sebagian masyarakat di kampung juga memiliki mesin lampu mereka sendiri untuk kebutuhan rumah tangga masing-masing. Aktifitas perekonomian juga kelihatan hidup, masyarakar telah lama mengenal kegiatan jual beli. Di kampung ada 3 buah kios yang menyediakan kebutuhan pokok, rokok serta peralatan lain. Selain itu pedagang ini juga sering kali bertindak sebagai pembeli beberapa hasil bumi masyarakat

IV. Sumberdaya Alam dan Pengelolaannya oleh Masyarakat

Seperti telah disebutkan sebelumnya bahwa semua wilayah di kampung Esania telah terbagi berdasarkan kepemilikannya secara adat, dan pembagian dan batas alam secara adat diakui bersama oleh semua marga adat di kampung Esania. Setiap masyarakat umumnya mengusahakan lahan dan memanfaatkan hasil alam dari wilayah adat mereka. Namun terdapat pula lahan yang dikatakan oleh masyarakat sebagai “wilayah makan bersama” wilayah ini secara kekeluargaan kampung merupakan wilayah yang boleh diakses oleh semua masyarakat di kampung untuk mendapatkan hasil alam.

1.    Hutan
Hutan merupakan sumber daya alam penting bagi penghidupan masyarakat Kampung Esania, hutan menyediakan makanan, obat-obatan, perhiasan, bahan bangunan untuk rumah serta merupakan faktor produksi penting dalam menjamin pendapatan tunai masyarakat. Masyarakat juga mengakui hutan sebagai identitas diri dan budaya mereka. Hutan diwilayah esania ini sudah terbagi menurut wilayah marga atau pertuanan, dan pengakuan secara adat ini telah lama ada dan diakui bersama. Hasil-hasil hutan yang dimanfaatkan oleh masyarakat di kampung Esania antara lain: kayu, hewan buruan, sayuran, buah-buahan hutan, pala hutan, madu, rotan dan getah dammar. Untuk sumber pendapatan tunai dari hutan, umumnya mereka memanfaatkan hasil hutan kayu sebagai sumber pendapatan utama. Kayu umumnya diolah dalam bentuk kayu gergajian yang siap diantar ke kota. Dan kadang kala juga kayu besar diubah menjadi perahu dan dijual. Intensitas-nya pun tidak terlalu sering, tergantung pesanan. Untuk hasil hutan kayu umumnya hanya diakses oleh beberapa tokoh kampung yang memiliki akses terhadap pasar secara baik di kota. Beberapa jenis kayu yang dimanfaatkan masyarakat dan bernilai jual tinggi disajikan pada tabel 1 dibawah. Sedangkan hewan buruan yang selama ini dikejar dan dimanfaatkan adalah Babi, Rusa, Kangguru, Tikus tanah, beberapa jenis burung (Mambruk, Maleo, Merpati Hutan dll).

Tabel 1. Daftar nama kayu yang dimanfaatkan oleh masyarakat di Esania

No
Nama Daerah
Nama Dagang
Nama Latin
1
Kayu Besi
Merbau
Intsia bijuga
2
Kayu Matoa
Matoa
Pometia pinata
3
Kayu Susu
Pulai
Alstonia scholaris
4
Kayu Kuning
Cendana
5
Kayu Linggua
Angsana
Pterocarpus sp
6
Kayu Pala Hutan
Mendarahan
Myristica spp, Knema spp
7
Kayu Bunga
Raja Bunga
8
Kayu Kunang-Kunang


9
Dammar
Agatis
Agatis sp
10
Gufasa
Gopasa
Vitex spp.
11
Sukun Hutan
Terap
12
Bintangur
Bintangur
13
Durian hutan
Durian
Durio spp
14
Kayu Ketapang
Ketapang
Terminalia sp
15
Kedondong Hutan
Kedondong Hutan
16
Benuang
Benuang
17
Kayu Minyak


18
Kayu Bawang
Kulim
19
Kayu Bugis
Bugis
20
Kayu Putih
Eucaliptus

Hasil hutan potensial yang memberikan pengaruh signifikan pada penghasilan masyarakat dalam bentuk uang tunai adalah kayu. Sedangkan hutan bukan kayu dari kebun berupa pala dan kelapa. Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, penebangan kayu oleh masyarakat untuk dijual ke kota terus dilakukan. Begitu juga pala yang dalam setahun memiliki 2 kali masa panen. Untuk teknik dasar pemanenan, masyarakat secara turun menurun sudah mengenal dan memiliki kemampuan untuk mengelolaannya. Kolom dibawah ini merupakan gambaran singkat kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan hasil hutan kayu dan hasil hutan bukan kayu. 





2.    Kebun/Berladang

Berkebun merupakan salah satu aktifitas rutin masyarakat selama ini untuk mendukung penghidupan mereka terutama untuk konsumsi harian keluarga terutama suplai buah-buahan, sayuran dan umbi-umbian. Pola berkebun yang dikembangkan masyarakat masih bersifat tradisional dan masih tetap menggunakan teknik-teknik bertani yang diturunkan oleh dari generasi ke generasi, meskipun dalam beberapa tahun terakhir telah ada introduksi beberapa alat-alat bertani dan bibit tanaman baru untuk dikembangkan masyarakat. Dalam pengelolaannya masing-masing marga memanfaatkan lahan mereka. Ada juga yang menumpang pada wilayah adat marga yang lain, namun telah mendapatkan persetujuan sebelumnya dari pemilik wilayah, atau apabila Ibu/Mama memiliki marga yang sama dengan pemilik hak wilayah. Umumnya wilayah untuk berkebun ini adalah wilayah yang bertanah hitam, karena masyarakat telah memiliki sistem pengetahuan lokal dimana mendidentifikasi tanah hitam sebagai areal yang cocok untuk bertani karena dianggap memiliki kandungan unsur hara atau kesuburan tanah yang baik. Umumnya setiap KK memiliki 1 areal kebun yang ditanami tanaman pangan untuk subsisten. Selain kebun tanaman pangan ini ada juga kebun pala (Myristica argantea) yang umumnya jumlahnya sama dengan jumlah anak laki-laki yang dimiliki sebuah keluarga. Lahan-lahan pekebunan pala ini umumnya tidak jauh dari kampung, dan dalam luasan yang kecil. Hasil pala sendiri belum memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pendapat tunai masyarakat di kampung Esania, meskipun setiap tahun dua kali musim panen. Untuk hasil-hasil kebun yang di tanaman pada kebun atau pekarangan adalah jenis sayur-sayuran dan buah-buahan seperti keladi/talas (Colocasia esculenta), petatas (Ipomoea batatas L), kasbi/singkong (Manihot esculenta. Crantz), papaya (Carica papaya), pisang (Musa paradisiaca L), bayam (Spinacia oleracea), cabe rawit/rica (Capsicum frutescens), serai (Andropogon nardus Linn), sayur gedi (Hibiscus manihot L) dan coklat. Selain itu ada pula yang menanam labu, durian (Durio zibestinus), rambutan (Nephelium lapaceum), kelapa (Cocos nucifera), pinang (Areca pinanga) dan jambu. Masyarakat umumnya bertahan disatu areal untuk berkebun selama 1 atau 2 tahun, mereka akan mempertimbangkan daya dukung lahan terutama pada kesuburan tanah, karena umumnya mereka berpendapat bahwa setelah panen ke-2 atau ke-3 umumnya tanah sudah tidak subur lagi. Setelah lahan ini dianggap tidak menghasilkan lagi, lahan ini akan ditinggal dalam jangka waktu yang lama, umumnya 7 sampai 8 tahun untuk diolah kembali. Dari keterangan para wanita, umumnya lahan-lahan yang ditinggal ini akan mejadi milik anak-anak mereka. Biasanya setelah tanaman jangka pendek telah selesai dipanen, sebelum berpindah ke lahan lain untuk digarap, masyarakat menanam tanaman jangka panjang seperti pohon buah sebagai penanda hak milik.

3.    Mangrove dan Sungai
Sungai dan hutan mangrove yang tumbuh disekitar sungai dalam wilayah kampung Esania merupakan berkat tersendiri bagi masyarakat di kampung Esania. Sungai menjadi jalan tranportasi dan mobilisasi masyarakat dengan perahu, baik ke Kota atau ke kebun-kebun mereka. Selain sebagai jalan transportasi, sungai juga menyediakan udang dan ikan untuk konsumsi masyarakat. Selain udang dan ikan hasil lain seperti siput/bia, belut, kepiting dan buah nipah juga sering dimanfaatkan oleh masyarakat. Sama dengan wilayah hutan dan pertanian, pemanfaatan areal sungai, bakau/mangrove dan nipah juga memperhatikan wilayah marga, jadi umumnya yang memanfaatkan hasil di wilayah mangrove atau nipah adalah mereka yang memiliki hak ulayat pada wilayah tersebut. Marga lain boleh memanfaatkan setelah mendapatkan ijin dari marga pemilik wilayah. Namum masyarakat mengakui bahwa pertuanan marga Naroba adalah pemilik hak ulayat yang berhak untuk memberi ijin pemanfaatan wilayah mangrove dan nipa. Pertuanan Naroba sendiri memberikan kebebasan untuk pemanfaatan hasil sungai dan mangrove dalam jumlah yang terbatas. Hasil kegiatan ini menunjukan bahwa, umumnya hasil yang diperoleh dari sungai dan kawasan mangrove adalah untuk kebutuhan konsumsi keluarga. Selain untuk konsumsi langsung, hasil-hasil ini ada pula yang langsung dijual, namum umumnya hanya dijual di dalam kampung.
Selain hasil sungai berupa ikan, udang dan kepiting, sungai Buruway ini juga memberikan manfaat ekologis yang sangat besar. Mangrove dan hutan sungai yang tumbuh sepanjang sungai bukan hanya sebagai penyangga abrasi arus sungai, tetapi juga sebagai tempat hidup beberapa jenis burung cantik dan kelelawar. Selain kelelawar beberapa jenis hewan merayap seperti buaya, ular dan soa-soa juga memanfaatkan keseimbangan ekosistem sungai ini sebagai tempat mereka untuk hidup.








Gambar 2. Ekosistem sungai Buruway, di pinggir Kampung Esania

Rekomendasi dari master plan pembangunan pertanian Kaimana, menyarankan wilayah sungai ini dan sebagian daerah berawa lain disekitar sungai Buruway-Esania ini sebagai tempat untuk pengembangan komoditas perikanan tambak ikan rawa payau[3].



[1] Sumber: Master Plan Pembangunan Pertanian Kabupaten Kaimana


[2] Sumber Peta: Dokumen Master Plan Pembangunan Kehutanan Kabupaten Kaimana


[3] Sumber: Pemetaan dan tata batas kesepakatan kampung Esania. Peta lokasi dengan koordinat geodesi seperti dalam peta usulan hutan Desa Esania.

Rabu, 20 Januari 2010

Masohi dan Minyak Lawang di Kensi, Antara Semangat dan Pilihan Ekonomi Yang Belum Tepat

Dengan berjalan kaki sekitar 1,5 jam dari titik Kampung Kensi mendaki 2 bukit dengan jalan yang lumayan terjal kita akhirnya sampai juga di lokasi dimana Abang Hengky Yafata menenjukan dimana lokasi pohon Kayu Lawang dan Pohon Masohi berada. Kedua produk HHBK ini oleh masyarakat Kensi disebutkan sebagai sumber pendapatan cash mereka. "Masohi kita hanya jual kulit di kota dan kadang ada pembeli yang datang ke Sarara (ibu kota Kecamatan Arguni Atas) untuk membeli barang ini" Kata Hengky menjelaskan kembali kulit kayu Masohi ini. Ditambahkannya "Sedangkan Kayu Lawang, pohonnya kita tebang, kemudian ambil kulit kayu-nya dan di saring secara tradisional menggunakan belanga cina". Dengan perjalanan yang cukup melelahkan dan hanya mendapatkan satu pohon dengan jarak yang jauh, saya pun bertanya "apakah betul Masohi yang tumbuh secara liar di Alam Hutan Kampung Kensi ini bisa menjadi pilihan ekonomis produk hutan yang tepat saat ini? Ataukah ini hanya pilihan terpaksa yang harus dilakukan karena kebutuhan akan uang.



Abang Hengky Yafata adalah sosok penting yang sangat dihormati di kampung Kensi, terutama karena gaya dan kemampuan berkomunikasi kensi dengan orang luar yang cukup baik. Hengky tipikal yang mudah bergaul dan cukup mengenal bagaimana peta jejaring penjualan HHBK di Kota Kaimana, karena dia adalah salah satu masyarakat kenci yang memiliki intensitas ke kota yang cukup tinggi. "Tantangan terbesar kita di Kensi ini adalah pemasaran produk, karena kampung ini jaraknya sangat jauh. Saya ini salah satu yang paling aktif dulu menjual masohi dan minyak lawang tetapi sekarang berkurang. Masalah yang masih tetap muncul adalah rendahnya harga beli dan tidak banyak penadah di kota" Hengky menjelaskan bagaimana intensitas dia mengunjungi kota sebelumnya untuk berjualan kulit Masohi bersama dengan persoalan yang dihadapi.  "Di kota harga jual produk ini antara 40-50rb/kg sedangkan biaya yang harus kita keluarkan kalau dihitung-hitung lebih besar dari pemasukan" tambah Hengky menjelaskan persoalan kenapa masohi dan kulit lawang tidak dikelola lagi.

Assesment yang dilakukan tim Livelihood and Landscape Strategy Kaimana dibawah asistensi Andrew Ingles dari IUCN menemukan info sebaga berikut: "Pasar: Selama ini masyarakat kensi memasarkan atau menjual hasil kulit masohi ke pedagang-pedagang besar di kota seperti CV. Senja Indah, Marsuki, CV. Surya Pasifik dan CV. Anggrek, CV. Anugrah, dan CV. Sejahtera.  Haga Jual: Harga yang berlaku terhadap hasil masohi milik masyarakat sangat bervariasi dari harga yang ditetapkan disetiap pembeli. Hal  bergantung pada kualitas masohi yang dijual oleh masyarakat. Dan harga yang berlaku ini ditentukan oleh pembeli. (Harga pembelian tertinggi Rp. 50,000,-/kg). Biaya: Biaya yang dikeluarkan untuk pemanfaatan hasil masohi adalah pada biaya logistic dan transportasi. Biaya logistic dikeluarkan selama kegiatan pencarian, pemanenan sampai pengeringan. Sedangkan biaya trasportasi umumnya dikeluarkan untuk pengakutan hasil masohi kering untuk dijual ke kota. Rata-rata biaya yang dikeluarkan adalah (Rp. 1juta - Rp 1.2jt per trip)

Jarak tempuh yang jauh, kemampuan produksi local yang terbatas dan stock yang terbatas di alam adalah catatan penting bagaimana pilihan untuk mendorong pengelolaan HHBK dengan produk Masohi dan Minyak Lawang di Kampung Kensi saat ini belum tepat. Perlakuan tambahan dengan pengembangan hutan tanaman rakyat untuk dua jenis HHBK ini adalah langkah yang harus diambil untuk mendukung masyarakat mewujudkan semangat dan harapannya pada kedua produk HHBK ini serta mendapatkan manfaat yang optimal darinya. Bang Hengky diakhir perjalanan bersama kami menyampaikan bahwa "tolong dibantu bagaiman agar produk-produk masyarakat dari Kensi bisa mendapatkan pasar yang bagus, kita punya tanah adat luas dan masih bisa mencari lebih banyak lagi" harapan yang tetap masih melihat stock dialam yang sebenarnya terbatas menjadi tumpuan gerakan ekonominya.


Video Cara Pemanenan Kulit Masohi Oleh Masyarakat Kensi


Minggu, 20 Desember 2009

Perjalanan ke Kensi, Kampung Di Ujung Batas Kaimana dan Teluk Bintuni


Angin dan hujan malam itu mengantarkan kami sampai tiba di Kota Kaimana kira-kira Jam 8.40 malam. Waktu yang bagi sebagian orang sangatlah berbahaya untuk menyeberangi tanjung Simora mengikuti kuatnya arus  sungai Arguni hanya dengan perahu motor tanpa alat navigasi yang cukup, bergantung pada instinct dan pengalaman sang driver boat. Wajar saja kami tiba tengah malam, karena jarak tempuh yang kami lewati adalah sekitar 6 jam dari hulu sungai Airguni Kampung Kensi tempat dimana kami memulai perjalanan dengan long boat - alat transportasi yang menjadi pilihan utama masyarakat. Dari kensi kami baru bertolak jam 2.45 siang, tetapi karena harus mengejar jadwal yang padat, kami pun harus bisa sampai di Kota untuk melanjutkan assesstment dan kajian yang harus kami lakukan terkait Hasil Hutan Bukan Kayu dari kampung Kensi. Ini adalah akhir cerita penting dari perjalanan kami ke Kampung Kensi dan mengantarkan saya pada tulisan ini tentang kampung Kensi - diujung batas kaimana dan teluk Bintuni dan Diantara batas Suku Mairasi dan Suku Kuri.


Video: menyebrang Sungai Kecil sebelum memasuki kampung

Kampung Kensi Distrik Arguni Atas Kabupaten Kaimana adalah bagian dari kampung-kampung pedalaman yang sulit dijangkau - beberapa diantaranya yang terkenal juga adalah kampung Yamor di Timur Kaimana yang berbatasan dengan Kabupaten Nabire, Papua. Tidak tanggung-tanggung untuk mencapai Kampung yang letaknya yang diutara Kabupaten Kaimana ini minimal waktu 7 jam perjalanan harus disediakan untuk mencapai tempat ini dari Kota. Waktu tempuh tersebut mencakup 6 Jam mengarungi laut, masuk sungai sampai ke muara sungai Kensi dan kemudian dilanjutkan dengan 1 jam berjalan kaki menuju kampung menapaki tebing terjal dan menyeberangi beberapa aliran sungai kecil. Bagi saya, ini adalah pengalaman travelling yang mengasikan menjelajahi Tanah Papua dan memahami bagaimana tidak sederhananya percepatan pembangunan untuk target pertumbuhan ekonomi bisa dirasakan manfaatnya oleh mereka yang tinggal di tempat-tempat terpencil ini. Selefanus Ayi, salah satu masyarakat lokal yang menemani kami pada perjalanan ini mengatakan bahwa "menghitung waktu pasang surut air laut dan sungai harus dilakukan untuk memastikan kita bisa mencapai titik pemberhentian terakhir dari perahu sebelum ke kampung karena apabila terlambat perahu motor tidak bisa mencapai titik terjauh yang artinya kita akan jalan lebih jauh lagi". Infomasi ini dibuktikan memang dengan bagaimana surutnya air dan membuat jalur ke muara sungai menjadi dangkal dan kelihatan bebatuan sungai dibawahnya yang bisa kita langkahi atau lewati dengan hanya berjalan kaki. Pada saat trip balik ke kota, kamipun diberikan pelajaran berharga akan hal ini, terutama karena tidak disiplin dengan info waktu pasang surut air. Karena terlambat berangkat di kampung untuk mencapai titik penjemputan perahu, kami harus menunggu hampir 3 jam di titik penjemputan untuk air kembali pasang dan perahu bisa naik menjemput kami.

Pemandangan yang indah, udara yang sejuk, makanan yang organik dan fresh menyambut dan memberikan cerita tersendiri dari perjalanan panjang ini dan menghilangkan kelelahan yang dirasakan. Kampung Kensi yang berpenduduk hampir 170 jiwa dalam 23 KK ini tersembunyi diam diatas pegunungan utara Kaimana. Kondisi inilah yang menjadi faktor bagaimana hampir 90% penghidupan masyarakat bergantung dan sumber daya alam. Bahkan untuk cash income sebagian dari mereka bergantung dari pembayaran hak ulayat atas hutan yang dimanfaatkan kayu-nya oleh PT. Wanakayu Hasilindo sedangkan sebagian lainnya masih menjual kulit masohi dan daging buruan tetapi jumlah-nya cukup terbatas.


Video: Sungai Arguni-Kensi yang harus dilewati dengan Motor Boat

Posisi dan letaknya yang sangat jauh dari kota sepertinya menjadi faktor utama yang mempengaruhi bagaimana masyarakat di Kampung Kensi tidak banyak mengakses pendidikan yang baik. Terlepas dari fakta tersebut letaknya yang berada pada pertemuan dua kabupaten dan dua suku secara sosial dan administrasi seharusnya menjadikan kensi perhatian tersendiri oleh pemerintah. Dengan jumlah penduduk yang kecil hanya 23 Kepala Keluarga dengan struktur sosial yang sederhana karena hampir 98% penduduk di Kensi adalah Marga Yafata dari Suku Mairasi pendekatan pembangunan melalui jalus sosial dan adat sepertinya bisa menjadi pilihan. Tetapi tentu tantangan untuk mendekatkan pelayanan publik dan akses terhadap fasilitasi penunjang terutama pendidikan dan kesehatan adalah besar, termasuk pembangunan ekonomi masyarakatnya dengan pilihan pada pemanfaatan hasil hutan. Perjalanan panjang pulang pergi dengan jarak dan waktu tempuh yang jauh serta bagaimana tantangan dalam kemampuan mengenal alam dan waktu pasang surut adalah pengalaman dan pelajaran penting. Kensi yang berada di ujung utara kaimana dan merupakan kampung terluar yang berbatasan dengan Kabupaten teluk bintuni memberikan cerita dan catatan tersendiri akan Papua dan dinamika tantangan pembangunan yang dihadapi untuk menjawab tujuan pemerataan.


Rabu, 07 Oktober 2009

Sudah Tahukah Anda Tentang Hubungan Antara Hutan dan Perubahan Iklim Yang Mengkerangkan Diskusi Tentang REDD?

Isu perubahan iklim merupakan berita sangat hangat sakarang ini di telinga kita. Pemanasan global atau dalam bahasa inggrisnya global warming, merupkan suatu fenomena alam dimana bumi mengalami kenaikan suhu ke level yang lebih ekstrim, sehingga berbahaya bagi keberlangsung hidup manusia dan makhluk hidup lain didunia ini.

Beberapa pemicu kenaikan suhu bumi ada emisi gas rumah kaca akibat pembakaran bahan bakar fosi, dan kegiatan penebangan dan penggundulan hutan. Menurut CIFOR (2009), "Ilmuan memperkirankan bahwa emisi yang dirimbulkan dari kegiatan penebangan dan penggundulan hutan mencapai sekitar 20 % dari seluruh emisi gas rumah kaca (GRK)per tahun. Jumlah ini lebih besar dari emisi yang dikeluarkan sektor transportasi secara global" Dari pernyataan diatas terlampir bahwa dengan tidak terkendalinya laju perubahan lingkungan dan kerusakan hutan merupakan alasan kuat untuk mengatakan bahwa bumi kita diambang kepunahan.

Ada pertanyaan yang muncul, "Bagaimana hutan dapat mengeluarkan emisi yang lebih besar dari emisi gabungan yang dikeluarkan oleh mobil, truk. pesawat dan kapal laut?" Nah CIFOR (2009) mencoba menjawab begini katanya "ketika hutan ditebang atau digunduli, biomasa yang tersimpan dalam pohon akan membusuk dan terurai menghasilkan gas karbon (CO2, sehingga meningkatkan konsentrasi GRK di atmosfer yang memerangkap panas yang dipancarkan permukaan bumi. selain itu beberapa kawasan hutan melindungi sejumlah besar karbon yang tersimpan dibawah tanah. Sebagai contoh ketika hutan di lahan gambut dibakar atau kikeringkan, maka emisi karbon yang dikeluarkan tidak hanya terbatas dari vegetasi yang tumbuh di permukaan tanah; bahan organik yang ada didalam tanah juga akan terurai dan mengeluarkan CO2. hutan lahan gambut memiliki lebih banyak karbon dibawah permukaan tanah daripada diatasnya.

Ketika pohon-pohon habis, bumi kehilangan sumberdayanya yang sangat berharga yang seharusnya secara terus menerus menyerap CO2 yang ada di atmosfer. Hasil riset terbaru menunjukan bahwa dari 32 Milyar ton CO2 yang dihasilkan oleh aktivitas manusia per tahunnya kurang dari 5 ton diserap oleh hutan. Jadi kehilangan satu tegakan pepohonan merupakan kehilangan berlipat ganda. Kita tidak hanya kehilangan cadangan karbon di daratan tetapi kehilangan juga ekosistem yang mampu menyerap kelebihan karbon di Atmosfer."


(sumber : http://anjari.blogdetik.com/files/2008/04/efek-rumah-kaca.jpg)

Sekarang ini topik tentang pengurangan emisi dari penebangan dan penggundulan hutan telah bergerak menuju level pusat pada perdebatan international mengenai perubahan Iklim. Ada beberapa pendapat yang menarik yang masih menjadi kontrafersi antar berbagai stakeholder yang bersimpati terhadap lansecap secara menyeluruh. Pendapat ini adalah REDD secara umum dipandang, significant, cheap, quick, dan win-win way untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. Siginificant karena satu dari lima emisi GRK global berasal dari penebangan dan penggundulan hutan, dipandanng Cheap karena sebagian besar kegiatan penebangan dan penggundulan hutan hanya dapat menguntungkan secara merginal, jadi pengurangan emisi GRK dari hutan akan menjadi lebih murah dari kebanyakan pengukuran mitigasi yang lain. Dipandang Quick, karena pengurangan emisi GRK dalam jumlah yang banyak dapat dicapai melalui performa “stroke of pen” dan pengukuran lain yang tidak tergantung pada inovasi teknologi. Dan win-win way karena ada transfer finansial yang secara besar dan pemerintahan yang baik dan dapat menguntungkan bagi masyarakat miskin di negara berkembang dan meyediakan sumber daya yang dibutuhkan.

Dari deskripsi diatas, terlihat secara jelas bahwa dari segi konseptualitas REDD di anggap merupakan jawaban baru atas tantangan yang selama ini ada di dunia poleksoshut (politik, ekonomi dan sosial kehutanan). REDD di pandang secara politik menguntungkan karena merupakan jalan pembangunan dan pengembangan kerjasama diplomatis antara negara-negara penghasil GRK terbesar dengan negara-negara yang memiliki hutan. Secara ekonomi karena dengan keuntungan finansial yang ada mempu mendongkrak kebutuhan belanja negara dan masyarakat serta mampu mendukung pembangunan di daerah. Secara sosial kerana REDD dianggap merupakan salah satu jawaban smart dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat ekonomi lemah yang hidup di dalam dan sekitar hutan.

Sementara itu ada kekhawatiran di balik keuntungan REDD ini. AMAN (Asosiasi Masyarakat Adat Nusantara) mengkawatirkan bahwa akan terjadi ketimpangan dan masalah baru ketika REDD benar-benar terealisasi. Menurut AMAN, selama ini masyarakat adat di Indonesia telah banyak mengalami masalah dengan berbagai penggunaan hutan yang ada. Sebut saja perusahan HPH/HTI, taman nasional dan lain-lain. Masalah ini sampai sekarang sulit untuk di cari titik pemecahan secara adil dengan tidak merugikan kedua belah pihak. Kekhawatiran AMAN adalah, apabila REED benar-benar terealisasi, kemungkinan akan menambah sederet masalah yang akan di hadapi masyarakat adat di dalam dan sekitar hutan. Karena terutama di Indonesia dengan sistem evaluasi dan pengawasan keuangan yang cukup lemah, di khawatirkan akan muncul masalah baru seputar sosial ekonomi masyarakat adat pemilik hutan.

REDD saat ini dianggap merupakan solusi cerdas yang mampu mempertahankan keberlanjutan hutan dunia, namun mekanis pelaksaan, evaluasi dan pengawasan sampai ke tingkat pemanfaat hasil yang lebih rendah perlu di mantapkan sehingga tidak menimbulkan masalah baru bagi masyarakat ada hidup di dalam dan sekitar hutan.

Analisis Dampak Galian Pasir Di Kabupaten Kaimana, Papua Barat

Perkembangan suatu daerah tidak lepas dari kebutuhan akan bahan baku dalam memenuhi kebutuhan pembanguna fisik daerah. Begitu juga dengan Kabupaten Kaimana yang merupakan salah satu kabupaten yang baru dimekarkan. Kebutuhan akan bahan baku bangunan merupakan fakta mutlak dalam mewujudkan laju pembangunan fisik di Kaimana. Salah satu bahan baku bangunan fisik yang selama ini menjadi kebutuhan pokok adalah pasir.

Selama ini pasir untuk kebutuhan pembangunan fisik di kabupaten Kaimana diperoleh dari daerah sekitar pantai Utarom sampai kampung Coa. Didaerah sekitar ini dengan sangat mudah kita temuakan bekas-bekas galian pasir, bahkan ada yang masih tetap digali. Lahan-lahan galian ini merupakan milik perorangan atau keluarga yang dikelola secara bersama dengan system pembagian hasil tertentu.

Penggalian ini dilakukan di pesisir pantai dan juga sebagian dilakukan di daerah darat, 10 – 50 m dari garis pantai. Pasir umumnya digali sedalam 1-1,5 m di tempat lalu pembeli menyediakan truk beserta tenaga pengangkut. Penggalian ini memberikan dampak yang besar terhadap keberlangsungan lansekap sekitar. Dampak yang ditimbulkan tidak saja dampak negative, tetapi juga dampak positif. Dampak-dampak ini akan coba ditelursuri dengan menggunakan pendekatan sederhana yang diharapkan mampu memberikan gambaran nyata sekaligus bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan yang bijaksana terkait pengelolaan bahan galian pasir di Kaimana.

Analisis sederhana berikut diharapkan mampu memberikan gambaran atas dampak dan efek yang ditimbulkan dari kegiatan penggalian pasir di Kaimana. Dampak yang ditelusuri disini tidak berarti bermakna buruk, tetapi ada juga bersifat positif bagi pembangunan masyarakat dan pemerintahan di Kabupaten Kaimana. Harapan kami hasil kajian ini bisa menjadi bahan referensi dalam mengambil keputusan terkait pengelolaan sumberdaya alam secara berkelanjutan.

Tujuan :

  • Meberikan informasi terkait kegiatan penambangan pasir di kaimana
  • Memberikan informasi terkait dampak yang ditimbulkan dari kegiatan
  • penggalian pasir di sepanjang pantai Utarom sampai Kampung Coa
  • Memberikan rekomendasi dalam pertimbangan pilihan keputusan yang bisa dalam
  • mencari titik temu keseimbangan antara aktifitas penggalian pasir dengan pengelolaan kawasan dan pembangunan fisik di Kaimana.

Kerangka Pikiran Umum
(Wijayanto, 2008)

Aktifitas penggalian atau penambangan bahan mineral tanah mengakibatkan dampak yang sangat besar bagi penghidupan masyarakat. Ini karena kegiatan penggalian (baik skala besar maupun kecil), pada dasarnya memiliki daya rusak bagi lingkungan yang sulit dipulihkan. Daya rusak dibatasi pengertiannya sebagai suatu bentuk campur tangan terhadap sistem-sistem alami, yang mengakibatkan rusaknya sistem alami tersebut, sehingga fungsinya berkurang dan bahkan hilang. Semakin besar skala suatu kegiatan penggalian/penambangan maka ia akan berubah menjadi resiko atau ancaman. Resiko a\yang dibiarkan dan tidak dikelola akhirnya menimbulkan dampak berupa kerusakan sistem-sistem alami (ekosistem).

Secara umum aktifitas penggalian bahan mineral dalam tanah membawa pengaruh yang sangat besar bagi keberlangsung setiap segi kehidupan dimuka bumi ini. Begitu pula dengan kegiatan penambangan pasir di Kaimana juga membawa pengaruh yang cukup besar bagi keberlangsungan kehidupan sosial, ekonomi dan ekologi di Kaimana. Dari hasil pengamatan langsung di lapangan, diketahui bahwa hampir semua masyarakat yang memberikan hak wilayahnya untuk diambil pasirnya memiliki hampir 80% pendapatan Uang tunai berasal dari penggalian pasir ini.


Gambar 1. Kerangka pikiran umum atas dampak kegiatan penggalian pasir

Dampak-dampak yang terjadi akibat kegiatan penambangan atau penggalian pasir dapat bersifat langsung, tidak langsung dan meluas. Danpak langsung adalah perubahan yang nampak pada saat kejadian atau perubahan yang terlihat pada tempat penggalian, dan dampak ini bersifat jelas dan meliputi wilayah tertentu. Contohnya terjadi kehilangan vegatasi hutan didaerah sekitar galian, kondisi air disekitar tempat penggalian yang keruh, serta dampak ekonomi langsung yaitu memberikan keuntungan finansial dalam penerimaan uang secara langsung oleh masyarakat.

Dampak-dampak lain yang pasti mengalami perubahan akibat kegiatan penggalian pasir baik jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang yaitu antara lain dampak sosial, ekonomi dan pembangunan didaerah tersebut.

Dampak jangka panjang adalah meluasnya dampak pada aspek-aspek penghidupan, yang jauh dari kerusakan langsung. Masalah-masalah seperti konflik antara masyarakat dengan pemerintah sering kali terjadi di Lokasi penggalian.


Pendekatan Analisis


Kegiatan dilaksanakan selama kurang lebih 3 minggu dari periode tanggal 23 Juni – 27 Juni 2009. Kegiatan dibagi menjadi 2 yaitu kegiatan pengumpulan data dan observasi lapangan, dan kegiatan pengolahan, analisis dan panyajian data.

Pendekatan yang digunkan adalah pendekatan observatif, analisis korelatif dan analisis perubahan dinamik. Pengolah dan analisis data menggunakan beberapa perangkat lunak komputer seperti MS. Excell, dan Stella. 9.


Gambar 2. Kerangka analisis

Kagiatan pembangunan akan memberikan pengaruh berupa perubahan yang signifikan bagi keberlangsungan semua sistem yang saling mempengaruhi didalamnya. Dengan setiap pilihan pembangunan yang akan diambil semuanya akan memberikan dampak yang signifikan.

Analisis ini beranjak dari sebuah pemikiran dasar tentang pilihan pembangunan yang bisa diambil untuk mambangun Kabupaten Kaimana serta bagaimana hubungan penggalian pasir mempengaruhi dan dipengaruhi oleh pilihan pembangunan ini. Dimana coba dibuat 3 pilihan pembangunan dengan berbagai peubah yang beranjak dari hasil wawancara dan asumsi. Pilihan-pilihan ini yaitu:
  1. Kaimana seperti apa adanya, berjalan sesuai dengan pemikiran rencana seperti sekarang ini.
  2. Kaimana diarahkan kepada Kabupaten sentra industri dengan laju pembangunan cukup tinggi, serta alokasi/konversi lahan untuk tujuan komersil besar terus meningkat.
  3. Kaimana diarahkan kepada Kabupaten pariwisata dengan tetap menjaga nilai-nilai kenaekaragaman hayati.
Perubahan yang kemungkinan terjadi dalam periode beberapa tahun kedepan dari 3 pilihan pembangunan yang Bisa diambil untuk Kabupaten Kaimana. 1. Pembangunan Berjalanan dengan perencanaan seperti sekarang. 2. Kaimana dijadikan atau direncanakan untuk menjadi pusat industri besar untuk pengolahan sumber daya alam. 3. Kabupaten Kaimana di jadikan kabupaten pariwisata/konservasi dengan tetap menjaga nilai-nilai kekayaan alamnya. Dinamika prubahan yang kmungkinan terjadi coba ditelusuri dengan alat bantu analisis ini.

a. Pendekatan observatif
Pendekatan ini lebih menitik beratkan pada pengamatan langsung dilapangan dan wawancara dengan orang-orang kunci yang terlibat langsung pada kegiatan pemanfaatan pasir galian. Hasil yang akan dicapai dari pendekatan ini adalah gambaran umum secara singkat tentang kondisi umum daerah yang menjadi tempat penggalian pasir.

b. Pendekatan korelatif
Analisis korelatif secara umum digunakan untuk melihat keeratan hubungan antara variable-variable yang saling mempengaruhi dalam aktifitas penggalian pasir ini. Variable khusus yang yang akan diperhatikan adalah hubungan saling mempengaruhi antara laju pembangunan dengan jumlah produksi pasir galian serta jumlah luas galian dengan tenaga kerja

Analisis korelasi yang digunakan pada kajian kali ini merupkan analisis korelasi dasar. Dimana nilai korelasi (r) yang dihasilkan menunjukan kekuatan hubungan antara peubah yang saling mempengaruhi didalamnya. Apabila nilai r = 0 maka besar kemungkinan menyimpulkan tidak ada hubungan antara peubah yang satu dengan peubah yang lain. Apabila nilai r mendekati +1 atau -1, hal tersebut mencirikan bahwa hubungan antara peubah cukup erat dan saling mempengaruhi. Nilai korelasi minus menunjukan hubungan berbalik, dimana pengaruh yang terjadi adalah pengaruh negatif dimana kenaikan satu peubah, menyebabkan penurunan peubah yang lain. Sedangkan nilai korelasi positif menunjukan hubungan searah dua variabel, dimana kenaikan suatu peubah akan menyebabkan kenaikan peubah yang lain.

c. Pendekatan perubahan dinamik
Pendekatan ini digunkan untuk melihat dinamika perubahan yang terjadi pada lansecap ini. Selain itu juga perndekatan ini digunkan untuk melihat hubungan saling mempengaruhi dan sebab-akibat antar sistem yang satu dengan sistem yang lain. Pendekatan ini secara garis besar digunakan untuk melihat dan mengestimasi dinamika perubahan yang terjadi pada lansecap seiring dengan berjalannya waktu dengan menggunkan batasan-batasan asumsi tertentu. Batasan analsis sederhana ditekankan pada hubungan saling mempengaruhi antara beberapa faktor yaitu pemanfaatan hutan pantai, populasi, income (pendapatan) dan pembangunan. Kerangka model seperti yang disajikan pada gambar selanjutnya.


Gambar 3. Pola hubungan antara sistem-sitem yang coba dilihat perubahannya.

Gambaran Umum Model Penggalian Pasir

Model dibangun dengan pemikiran dasar bahwa ada perubahan secara dinamis terhadap sistem yang ada akibat dari aktifitas penggalian pasir disepanjang pantai utarom-coa, Kaimana. Dengan melihat langsung kondisi yang ada dilapangan dan hasil wawancara langsung diperoleh fakta menarik bahwa penggalian pasir di tempat ini sudah berlangsung sejak lama, Pasir yang diambil di Tempat ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku material untuk pembangunan fisik bangunan di Kabupaten Kaimana.

Secara sederhana model disamping menggambarkan hubungan saling mempengaruhi antar peubah yang mempegaruhi dan dipengaruhi oleh aktifitas penggalian pasir. Dimana dari kerangka model disamping terlihat secara jelas bahwa beberapa sistem besar lansecap ikut dipengaruhi dan mempengaruhi kelanjutan penggalian pasir di Kaimana. Dimana secara sederhana dapat dikatakan bahwa dinamika perubahan pembangunan mendorong banyak perubahan di setiap sektor yang lain.

dari hasil simulasi dapat dilihat bahwa sektor-sektor yang mempengaruhi dan dipengaruhi oleh aktifitas pengggalian pasir adalah sektor populasi dan pekerja, penggunaan lahan serta pendapatan. hasil simulasi juga menunjukan bahwa semakin bertambah jumlah penduduk, mendorong laju pembangunan yang terus meningkat. Laju pembangunan ini manjadi salah satu faktor pendorong meningkatnya kebutuhan akan sumber galian pasir. kegiatan penggalian yang dilakukan disekitar garis pantai menjadi salah satu penggerak degradasi hutan pantai.

Selain dampak ekologis yang ditimbulkan, muncul juga dampak sosial yang bergerak kearah pertumbuhan tenaga kerja dan munculnya nilai sosial baru dalam masyarakat. selain nilai sosial dampak ekonomi juga tidak bisa dipisahkan dimana dilihat dari beredarnya uang sebagai alat tukar umum juga menjadi fenomena menarik yang mendorong laju kegiatan penggalian pasir. Model berikut secara simulatif berusaha menerangkan dinamika perubahan - perubahan diatas dalam satu gambaran yang lebih informatif. Model ini berusaha mengeksplorasi hubungan mempengaruhi dan dipengaruhi atas sistem-sistem diatas. Informasi akan disajikan dalam bentuk gambar grafik dan table sehingga mempermudah melihat trend perubahan yang mungkin akan terjadi.


Hasil Dan Pembahasan

a. Gambaran Umum Lokasi


Lokasi kegiatan penambangan pasir dilakukan disepanjang pantai Utarom-Coa Distrik Kaimana. Secara umum daerah ini merupkan tutupan vegetasi hutan pantai yang mantap dengan didominasi olah tanaman kelapa. Kegiatan penggalian pasir didaerah ini telah berlangsung lama untuk mensuplay kebutuhan pasir untuk pembangunan di kota Kaimana. Hal ini dibuktikan dengan pemandangan bekas-bekas galian dan jalan Truk yang masih ada disepanjang pantai ini.

Pemilik wilayah ini merupakan masyarakat asli Kaimana yang bermukin di Kampung Coa dan beberapa kampung sekitar. Dari hasil penelusuran dilapangan, diperkiran ada sekitar 4 - 5 pemilik wilayah yang meberikan lahan mereka untuk diambil pasirnya serta memiliki sekitar 12 plot penggalian. Umumnya lahan ini merupakan milik keluarga besar dan selanjutnya hasil penjualan akan dibagikan sama banyak kepada setiap keluarga yang punya hak. Namun ada juga yang milik pribadi, karena merupkan warisan dari ayahnya. Setiap harinya mereka mampu menjual sekitar 2 ret (sekitar 2,4 m3) pasir ke pembali. Umumnya harga yang berlaku adalah Rp. 250.000 per ret. Dengan sistem pemilik hanya menjual pasir dilahan mereka, yang akan menggali dan memuat adalah urusan pembeli, jadi yang menyediakan tenaga penggali adalah pembeli.

Dari hasil pengamatan dan wawancara langsung dilapangan, diketahui bahwa rata-rata penjualan pasir tiap bulannya cukup bervariasi pada setiap masyarakat pemilik disini, yaitu berkisar antara 30 – 50 ret (36 – 60 m3) per bulan. Jadi dalam satu bulan, semua masyrakat pemilik lahan pasir mampu mensuplai sekitar 432 – 720 m3 pasir untuk kebutuhan pembangunan kota kaimana.

Tempat penggalian pasir juga berada di dua lokasi yaitu pertama di dalam hutan pantai, dan yang kedua di sepanjang garis pantai. Rata-rata kedalam galian berkisar antara 1 – 1.5 m dengan luasan galian bisa mencapai 0,25 ha per tahun setiap tahunnya. Umumnya daereah bekas galian sulit untuk direstorasi dan umunya daerah ini akan tergenang oleh air apabila hujan turun.

Perubahan yang terjadi terhadap kawasan sekitar penggalian sangat nyata terlihat, hampir 2 – 5% saja tegakan hutan pantai yang tersisa. Selebihnya rusak akibat lingkungan sekitar yang tidak mapu mendukung keberlangsungan hidupnya. Dari hasil pengamatan dilapangan banyakl pohon kelapa yang tumbang dan sebagian besar daerah ini merupkan lahan terbukan dengan hanya tumbuhan bawan seperti petatas pantai yang merambat menutupi permukaan bekas galian. Vegetasi mangrove yang juga sebagai banteng alam terhadap terpaan ombak juga mengalami kerusakan yang cukup parah.

b. Hasil analisis Korelasi

Hasil analisis korelasi menunjukan bahwa terdapat hubungan yang cukup erat antara laju pembangunan fisik di Kaimana dengan kebutuhan akan pasir. Dimana hubungannya adalah hubungan positif dengan nilai korelasi r = 0.68 (68%). Nilai korelasi diatas secara sederhana menggambarkan hubungan yang bahwa peningkatan laju pembangunan fisik kaimana, akan mengakibatkan peningkatan permintaan kebutuhan atas bahan baku pasir.

Hasil analisis korelasi juga menunjukan bahwa ada hubungan yang cukup erat antara peubah pertambahan luas galian pasir dengan pertumbuhan jumlah tenaga kerja. Dimana dari hasil analisis diperoleh nilai koefesien korelasi r = 0.72 (72%). Nilai ini juga merupakan hubungan positif dimana kenaikan/pertambahan luas galian pasir akan mendorong peningkatan kebutuhan akan tenaga tenaga kerja. Tenaga kerja disini dibatasi hanya pada tenaga galian.

c. Hasil Simulasi Pemodelon Penggalian Pasir

Hasil-hasil simulasi pemodelan menggambarkan nilai-nilai yang diprediksi dan ada kemungkinan untuk terjadi apabila asumsi yang berlaku bahwa pertumbuhan pembangunan berjalan tanpa mengalami gangguan politik, ekonomi dan sosial serta bencana alam.

Hasil – hasil simulasi disajikan dalam gambar grafik dan tabel segai berikut:
Sektor

d. Dampak – Dampak Yang Muncul Akbibat Kegiatan Penggalian Pasir

Dampak Ekologis

Kegiatan penggalian pasir membawa dampak yang besar bagi keberlangsungan fungsi ekologis dari kawasan sekitar. Daerah-daerah disekitar penggalian pada awalnya merupakan vegetasi hutan pantai yang mantap yang memiliki fungsi pokok sebagai benteng alam/tembok bagi hantaman ombak. Vegetasi hutan pantai sepanjang pantai Utarom-Coa pada awalnya didominasi oleh vegetasi-vegtasi mangrove, tanaman ketapang, dan rimbunan pohon kelapa yang berjejer disepanjang pantai.

Dari hasil pengamatan dilapangan terlihat jelas bahwa hampir sebagian besar vegetasi yang didominasi oleh Rhyzophora telah rusak dan hilang. Selain itu juga banyak pohon kelapa (Cocos nucifera) dan pohon ketapang (Terminalia catapa) yang telah tumbang umumnya lokasi yang ditemukan kerusakan paling parah merupakan daerah-daerah bekas penggalian pasir. Vegetasi yang ada didaerah ini umunya vegetasi sekunder dengan didominasi oleh tumbuhan bawah yang merambat menutupi seluruh permukaan daerah bekas tebangan. Disebagian tempat lagi hanya sekitar 2 – 5% tegakan yang tinggal dan umumnya tegakan tinggal didominasi oleh pohon kelapa.

Laju kehilangan vegetasi pantai disepanjang pantai Utarom - Coa cukup besar, hal ini didukungan oleh pendapat beberapa warga yang menyatakan bahwa dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, sekitar 5 – 7 m bibir pantai telah hilang akibat hantaman ombak dan umunya daerah dengan kerusakan paling parah dijumpai pada areal bekas galian.


Gambar 4. luas daerah penggalian hingga 20 tahun mendatang

Gambar diatas merupakan hasil kajian dinamika perubahan untuk tiga pilihan pembangunan yang diestimasi terjadi apabila kondisi penambangan tetap seperti sekarang ini. Dimana setiap setiap pilihan pembangunan memberikan pengaruhi yang cukup besar bagi luas areal penggalian. dengan batasan bahwa kebutuhan pasir untuk pembangunan dan perumahan konstan, maka dalam kurun waktu 20 tahun mendatang, areal yang terbuka akibat kegiatan penggalian pasir mancapai angka 100 ha untuk tiga pilihan pembangunan yang akan diambil. Pilihan pembangunan kedua (kaimana menuju pusat industri) memberikan hasil yang cukup besar aDari gambar diatas pula dapat kita lihat sebuah dinamika perubahan yang cukup besar dalam 20 tahun mendatang dimana setiap tahunnya sekitar 1.2 – 3 ha, sehingga dapat dikatakan bahwa dalam kurun waktu 20 tahun kedepan dengan pola pemanfaatan galian pasir seperti yang sekarang ini, maka dinamika perubahan vegetasi pantai yang mantap menjadi tanah terbukan adalah sekitar kurang lebih 100 ha.

Dari segi daya dukung lingkungan, kemungkinan besar kondisi tanah disepanjang pantai Utarom – Coa tidak mampu secara alami mendukung atau menahan pukulan ombak yang tiap menitnya sekitar 28 – 36 kali memukul bibir pantai. Laju aktifitas alam ini secara konsisten akan mempengaruhi kondisi pantai ini dalam beberapa waktu kedepan. Karena kondisi tanah dan vegetasi tidak mampu secara alami mendukung keberlangsungan fungsi ekologis-nya sebagai benteng alam. Daya dukung ekologi perlu diperhatikan dalam rangka meminimalisir pengeluaran pemerintah dalam jumlah besar untuk pembangunan tanggul penahan pukulan ombak.


Gambar 5. Dinamika perubahan hutan pantai di Kaimana, dalam kurun waktu 20 tahun kedepan untuk 3 pilihan pembangunan

Gambar diatas ini semakin menguatkan argumen kita bahwa hutan pantai di kaimana akan mengalami perubahan ke arah yang memperihatinkan karena aktifitas manusia dan aktifitas alam yang tidak dikendalikan. Dimana dari hasil simulasi, dapat diestimasi bahwa dalam kurun waktu 20 tahun kedepan, untuk ketiga pilihan pembangunan, sekitar 500 - 600 ha hutan pantai akan hilang akibat aktifitas alam dan manusia. Sedangkan apabila dibandingkan kehilangan luas hutan pantai paling besar terdapat pada pilihan pembangunan kedua (pusat industri). Hal ini didiorng oleh kebutuhan bahan baku material pasir dalam mendukung pembangunan fisik menyokong kegiatan industri. Grafik menunujukan sebuah perubahan yang cukup besar seiring dengan meningkatnya luas areal penggalian pasir.

Aktifitas penggalian pasir yang terus-menerus berlangsung disepanjang pesisir pantai utarom-coa sangat mempegaruhi daya dukung ekologis dan kondisi wilayah sekitar. Fungsi hutan pantai yang selama ini diharapkan sebagai benteng alam, secara perlahan telah hancur akibat kegiatan penggalian pasir yang terus meningkat. Jadi dapat dikatakan bahwa nilai manfaat ekologi dari keberadaan hutan pantai telah hilang akibat aktifitas manusia.

Dampak Sosial

”Pembangunan mendorong banyak perubahan” ini merupakan suatu gambaran umum sekaligus harapan atas realita dalam kehidupan manusia. Pembangunan mengandung arti luas yang bisa diinterpretasikan secara bebas oleh semua orang. Pembangunan juga melingkupi banyak segi kehidupan manusia dan alam. Sehingga pembangunan dapat dikatakan sebuah pengembangan menuju perubahan.

Pembangunan tidak hanya dipandang dari segi pembangunan fisik saja, tetapi juga pembangunan non-fisik atau pembangunan yang tidak kelihatan secara langsung, tetapi dapat dirasakan melalui perubahan yang terjadi disekitar kita. Salah satu bentuk dari pembangunan ini adalah perubahan sosial masyarakat. Perubahan sosial ini mengandung pengertian bahwa perubahan yang terjadi pada pola hidup masyarkat, pola interaksi dengan sumber daya penghidupan dan pola interaksi antara manusia sebagai makhluk sosial dengan manusia lain dan manusia dengan alam. Kegiatan penambangan pasir di kaimana juga mendorong perubahan sosial yang cukup besar bagi kehidupan sosial masyarakat sekitar.

Hasil wawancara menunjukan bahwa salah satu perubahan yang mencolok dari aktifitas ini pada masyarkat adalah ketergantungan terhadap kebutuhan akan uang. Masyarakat disekitar kampung ini memandang penggalian pasir ini sebagai salah satu sumber penghidupan utama yang memberikan manfaat ekonomi bagi keberlangsungan kehidupannya. Nilai sosial baru ini telah tumbuh dan berkembang di hampir sebagian besar masyarakat. Perubahan besar dari kehidupan subsisten ke orientasi ekonomi komersil merupakan salah satu informasi menarik yang perlu dijadikan bahan referensi dalam perumusan kebijakan pembangunan daerah.

Sebuah pernyataan singkat dari seorang warga bahwa dulunya masyarakat menggantungkan hidupnya pada separuh hasil alam dengan orientasi pada pemenuhan kebutuhan keluarga sehari-hari, maka secara nyata terlihat bahwa aktifitas penggalian pasir mendorong perubahan nilai orientasi sosial yang ada dalam masyarakat.

Hasil menarik lain perlu diperhatikan ialah bahwa terjadi perubahan pola interaksi antara manusia yang satu dengan manusia yang lain. Dimana pada saat ini semua masyarakat dianggap sebagia pelaku ekonomi. Kampung Coa dianggap sebagai pasar bagi sumber daya alam pasir (bahan galian C). Karena disinilah terjadi pertemuan antara pembeli pasir dan penjual pasir (masyarakat pemilik wilayah). Dari gambaran ini diketahui bahwa ada interaksi antara manusia dengan orientasi ekonomi modern, dimana akan terjadi pertukaran antara barang (pasir galian) dengan uang sebagai alat tukar umum.


Gambar 6. Peningkatan permintaan pasir untuk perumahan seiring dengan pertambahan jumlah penduduk

Perubahan lain secara sosial adalah pertamahan jumlah penduduk yang mendorong meningkatnya permintaan terhadap pasir untuk mendukung pembangunan perumahan. Dari grafik diatas terlihat jelas bahwa laju permintaan pasir di kaimana untuk perumahan seiring dengan pertambahan jumlah penduduk berkorelasi positif. Hal ini dikarenakan jumlah keluarga baru yang muncul dan membutuhkan perumahan. Dari grafik diatas dapat diestimasi bahwa dalam kurun waktu 20 tahun kedepan total akumulasi pemakain terhadap pasir untuk perumahan akan mencapai angka 9000 ret atau sekitar 10800 m3. Hal diatas menunjukan bahwa rata permintaan pasir tiap tahun untuk perumahan akan mengalami peningkatan sebanyak 144 ret atau sekitar 173 m3 dengan kisasan kebutuhtan pasir tiap tahun untuk perumahan seiring dengan pertambahan jumlah penduduk kota Kaimana adalah berkisar antara 108 -787 ret per tahun.

Permintaan terhapa pasir untuk perumahan dan pembangunan sarana fisik lain mendorong interaksi antara pembeli dan penjual. Dalam kasus ini muncul proses negosiasi sehingga muncul nilai sosial baru dalam tatanan kehidupan baru. Karena umunya para pembeli berasal dari dari beragam suku luar Kaimana, maka melalui proses negosiasi inilah akan muncul suatu nilai pemahaman sosial yang baru. Beberapa nilai sosial baru umunya masuk dan diserap oleh masyarakat setempat (contoh: cara berpakaian dari masyarakat sekitar sini yang mulai mengikuti cara berpakaian beberapa pembeli yang datang).

Hasil penelusuran juga menemukan bahwa ada perubahan lain terkait dengan tenaga kerja. Dimana tenaga kerjanya akan meningkat seiring dengan perkembangan pembangunan. Hasil pengkajian dan perhitungan dilapangan menunjukan bahwa 1 ret pasir bisa mempekerjakan minimal 5 orang disetiap kegiatan pemanfaatan pasir. Hasil menunjukan bahwa penggalian pasir bisa mempekerjakan minimal 1 driver truk, 3 tenaga penggali, 5 orang tukang cetak batu bata, 3 tukang/kuli bangunan, serta sekitar 5 tanaga pembangunan gedung atau tanggul besar dan masih banyak lagi. Sehingga nilai manfaat sosial yang sudah tumbuh dan menjadi mantap ini sulit untuk dihilangkan.

Dengan analisis korelatif diperoleh hasil bahwa nilai korelasi antara luas areal penggalian dengan pertambahan jumlah tenaga kerja adalah 72 %. Nilai ini menunjukan bahwa ada hubungan saling mempengaruhi antara luas areal penggalian dengan jumlah tenaga kerja. Dimana semakin besar areal penggalian, tenaga kerja yang dibutuhkan juga semakin meningkat. Secara analisis nilai korelasi ini menggambarkan keeratan hubungan antara 2 sistem yang memberikan beberapa nilai sosial baru dalam interaksi manusia yaitu diantaranya tumbuh nilai harapan terhadap keberlangsungan produksi penggalian pasir.

Dari hasil dan gambaran umum diatas secar sederhana dapat dikatakan bahwa penggalian penggalian pasir juga merupakan faktor pendorong perubahan sosial yang menciptakan nilai –nilai sosial baru dalam masyarakat. Manfaat sosial lain adalah terdapat interaksi yang mantap antar manusia dalam proses negosiasi/tawar menawar. Interaksi ini berlangsung lama dan menjadi hubungan kekerabatan, sehingga interaksi ini menumbuhkan jejaring sosial dalam masyarakat.

Dampak Ekonomi

Prinsip ekonomi dasar adalah bagaimana masyarakat memenuhi kebutuhan hidupnya. Berangkat dari nilai sosial yang telah muncul dalam masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada penggalian pasir dimana orientasi utama dari penggalian pasir terutama adalah kebutuhan akan uang, secara langsung dipastikan bahwa masyarakat telah mampu melaksanakan kegiatan ekonomi. Kegiatan ekonomi sederhana yang dilakukan adalah terbentuknya pasar yang mempertemukan pembeli dan penjual dalam rangka proses ekonomi (tawar menawar) antara barang/jasa dengan uang.

Masyarakat pemilik pasir di sepanjang pantai Utarom-Coa mendapatkan manfaat ekonomi yang besar bagi keberlangsungan hidupnya dan keluarga. Manfaat ekonomi yang dirasakan adalah pendapatan dalam bentuk uang tunai. Manfaat ekonomi lain yaitu kemampuan masyarakat untuk menabung dan membeli dimana uang yang diperoleh dari hasil penjualan pasir bisa langsung digunakan untuk membeli keperluan sehari-hari.

Dari hasil wawancara dilapangan diperoleh informasi bahwa rata-rata produksi pasir tiap bulan adalah antara 30 – 50 ret dengan harga rata-rata per ret adalah Rp. 250.000,-. Sehingga dari informasi ini dapat diprediksi rata-rata penerimaan bulanan dari masyarakat pemilik wilayah yang diambil pasirnya. Hasil prediksi dengan menggunakan analisis dinamika perubahan disajikan pada gambar berikut.


Gambar 7. Prediksi pendapatan masyarakat pemilik pasir dalam 12 bulan

Hasil diatas beranjak dari hasil perhitungan bahwa rata-rata (ยต) hasil penggalian bulanan adalah 40 ret dengan standar deviasi (s) 5 dengan harga penjulan pasir per ret adalah Rp. 250.000,- maka diperoleh prediksi pendapatan masyarakat seperti pada gambar diatas. Dimana dari hasil ditunjukan bahwa pendapatan masyarakat setiap bulannya cukup bervariasi, tergantung dari permintaan terhadap pasir, yaitu berkisar antara Rp. 8.000.000,- sampai dengan Rp. 14.000.000,-. Nilai ini cukup besar untuk ukuran pendapatan di Papua. Sehingga ini merupakan salah satu penggerak mengapa masyarakat mau meberikan lahannya untuk diambil pasirnya. Ini merupkan nilai ekonomi yang cukup menggiurkan bagi masyarakat dan pengusaha pasir. Dengan hanya bermodalkan pasir dialam, keuntungan diatas merupakan keuntungan bersih yang diperoleh masyarakat pemilik pasir.

Nilai pendapatan diatas merupakan pendapat bersih karena dalam prakteknya pemilik tidak secara langsung menggali, namun pembeli yang akan secara langsung menggali. Umumnya apabila terjadi kesepakatan harga antara pembeli dan penjual pasir, pembeli akan mengusahakan truk pengangkut dan tenaga penggali. Jadi pemilik pasir/wilayah hanya menunjukan lokasi dan mengontrol jumlah pasir yang diamati harus sesuai dengan kesepakatan transaksi. Tenaga penggali dan truk mendapat bayaran tersendiri dari pembeli. Jadi bayarannya terpisah dengan pembayaran kepada pemilik hak wilayah. Tenaga penggali umunya dibayar Rp. 50.000/ret dan truk pengangkut umumnya Rp. 200.000/trip.


Gambar 8. Hubungan antara pertambahan luas daereh galian dengan kebutuhan tenaga kerja

Seiring dengan laju pembangunan fisik sarana-prasaran yang terus di Kabupaten Kaimana, mendorong peningkatan laju instensitas penggalian pasir dalam memenuhi kebutuhan bahan baku bangunan ini. Hasil nilai korelasi 72% yang menggambarkan keeratan hubungan antara luas areal galian dengan kebutuhan akan tenaga kerja di gunakan untuk mengstimasi jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan untuk kegiatan penggalian pasir dalam kurun waktu 20 tahun kedepan. Hasilnya adalah seperti pada grafik sebelumnya dimana setiap tahunnya seiring dengan permintaan pasir untuk pembangunan peruhan, gerung dan pembangunan fisik lain, kebutuhan akan tenaga kerja untuk penggalian dan pengangkutan juga meningkat. Dengan asumsi bahwa 1 ha areal galian membutuhkan 10 tenaga kerja maka diperoleh hasil bahwa setiap tahunnya kebutuhan tenaga kerja akan meningkat dari 24 tenaga ditahun sekarang mencapai 180 tenaga ditahun ke 20.

Namun sayang menurut penuturan salah satu pegawai pemda bahwa penggalian pasir didaerah dianggap ilegal oleh pemerintah karen digali disepanjang kawasan lindung pantai Utarom-Coa. Disamping itu dari segi ekonomi tidak memberikan kontribusi kepada pemeritah. Selain itu beberap masyarakat diantaranya ada yang tidak membayarar pajak retribusi ke pemerintah. Dengan asumsi bahwa 1 % dari hasil penjualan pasir merupkan retribusi kepada pemerintah maka hasil prediksi retribusi kepada pemerintah dalam kurun waktu 20 tahun kedepan dari kegiatan penggalian pasir adalah sebagai beikut.


Gambar 9. Prediksi penerimaan retribusi dari penggalian pasir

Dari gambar diatas ditunjukan bahwa penggalian pasir juga memberikan pengaruh cukup signifikan terhadap pendapatan Pemerintah daerah dalam berntuk retribusi. Dimana dari hasil simulasi diatas diketahui bahwa apabila retribusi ditetapkan pada level 1 % per ret pasir, setiap tahunnya terjadi peningkatan permintaan pasir dan harga jual pasir tidak mengalami perubahan selama kurun waktu 20 tahun maka total pendapatan tiap tahunnya akan naik dari Rp. 16.000.000,- ditahun pertama menjadi Rp. 35.000.000,- pada 20 tahun kedepan.

Dari gambar juga terlihat bahwa nilai retribusi dari penggalian pasir sangat dipengaruhi oleh perluasan areal penggalian. Nilai retribusi diatas merupakan nilai manfaat ekonomi yang bisa diperoleh pemerintah dari kegiatan penggalian pasir oleh masyarakat.

Namun sayang nilai ekonomis yang cukup menjanjikan ini harus dibayar mahal dengan dengan kehilangan beberapa nilai ekologis dari hutan dan lahan sekitar.

Dampak Pembangunan

Dari waktu ke waktu pasir galian masyarakat memberikan kontribusi yang besar bagi pembangunan di Kabupatn Kaimana. Meskipun pada nyatanya tidak ada retribusi yang dibayarkan kapada pemerintah dalam bentuk uang tunai oleh masyarakat. Dari hasil perhitungan kami diperoleh fakta menarik bahwa rata-rata setiap tahuannya sekitar kurang lebih lahan 2 ha dimanfaatkan untuk pengambilan pasir dan dari situ menyumbang sekitar lebih dari 1000 ret pasir tiap tahun untuk memenuhi kebutuhan pembangunan fisik di Kabupaten Kaimana. Khusus untuk sarana prasarana umum seperti jembatan, jalan, gedung, sarana olah raga dan tanggul penahan ombak, kebutuhan pasir kota kaimana setiap tahunnya minimal 730 ret per tahun.

Dengan demikian usaha penggalian pasir dari sisi ekonomi-pembangunan dinilai merupakan usaha yang bersifat posotif karena memberikan pengaruh yang baik bagi pembangunan ekonomi masyarakat dan pembangunan fisik sarana-prasarana pemerintah. Dari hasil penelusuran di kota kaimana setiap tahun minimal sekitar 10 rumah baru yang dibangun dan dari hasil wawancara didapat informasi bahwa setiap rumah membutuhkan 7 – 12 ret pasir. Dari informasai tersebut dapat dihitung bahwa setiap tahun sekitar 70 – 120 ret pasir digunakan untuk pembanguan perumahan.

Setelah dilakukan simulasi dengan pendekatan dinamika perubahan, dengan mengasumsikan bahwa pemerintah menetapkan retribusi kepada pemilik pasir sebesar 1 % dari hasil penjualan pasir, maka pendapatan yang akan diterima pemerintah pada tahun pertama adalah adalah sebesar Rp. 16.000.000 rupiah. Pendapatan ini akan meningkat seiring dengan pembangunan yang mendorong perluasan areal penggalian pasir. Akhirnya pada tahun yang ke 20 dengan asumsi tidak ada perubahan harga jual pasir maka pemerintah akan memperoleh sekitar Rp. 35.000.000,- dari retribusi penggalian pasir.

Dampak lain ialah pemerintah didorong untuk mengambil kebijakan yang efektif terkait pemanfaatan bahan galian pasir ini. Hasil penelusuran menunjukan bahwa ada konflik antara regulasi pemerintah terkait kawasan lindung setempat dengan kepentingan ekonomi masyarakat sekitar. Penetapan zona pemanfaatan untuk penggalian pasir perlu ditetapkan guna menekan laju degradasi lingkungan.


Kesimpulan dan Rekomendasi

Kesimpulan


  1. Dari hasil kajian sederhana ini ditemukan bahwa kegiatan penggalian pasir memberikan dampak yang cukup signifikasi terhadap keberlangsungan fungsi ekologi dari ekosistem hutan pantai, dimana hutan pantai akan mengalami degradai yang cukup tinggi hingga mencapai angka 1000 ha pada 20 tahun kemudian.
  2. Muncul nilai-nilai dan proses sosial yang terbentuk dari suatu proses interaksi sosial yang mantap. Dimana ada penyerapan kebiasan tertentu dari setiap masyarakat yang berinteraksi.
  3. Pasir galian memberikan manfaat ekonomi yang besar bagi masyarakat dimana keuntungan masyarakat pemilik wilayah/pasir dapat mencapai angka Rp. 13.000.000,-.
  4. Belum adanya regulasi yang mantap terkait pengatura retribusi daerah dari hasil penggalian pasir. Dari hasil prediksi dapat dikatakan bahwa penerimaan pemerintah dari retribusi penggalian pasir dapat mencapai angka 35 juta per tahun.


Rekomendasi


  1. Penetapan zona pemanfaatan yang terlegalisasi dengan peraturan daerah sangat diperlukan guna menunjang keberlanjutan ekosistem hutan pantai
  2. Penetapan nilai retribusi terhadap bahan galian pasir perlu dilaksanakan

oleh pemerintah dengan regulasi yang mantap guna kontribusi bagi pendapatan
asli daerah

Reference:


Laksmi D dan Apriani A.T, 2008. Pengenaan Pajak Lingkungan: Telaah Terhadap RUU Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Jurnal Ekonomi Lingkungan. Jakarta

Sylviani, 2008. Kajian Dampak Perubahan Fungsi Kawasan Hutan Terhadap Masyarakat Sekitar . PUSLITBANGHUT. Bogor

Wijayanto, 2008. Taen Hein.

Sabtu, 04 Juli 2009

Tuangkan Curahan Hati Disni Saja.... "Memandang Hari Esok Dunia Kehutanan di Papua"............

Kondisi pembangunan kehutanan sampai saat ini kelihatan tidak menjadi sebuah primadona dalam pemerintahan. Hutan selalu dipandang sebagai bank yang dapat membrikan kepuasan Finansial bagi setiap pelaku ekonomi didalamnya. Hutan dari waktu ke waktu terus mengalai degradasi dan deforestasi. Laju konversi lahan hutan menjadi areal perkebunan komersil dengan tidak memperhatikan fungsi dasar hutan semakin meningkat.

Ada apa dengan hidup ini? Ini merupakan salah satu pertanyaan yang tanpa sengaja saya dengarkan dari seorang Prof.... Desela-sela pengantar-nya pada sebuah Buku Kehutanan...

Pernyataan ini merupakan satu indikator bahwa seakan banyak orang telah cape memikirkan kemana hutan ini harus di bawa. Semua individu pemikir seperti kehilangan ide dan metode yang mampu digunakan untuk mempertahankan fungsi hutan sebagai pendukung kehidupan bentang alam.

Sangat disayangkan apabilan kita menjadi putus asa untuk berjuang memberikan yang terbaik baik hari depan. Terkadang orang terlalu mengaca dengan kondisi pembangunan lama dan menjadi pesimis terhadap sebuah kemajuan dalam pembangunan. Namun inilah saatnya kita bangkit dan bergerak keatas menuju hari depan penuh harapan.

Kita bersama-sama satu hati satu jiwa memandang pada berkat Tuhan yang besar dan tak ternilai harganya ini. Kita bersama-sama berusaha mengelola dan memanfaatkan sumberdaya ini secara berkelanjutan demi keberlangsungan hidup insan budiman. Adalah sebuah amanah bagi setiap oran beragama untuk mencintai alamnya dan melestarikannya. Karenan dari sinilah kita hidup dan berkembang.