My Ideas and Stories About PAPUA

Making the rich and beautiful resources in Papua become the social economic strength for Papuan has become the long home works. Many people believe that the early start to find the answer is by understanding how Papua looks like, their communities and their special strength. And it can be realize by directly in touch with them. This blogs provides you chance to touch and gets insight ideas, trends and stories about Papua.
  • Stories About Beautiful Papua

    Every Single Place In Papua Have Its Stories To Be Shared To Build Other People Understanding About This Island

  • The Last Frotier Primary Forests

    With 42 Million ha of forests, Papua play crucial rules in Indonensia forests development targets.

  • Women and Natural Resources

    Forests or land right are not only about Man. So understanding the roles women and the impact of forests changes to women are also crucial

  • Our Traditional Value

    Papuan Community Have Been Living for Centuries with Their Knowledge and Wisdom in Managing Natural Resources and Practice Best Conservation

  • For Papuan Generation

    Every Works We Do Now Must Be Dedicated To The Future Papuan Generation

  • Dependency to Forests Resources

    Practicing Good Forests Governance in Papus About Understing the Right of Indigenous People and Their Dependency to Natural Resources

  • All Are Wonderful

    You Will Get Good Scene That You May Not Able Somewhere Else - Only In PAPUA

  • Bitter Nut Is Papuan Favorit Gums

    Bitter Nut or In Papua We Call 'Pinang' Is The Local Gum You Can See In Every Corner of the Cities. Papuan People Love To Chewing It. Sometime People Consider It As Contact Material When You Travel to The Village

  • Papuan Traditional Conservation Practices

    For Centuries, Papuan Has Practicing Local Wisdom to Sustainaible Use of Natural Resources. They Have Traditional Education System to Teaching Them How To Interact With Human, Spiritual Power and Understanding The Words Of Nature

Selasa, 03 Agustus 2010

Potret Sekilas Kampung Tairi, Distrik Buruway, Kabupaten Kaimana

Kampung Tairi merupakan salah satu kampung di wilayah Kabupaten Kaimana, tepatnya di Distrik Buruway, Kabupaten Kaimana, Propinsi Papua Barat. Kampung ini berada dipinggir sungai Buruway. Wilayah ini cukup luas dengan dengan luas wilayah adat sampai bersinggungan dengan wilayah kabupaten Fak-Fak. Kampung ini mengalami pemekaran menajdi kampung defenitif pada tahun 1992, sebemumnya urusan administrasi desa bergabung dengan Kampung Esania. Seluruh masyarakat kampung ini berasal dari suku besar “Madewana”, yang mendiami hulu sungai buruway. Bahasa asli yang digunakan pun bahasa Madewana. Menurut sejarah, wilayah kampung ini milik Marga Onobora, selanjutnya Marga Onobora mengajak marga-marga lain dari kampung sebelan untuk datang dan hidup bersama di kampung Tairi yang sekarang.Sekitar 78 Kepala Keluarga Berada di kampung ini dengan jumlah penduduk lebih dari 350 orang.

Sebagian besar masyarakat kampung masih memiliki pola penghidupan traditional, dengan membuka kebun, berburu dan memancing ikan/udang di sungai. Mata pencaharian atau pekerjaan mereka adalah petani, dan hanya beberapa yang menjadi aparat desa. Dari hasil penerapan alat bantu analisis kesejahteraan, nampak jelas bahwa hasil hutan dan hasil pertanian/perkebunan memberikan pengaruh penting bagi penghidupan masyrakat di tempat ini.

Berdasarkan status kawasan, wilayah ini merupakan wilayah hutan produksi (Tetap, terbatas dan konversi) sehingga menjadi incaran perusahaan. Potensi kayu yang cukup menguntungkan secara ekonomi mendorong PT. Hanurata Berinvestasi di daerah ini, dan sekarang sedang melaksanakan penebangan (BLOK RKT) di wilayah adat masyarakat Tairi ini. Dan dari hasil wawancara dengan masyarakat disini, sebagian dari mereka yang wilayah adatnya sedang diambil kayunya oleh PT. Hanurata telah mendapatkan kompensasi, namun besarannya tidak disebutkan karena ini sangat sensitive dan bisa menjadi pemicu konflik internal di dalam masyarakat sendiri.

Untuk masalah legalisasi kayu dan ijin pemanfaatan kawasan, masyarakat mengakui sangat mendukung pengurusan kepastian kawasan kelola dalam rangka pengeloaan hutan berbasis masyarakat, namun perlu dipastikan bahwa hasil-hasil yang diusahakan oleh masyarakat ada pasarnya dan menguntungkan secara ekonomi kepada masyarakat. Secara cepat pengkajian HHBK membarikan rekomendasi bahwa intervensi kepada pala, udang, kepiting dan pinang akan memberikan pengaruh yang cukup signifikan kepada penghidupan masyarakat. Karena ada pasar dengan nilai ekonomi yang cukup baik di kota kaimana. Pala sendiri selama ini merupakan salah satu sumber pendapatan tunai masyarakat di kampung Tairi ini.

Waktu tim di kampung Tairi ada kunjungan Kepala dsitrik dan tim ke kampung, dan beliau menyampatkan diri untuk berdiskusi dengan masyarakat. Diskusinya seputar pembangunan dan perkembangan di kampung. Dan beliau sempat menyinggung masalah rencana masuknya perusahaan sawit di wilayah tairi. Menurut Pak Kepala Distrik “Perusahan Akan datang ber diskusi secara langsung dengan masyarakat dengan didampingi pihak pemerintah, dan apabila masyarakat tidak setuju, mereka akan berusaha mencari tempat lain”.

Potensi Hutan Kampung Tairi
Hasil kajian ini menunjukan bahwa hutan memberikan kontribusi besar bagi penghidupan masyarakat kampung tairi hal ini ditunjukan dengan peletakan biji-bijian pada hasil hutan yang cukup banyak. Hasil hutan memberikan manfaat tidak hanya untuk penggunaan atau konsumsi masyarakat sendiri secara langsung, namun juga memberikan manfaat ekonomi berupa uang tunai. Hasil hutan yang memberikan pengaruh besar bagi pendapatan uang tunai masyarakat kensi yaitu kayu. Kayu diolah menjadi kayu gergajian dan perahu/long boat lalu dijual dengan harga yang cukup terjangkau. Kayu-kayu yang dimanfaatkan masyarakat Tairi antara lain: Merbau, Marsawa, Ketapang, Baranda, Kayu Bunga, Kayu Bawang, Kayu Matoa, Kayu Bugism Dan Kayu Cina. Hampir semua lelaki dewasa di kampung Tairi bisa mengoperasikan Chain-saw untuk menebang pohon dan membagi batang. Dari hasil identifikasi peringkat kesejahteraan, ditemukan fakta bahwa sekitar 15 KK memiliki chain-saw.

Selain hutan tanah darat, pada beberapa titik ada juga hutan mangrove, hutan nipah dan hutan rawa sagu. Ketiga hutan ini cukup memberikan pengaruh kapada penghidupan masyarakat terutama pada penyediaan makanan. selain hasil hutan kayu, ada juga hasil hutan bukan kayu yang tidak kalah potensinya, hasil hutan bukan kayu untuk makanan, binatang buruan, bahan bangunan, ornament/hiasan dan obat-obatan cukup banyak dihutan. Sebagian besar diantaranya masih tetap dimanfaatkan oleh masyarakat secara langsung.

Potensi Kebuh di Kampung Tairi.
Hasil kegiatan rangking kesejahteraan menunjukan bahwa sekitar 70% masyarakat kampung tairi adalah petani. Dan pola bertani meraka masih bersifat tradisional dan cenderung berpindah ketika kebun tersebut dianggap sudah tidak mampu memberikan nutrisi secara baik bagi tanaman jangka pendek yang ditanam seperti ubi-ubian dan sayuran. Hasil dari berkebun ini sangat berpengaruh pada penghidupan keluarga terutama pada pemenuhi kebutuhan pangan harian keluarga. Masyarakat kampung tairi sangat rajin untuk berkebun.

Minggu, 20 Juni 2010

Belajar Dari Semangat Masyarakat Kensi Mengelola Hutan Adatnya

Menemukan pilihan produk hutan untuk dimanfaatkan oleh masyarakat dalam upaya membangun kesejahteraaan ekonomi dan ketahanan sosial di Papua masih menjadi pekerjaan rumah besar. Banyak studi yang sudah dihasilkan termasuk studi ini, menunjukan bagaimana kuatnya hubungan antara penghidupan masyarakat dengan sumber daya hutannya juga angka kontribusi yang besar sumber daya hutan kepada masyarakat. Namum pertanyaan besar terus ada dikepala kita kenapa masih saja banyak masalah yang muncul dalam upaya-upaya pemanfaatan sumber daya alam oleh masyarakat adat dalam upaya pengentasan kemiskinan? Apa saja faktor-faktor yang menjadi kendala dalam upaya mendukung akses ke sumber daya hutan yang tepat untuk kesejahteraan yang baik?

Paper kali ini adalah analisis dan pengembangan pikiran/ide berdasarkan assessment forests poverty linkage dan NTFPs yang dilakukan selama periode April - November 2009 oleh the Samdhana Insitute dan Perkumpulan Perdu Manokwari, dibawah fasilitasi IUCN melalui projectnya Livelihood and Landscape Strategy (LLS). Judul belajar dari semangat masyarakat Kensi mengelola hutan adatnya saya pilih karena appresiasi dari semangat komunitas untuk berusaha bertahan ditengah tekanan pembangunan dan kebutuhan ekonomi yang tinggi. Hutan dan hidup masih menjadi satu kesatuan dalam komunitas di Kensi. Kensi adalah salah satu kampung Terjauh di Kabupaten Kaimana dengan jangkauan yang sulit, kurang lebih 5 jam harus disediakan untuk menjangkau Kensi dari Ibu Kota Kaimana. Paper ini berusaha untuk menampilkan data-data yang diperoleh dengan sedikit analisis gaps dan challenges yang mungkin perlu dicari jalan keluar untuk membantu komunitas-kommunitas seperti Kensi menemukan pilihan yang tepat dalam pemanfaatan sumber daya alam yang berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat.



Kamis, 06 Mei 2010

Mengenal Tutupan dan Potensi Hutan di Kampung Esania, Kaimana


Tipe-tipe hutan di Esania 

Dataran rendah kering (tanah berpasir): wilayah ini didonminasi oleh pohon-pohon eukaliptus, yang diduga oleh masyarakat sebagai Melaleuca kajuputih (Penghasil minyak kayu putih). Dari hasil estimasi luah hutan ini sekitar 10 ha, dan berada disekitar kampung. Tutupan vegetasi di hutan ini sangat jarang dengan dipenuhi liana, tumbuhan perdu, dan pohon-pohon kecil. Dari identifikasi, pohon-pohon eukaliptus ini berdiameter berkisar antara 10 – 30 cm.

Dataran rendah kering (tanah liat) : tipe hutan ini berada pada ketinggian 9 – 30 m.dpl. Sebaran hutan ini cukup merata di hampir seluruh wilayah esania, dan mendominasi hampir 50% wilayah esania. Didominasi oleh jenis jambu-jambuan, pala hutan, dammar-damar dan jenis-jenis pohon bergetah (ex: cempedak). Di hutan ini juga mudah ditemukan kayu merbau, marsawa, matoa, bunga, minyak, Jenis-jenis dipterocarpaceae dan kayu rimba campuran lain. Untuk kayu-kayu komersil dan dalam kategori siap tebang, penyebarannya juga sangat merata dan dekat-dekat. Jarak rata-rata antara satu pohon komersil dengan yang lain adalah ± 30 m. Serta kayu-kayu ini memiliki diameter yang cukup potensial (d > 1 meter).

Hutan rawa basah (tanah becek, dengan dipenuhi tumpukan serasah): dari hasil kegaitan, didapatkan informasi bahwa hutan ini cukup merata diseluruh wilayah esania. Kondisi wilayah yang datar dengan curah hujan yang cukup tinggi, mendukung terbentuknya hutan ini. Hutan ini hampir mendominasi 30 % wilayah hutan Esania, dan didominasi oleh pandan-pandan dan rotan. Pada hutan ini mulai dengan mudah ditemukan jenis-jenis kayu rawa seperti kayu hitam, bintangur dan pala hutan dengan diameter > dari 1 meter. Pada hutan ini juga mudah ditemukan pohon-pohon dari jenis dipterocarpaceae. Tanah dihutan ini sangat potensial, dan menurut estimasi saya ini merupakan wilayah yang sangat sesuai untuk pengembangan perkebunan sawit.

Hutan mangrove: selain hutan tanah darat seperti yang disebutkan diatas, terdapat juga hutan mangrove yang mendominasi garis sungai esania, jenis-jenis komersial seperti Rhisophora, Bruguera, dan Avicenia, sangat mudah ditemukan di wilayah ini. Bakau diwilayah ini berfungsi sebagai zona penyangga serta protector terhadap abarasi tanah darat oleh karena aliran sungai. Potensi kayu mangrove juga cukup besar, dan memang sangat potensial apabila dikembangkan untuk industry arang bakau skala kecil/menengah. Selain berfungsi sebagai penyangga dan protector terhadap abrasi, mangrove-mangrove di wilayah ini juga berfungsi tempat tinggal keanekaragaman hayati yang tinggal di wilayah ini, terutama: ikan, buaya, burung, dan kelelawar.

Hasil Inventarisasi

Kegiatan ini berhasil mendapatkan 20 plot ukur yang letaknya tersebar diseluruh wilayah esanian. Fokus area yang di inventarisasi adalah daerah sejauh 2 km dari garis sungai, dengan pertimbangan areal-areal ini akan kemungkinan mudah untuk dimanfaatkan dengan alasan pengangkutan kayu ke tempat penimbunan.

Dari kegiatan ini diperoleh gambaran bahwa hampir seluruh wilayah kampung esania yang berhutan, memiliki sebagaran kayu komersial yang merata dengan diameter yang tinggi yang cukup besar (diameter mencapai lebih dari 1 m). Kayu komersial jenis merbau mudah sekali ditemukan karena penyebarannya yang cukup merata diseluruh wilayah. Untuk kayu-kayu komersial lain dari jenis meranti dan kayu indah juga sangat mudah ditemukan. Sehingga untuk usaha kayu. Potensi hutan esania sangat mendukung untuk pengelolaan kayu yang mantap.

Plot yang dibuat adalah plot lingkaran dengan jari-jari (r) = 17,8 m. Dan dalam pencatatannya yang dicatat adalah jumlah, jenis, diameter dan tinggi pohon. Untuk potensi yang diperoleh secara kasar dapat di hitung adalah untuk jenis kayu komersial lebih dari 40 m3/ha. Hasil lapangan selanjutnya akan diolah untuk mendapatkan nilai potensi kayu yang lebih akurat.

Untuk kayu-kayu bekas tebangan, sebarannya tidak mereta dan jumalahnya pun terbatas. Dari hasil kegiatan inventarisasi ini, ditemukan hanya sekitar 10 batang kayu komersil, dan bahwa sebagian besar kayu-kayu ini telah dimanfaatkan dan yang tersisa adalah bagian-bagian kayu yang menurut logger sudah tidak menguntungkan. Hanya ada beberapa yang masih utuh, namun kondisinya semakin buruk karena diserang rayap, serangga atau hama kayu. Selain itu untuk jenis kayu Merbau (besi) yang tersisa adalah bagian pangkal yang keras, yang apabila dipaksakan untuk di belah kemungkinan membutuhkan biaya perawatan dan perbaikan bar chain-saw yang besar.

Temuan lain 

Selain potensi kayu yang besar, terdapat juga potensi hasil hutan bukan kayu lain memiliki nilai ekonomi yang besar untuk mendukung perekonomian masyarakat yaitu rotan. Rotan sangat mudah ditemuakan di daerah Esania ini, terutama pada daerah rawa basah. Sebarannya pun cukup merata mulai dari pinggir sungai kecil sampai jarak 3 km kedalam hutan. Rotan di esania, cukup beragam mulai dari yang berdiameter kecil sampai yang berdiameter besar. Potensinya pun cukup besar.

Dari hasil identifikasi dan observasi di kampung, tidak banyak dari masyarakat di Esania yang memanfaatkan rotan, mereka pada umumnya hanya memanfaatkan kulit kayu dari hutan untuk membuat tomang. Hal ini cukup mendukung, karena rotan yang berada dalam wilyah adat Esania, sangat lestari, hampir sebagian besar belum terjamah.

Penebang Liar

Di wilayah esania ada penebang liar yang beroperasi dengan ijin kelola yang tidak jelas. Menurut keterangan masyarakat mereka adalah para logger dari makasar atau sering disebut dengan “orang bugis”. Selama kegiatan inventarisasi terutama pada wilayah yang dekat dengan aral penebangan, dapat dengan mudah didengar suara chain-saw, serta pada beberapa titik, juga mudah ditemukan beberapa limbah kayu bekas tebang. Umumnya mereka tidak memperhatikan rendemen dari kayu yang ditebang, pada dasarnya jumlah kubikasi yang ditargetkan. Kayu-kayu ini akan dimuat dengan kapal yang akan masuk ke sungai apabila jumlah kayu yang siap diangkut sudah banyak. Menurut keterengan masyarakat, mereka memiliki kontrak lisan dengan masyarakat dikampung, jadi perhitungan bayaran-nya adalah Rp. 5,000,000/sekali angkut oleh kapal. Dugaan saya kayu-kayu ini akan diangkut keluar kota kaimana.

Sabtu, 01 Mei 2010

Deskripsi Kampung Esania Distrik Buruway, Kabupaten Kaimana-Provinsi Papua Barat

I. Gambaran Umum

Secara geografis, kampung esania terletak antara 02o 28’ LS sampai diselatan 03o 38’ LS, dan 133o 21’ sampai 133o 36’ BT[1]. Secara administartif Kampung Esania terletak di Distrik Buruway Kabupaten Kaimana. Kampung esania berbatasan langsung dengan kampung Ubia, Distrik Kambrau disebelah Utara, sebelah selatan berbatasan dengan Kampung Yarona, Distrik Buruway dan Laut Arafuru. Sebelah barat berbatasan dengan Kampung Hia dan Tairi Distrik Buruway, serta sebelah timur berbatasan dengan Teluk Kambrau. Wilayah kampung Esania, terbagi kedalam 2 dusun besar yaitu Dusun Esania dan Dusun Kuna, yang didalamnya ada wilayah adat berdasarkan marga besar diantaranya: wilayah adat Marga Naroba, wilayah adat marga Natraka, wilayah adat Marga Goga, wilayah adat marga Aboda, wilayah adat Marga Kurdow dan wilayah adat Marga Badu. Dari peta Master Plan Pembangunan Kehutanan Kabupaten Kaimana wilayah kampung esania masuk dalam kawasan hutan produksi tetap, hutan produksi terbatasan dan hutan produksi konversi. Tipe hutan di wilayah esania sebagian besar di dominasi oleh hutan dataran rendah kering dan hutan rawa serta hutan mangrove yang tumbuh subur dipinggir sungia-sungai besar. Dalam peta tutupan lahan yang dibuat oleh tim lapangan berdasakan hasil kunjungan ke wilayah Kampung Esania diperoleh gambaran tutupan kawasan hutan dan lahan adalah sebagian tegakan eukaliptus dengan tanah berpasir di sekitar kampung, hutan dataran rendah kering, kasawan hutan sekunder (log over area), hutan rawa dan rawa sagu.



Gambar 1. Letak Kampung Esania di Distrik Buruway, Kabupaten Kaimana[2]

II. Penduduk dan Penghidupannya

Jumlah penduduk kampung Esania sekitar 325 jiwa, dengan 61 kepala keluarga. Sebagian besar masyarakat yang tinggal di kampung Esania merupakan pendusuk asli yang memiliki wilayah kekuasaan ada di Esania. Dan dari pembagian suku di Kaimana, wilayah dan masyarakat Esania merupakan bagian dari Suku besa Madewana. Masyarakat di wilayah ini mengenal sistem marga yang menunjukan garis keluarga berdasarkan perkawinan patrilinear (Marga diturunkan dari Marga Ayah). Selain penduduk asli, ada juga beberapa penduduk yang datang dari luar dan menetap untuk sementara waktu karena tututan profesi (Guru, Mantri, Pendeta dan Pedagang). Secara adat, marga-marga (family name/clan) yang barada diwilayah Kampung esania adalah Marga Naroba, Natraka, Goga, Aboda, Kurdow, Badu, Batina, Nanggewa dan Toge. Semua marga ini memiliki wilayah adat di Kampung Esania. Terutama untuk 6 marga besar pertama merupakan marga yang asli kampung Esania. Hampir semua masyarakat kampung Esania beragama Kristen Protestan. Mereka cukup ramah dan hidup dengan aturan agama dan adat yang dipegang kuat.
Sebagian besar dari masyarakat kampung Esania menggantukan hidupnya dari ekstraksi sumber daya hutan yang mereka miliki. Dimana aktifitas-aktifitas itu adalah berkebun tradisional, mencari ikan dan  memanfaatkan kayu. Disamping memanfaatkan sumber daya alam yang mereka miliki, ada pula yang berprofesi sebagai aparat desa. Dalam beberapa tahun terakhir selain memanfaatkan hasil alam, sebagian masyarakat lebih banyak meluangkan waktu di Kampung untuk mengerjakan proyek-proyek pembangunan di Kampung dari Pemerintah. Hasil yang mereka jual ke Kota umumnya adalah kayu gergajian, namun hanya laki-laki yang memiliki akses paling besar terhadap sumber daya hutan kayu ini. Para wanita umumnya hanya bekerja dirumah untuk mengurusi keperluan harian keluarga dan berkebun, namun tidak jarang sebagian dari mereka ikut membantu pekerjaan yang dilakukan oleh lelaki.
Untuk ekstraksi sumber daya hutan, sumber pendapatan uang tunai masyarakat di esania umumnya berasal dari pengambilan kayu untuk dijual ke kota dalam bentuk kayu gergajian dan membuat perahu. Sedangkan hasil kebun, hasil ikan/udang dari sungai, hasil buruan, dan hasil lain yang dikumpulkan dari hutan umumnya hanya untuk konsumsi harian keluarga, dan/atau apabila ada kelebihan biasanya dibagikan ke keluarga yang lain. Hasil perkebunan berupa pala juga turut menyumbang pendatapan tunai bagi masyarakat namun tidak terlalu signifikan seperti hasil kayu atau pendapatan dari proyek pemerintah.


III.  Sarana dan Prasarana Pendukung

Terdapat beberapa fasilitas penunjang di kampung Esania, seperti sebuah jembatan kayu kecil (sekarang kondisinya rusak) untuk tempat parkir perahu atau long boat sebagai sarana transportasi laut utama. Ada sebuah bangunan sekolah dasar (SD) dengan 6 ruang kelas dengan 3 tenaga Guru, ada puskesmas pembantu (PUSTU) dan seorang petugas kesehatan (mantri), Balai dan kantor kampung, 2 bangunan Gereja (GKI dan GPI), serta jalan setapak yang dibangun rapi menggunakan beton. Hampir sebagian besar rumah penduduk di Kampung Esania merupakan rumah permanen layak huni dengan tembok beton (campuran batu, semen dan pasir). Dimana sebagian besar bahan-bahan bangunan berupa semen, seng, dan paku merupakan bantuan dari Pemerintah melalui program-program bantuan sosial dan pembangunan kampung yang ada. Namun ada juga beberapa masyarakat yang sudah mampu membeli sendiri dengan pendapatan tunai yang mereka peroleh dari berbagai aktifitas penghidupnnya. Untuk air bersih, terdapat 6 sumber air utama bagi masyarakat untuk mandi, air minum, dan mencuci. Sumber air ini berupa kolam mata air tanah dan pancuran. Jaraknya tidak jauh dari kampung sehingga tidak terlalu membutuhkan energi yang besar untuk mengangkut air atau mengangkut hasil cucian. Untuk membantu tercukupinya kebutuhan air bersih di kampug Esania ini, pemerintah melalui program PNPM-Mandiri memberikan bantuan satu buah profil tank bagi setiap rumah untuk menampung air sewaktu hujan. Selain sarana air bersih, telah dibangun pula beberapa kamar kecil untuk toilet masyarakat. Untuk mendukung penerangan dikampung, telah di pasang jaringan listrik dari rumah ke rumah serta ada sebuah mesin diesel lampu Yanmart berkapasitas besar yang mambantu untuk mensuplai energy listrik yang dimanfaatkan masyarakat untuk penerangan dimalam hari. Jaringan listrik dan mesin diesel lampu ini merupakan bantuan pemerintah daerah. Selain sebuah mesin ini, sebagian masyarakat di kampung juga memiliki mesin lampu mereka sendiri untuk kebutuhan rumah tangga masing-masing. Aktifitas perekonomian juga kelihatan hidup, masyarakar telah lama mengenal kegiatan jual beli. Di kampung ada 3 buah kios yang menyediakan kebutuhan pokok, rokok serta peralatan lain. Selain itu pedagang ini juga sering kali bertindak sebagai pembeli beberapa hasil bumi masyarakat

IV. Sumberdaya Alam dan Pengelolaannya oleh Masyarakat

Seperti telah disebutkan sebelumnya bahwa semua wilayah di kampung Esania telah terbagi berdasarkan kepemilikannya secara adat, dan pembagian dan batas alam secara adat diakui bersama oleh semua marga adat di kampung Esania. Setiap masyarakat umumnya mengusahakan lahan dan memanfaatkan hasil alam dari wilayah adat mereka. Namun terdapat pula lahan yang dikatakan oleh masyarakat sebagai “wilayah makan bersama” wilayah ini secara kekeluargaan kampung merupakan wilayah yang boleh diakses oleh semua masyarakat di kampung untuk mendapatkan hasil alam.

1.    Hutan
Hutan merupakan sumber daya alam penting bagi penghidupan masyarakat Kampung Esania, hutan menyediakan makanan, obat-obatan, perhiasan, bahan bangunan untuk rumah serta merupakan faktor produksi penting dalam menjamin pendapatan tunai masyarakat. Masyarakat juga mengakui hutan sebagai identitas diri dan budaya mereka. Hutan diwilayah esania ini sudah terbagi menurut wilayah marga atau pertuanan, dan pengakuan secara adat ini telah lama ada dan diakui bersama. Hasil-hasil hutan yang dimanfaatkan oleh masyarakat di kampung Esania antara lain: kayu, hewan buruan, sayuran, buah-buahan hutan, pala hutan, madu, rotan dan getah dammar. Untuk sumber pendapatan tunai dari hutan, umumnya mereka memanfaatkan hasil hutan kayu sebagai sumber pendapatan utama. Kayu umumnya diolah dalam bentuk kayu gergajian yang siap diantar ke kota. Dan kadang kala juga kayu besar diubah menjadi perahu dan dijual. Intensitas-nya pun tidak terlalu sering, tergantung pesanan. Untuk hasil hutan kayu umumnya hanya diakses oleh beberapa tokoh kampung yang memiliki akses terhadap pasar secara baik di kota. Beberapa jenis kayu yang dimanfaatkan masyarakat dan bernilai jual tinggi disajikan pada tabel 1 dibawah. Sedangkan hewan buruan yang selama ini dikejar dan dimanfaatkan adalah Babi, Rusa, Kangguru, Tikus tanah, beberapa jenis burung (Mambruk, Maleo, Merpati Hutan dll).

Tabel 1. Daftar nama kayu yang dimanfaatkan oleh masyarakat di Esania

No
Nama Daerah
Nama Dagang
Nama Latin
1
Kayu Besi
Merbau
Intsia bijuga
2
Kayu Matoa
Matoa
Pometia pinata
3
Kayu Susu
Pulai
Alstonia scholaris
4
Kayu Kuning
Cendana
5
Kayu Linggua
Angsana
Pterocarpus sp
6
Kayu Pala Hutan
Mendarahan
Myristica spp, Knema spp
7
Kayu Bunga
Raja Bunga
8
Kayu Kunang-Kunang


9
Dammar
Agatis
Agatis sp
10
Gufasa
Gopasa
Vitex spp.
11
Sukun Hutan
Terap
12
Bintangur
Bintangur
13
Durian hutan
Durian
Durio spp
14
Kayu Ketapang
Ketapang
Terminalia sp
15
Kedondong Hutan
Kedondong Hutan
16
Benuang
Benuang
17
Kayu Minyak


18
Kayu Bawang
Kulim
19
Kayu Bugis
Bugis
20
Kayu Putih
Eucaliptus

Hasil hutan potensial yang memberikan pengaruh signifikan pada penghasilan masyarakat dalam bentuk uang tunai adalah kayu. Sedangkan hutan bukan kayu dari kebun berupa pala dan kelapa. Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, penebangan kayu oleh masyarakat untuk dijual ke kota terus dilakukan. Begitu juga pala yang dalam setahun memiliki 2 kali masa panen. Untuk teknik dasar pemanenan, masyarakat secara turun menurun sudah mengenal dan memiliki kemampuan untuk mengelolaannya. Kolom dibawah ini merupakan gambaran singkat kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan hasil hutan kayu dan hasil hutan bukan kayu. 





2.    Kebun/Berladang

Berkebun merupakan salah satu aktifitas rutin masyarakat selama ini untuk mendukung penghidupan mereka terutama untuk konsumsi harian keluarga terutama suplai buah-buahan, sayuran dan umbi-umbian. Pola berkebun yang dikembangkan masyarakat masih bersifat tradisional dan masih tetap menggunakan teknik-teknik bertani yang diturunkan oleh dari generasi ke generasi, meskipun dalam beberapa tahun terakhir telah ada introduksi beberapa alat-alat bertani dan bibit tanaman baru untuk dikembangkan masyarakat. Dalam pengelolaannya masing-masing marga memanfaatkan lahan mereka. Ada juga yang menumpang pada wilayah adat marga yang lain, namun telah mendapatkan persetujuan sebelumnya dari pemilik wilayah, atau apabila Ibu/Mama memiliki marga yang sama dengan pemilik hak wilayah. Umumnya wilayah untuk berkebun ini adalah wilayah yang bertanah hitam, karena masyarakat telah memiliki sistem pengetahuan lokal dimana mendidentifikasi tanah hitam sebagai areal yang cocok untuk bertani karena dianggap memiliki kandungan unsur hara atau kesuburan tanah yang baik. Umumnya setiap KK memiliki 1 areal kebun yang ditanami tanaman pangan untuk subsisten. Selain kebun tanaman pangan ini ada juga kebun pala (Myristica argantea) yang umumnya jumlahnya sama dengan jumlah anak laki-laki yang dimiliki sebuah keluarga. Lahan-lahan pekebunan pala ini umumnya tidak jauh dari kampung, dan dalam luasan yang kecil. Hasil pala sendiri belum memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pendapat tunai masyarakat di kampung Esania, meskipun setiap tahun dua kali musim panen. Untuk hasil-hasil kebun yang di tanaman pada kebun atau pekarangan adalah jenis sayur-sayuran dan buah-buahan seperti keladi/talas (Colocasia esculenta), petatas (Ipomoea batatas L), kasbi/singkong (Manihot esculenta. Crantz), papaya (Carica papaya), pisang (Musa paradisiaca L), bayam (Spinacia oleracea), cabe rawit/rica (Capsicum frutescens), serai (Andropogon nardus Linn), sayur gedi (Hibiscus manihot L) dan coklat. Selain itu ada pula yang menanam labu, durian (Durio zibestinus), rambutan (Nephelium lapaceum), kelapa (Cocos nucifera), pinang (Areca pinanga) dan jambu. Masyarakat umumnya bertahan disatu areal untuk berkebun selama 1 atau 2 tahun, mereka akan mempertimbangkan daya dukung lahan terutama pada kesuburan tanah, karena umumnya mereka berpendapat bahwa setelah panen ke-2 atau ke-3 umumnya tanah sudah tidak subur lagi. Setelah lahan ini dianggap tidak menghasilkan lagi, lahan ini akan ditinggal dalam jangka waktu yang lama, umumnya 7 sampai 8 tahun untuk diolah kembali. Dari keterangan para wanita, umumnya lahan-lahan yang ditinggal ini akan mejadi milik anak-anak mereka. Biasanya setelah tanaman jangka pendek telah selesai dipanen, sebelum berpindah ke lahan lain untuk digarap, masyarakat menanam tanaman jangka panjang seperti pohon buah sebagai penanda hak milik.

3.    Mangrove dan Sungai
Sungai dan hutan mangrove yang tumbuh disekitar sungai dalam wilayah kampung Esania merupakan berkat tersendiri bagi masyarakat di kampung Esania. Sungai menjadi jalan tranportasi dan mobilisasi masyarakat dengan perahu, baik ke Kota atau ke kebun-kebun mereka. Selain sebagai jalan transportasi, sungai juga menyediakan udang dan ikan untuk konsumsi masyarakat. Selain udang dan ikan hasil lain seperti siput/bia, belut, kepiting dan buah nipah juga sering dimanfaatkan oleh masyarakat. Sama dengan wilayah hutan dan pertanian, pemanfaatan areal sungai, bakau/mangrove dan nipah juga memperhatikan wilayah marga, jadi umumnya yang memanfaatkan hasil di wilayah mangrove atau nipah adalah mereka yang memiliki hak ulayat pada wilayah tersebut. Marga lain boleh memanfaatkan setelah mendapatkan ijin dari marga pemilik wilayah. Namum masyarakat mengakui bahwa pertuanan marga Naroba adalah pemilik hak ulayat yang berhak untuk memberi ijin pemanfaatan wilayah mangrove dan nipa. Pertuanan Naroba sendiri memberikan kebebasan untuk pemanfaatan hasil sungai dan mangrove dalam jumlah yang terbatas. Hasil kegiatan ini menunjukan bahwa, umumnya hasil yang diperoleh dari sungai dan kawasan mangrove adalah untuk kebutuhan konsumsi keluarga. Selain untuk konsumsi langsung, hasil-hasil ini ada pula yang langsung dijual, namum umumnya hanya dijual di dalam kampung.
Selain hasil sungai berupa ikan, udang dan kepiting, sungai Buruway ini juga memberikan manfaat ekologis yang sangat besar. Mangrove dan hutan sungai yang tumbuh sepanjang sungai bukan hanya sebagai penyangga abrasi arus sungai, tetapi juga sebagai tempat hidup beberapa jenis burung cantik dan kelelawar. Selain kelelawar beberapa jenis hewan merayap seperti buaya, ular dan soa-soa juga memanfaatkan keseimbangan ekosistem sungai ini sebagai tempat mereka untuk hidup.








Gambar 2. Ekosistem sungai Buruway, di pinggir Kampung Esania

Rekomendasi dari master plan pembangunan pertanian Kaimana, menyarankan wilayah sungai ini dan sebagian daerah berawa lain disekitar sungai Buruway-Esania ini sebagai tempat untuk pengembangan komoditas perikanan tambak ikan rawa payau[3].



[1] Sumber: Master Plan Pembangunan Pertanian Kabupaten Kaimana


[2] Sumber Peta: Dokumen Master Plan Pembangunan Kehutanan Kabupaten Kaimana


[3] Sumber: Pemetaan dan tata batas kesepakatan kampung Esania. Peta lokasi dengan koordinat geodesi seperti dalam peta usulan hutan Desa Esania.

Rabu, 20 Januari 2010

Masohi dan Minyak Lawang di Kensi, Antara Semangat dan Pilihan Ekonomi Yang Belum Tepat

Dengan berjalan kaki sekitar 1,5 jam dari titik Kampung Kensi mendaki 2 bukit dengan jalan yang lumayan terjal kita akhirnya sampai juga di lokasi dimana Abang Hengky Yafata menenjukan dimana lokasi pohon Kayu Lawang dan Pohon Masohi berada. Kedua produk HHBK ini oleh masyarakat Kensi disebutkan sebagai sumber pendapatan cash mereka. "Masohi kita hanya jual kulit di kota dan kadang ada pembeli yang datang ke Sarara (ibu kota Kecamatan Arguni Atas) untuk membeli barang ini" Kata Hengky menjelaskan kembali kulit kayu Masohi ini. Ditambahkannya "Sedangkan Kayu Lawang, pohonnya kita tebang, kemudian ambil kulit kayu-nya dan di saring secara tradisional menggunakan belanga cina". Dengan perjalanan yang cukup melelahkan dan hanya mendapatkan satu pohon dengan jarak yang jauh, saya pun bertanya "apakah betul Masohi yang tumbuh secara liar di Alam Hutan Kampung Kensi ini bisa menjadi pilihan ekonomis produk hutan yang tepat saat ini? Ataukah ini hanya pilihan terpaksa yang harus dilakukan karena kebutuhan akan uang.



Abang Hengky Yafata adalah sosok penting yang sangat dihormati di kampung Kensi, terutama karena gaya dan kemampuan berkomunikasi kensi dengan orang luar yang cukup baik. Hengky tipikal yang mudah bergaul dan cukup mengenal bagaimana peta jejaring penjualan HHBK di Kota Kaimana, karena dia adalah salah satu masyarakat kenci yang memiliki intensitas ke kota yang cukup tinggi. "Tantangan terbesar kita di Kensi ini adalah pemasaran produk, karena kampung ini jaraknya sangat jauh. Saya ini salah satu yang paling aktif dulu menjual masohi dan minyak lawang tetapi sekarang berkurang. Masalah yang masih tetap muncul adalah rendahnya harga beli dan tidak banyak penadah di kota" Hengky menjelaskan bagaimana intensitas dia mengunjungi kota sebelumnya untuk berjualan kulit Masohi bersama dengan persoalan yang dihadapi.  "Di kota harga jual produk ini antara 40-50rb/kg sedangkan biaya yang harus kita keluarkan kalau dihitung-hitung lebih besar dari pemasukan" tambah Hengky menjelaskan persoalan kenapa masohi dan kulit lawang tidak dikelola lagi.

Assesment yang dilakukan tim Livelihood and Landscape Strategy Kaimana dibawah asistensi Andrew Ingles dari IUCN menemukan info sebaga berikut: "Pasar: Selama ini masyarakat kensi memasarkan atau menjual hasil kulit masohi ke pedagang-pedagang besar di kota seperti CV. Senja Indah, Marsuki, CV. Surya Pasifik dan CV. Anggrek, CV. Anugrah, dan CV. Sejahtera.  Haga Jual: Harga yang berlaku terhadap hasil masohi milik masyarakat sangat bervariasi dari harga yang ditetapkan disetiap pembeli. Hal  bergantung pada kualitas masohi yang dijual oleh masyarakat. Dan harga yang berlaku ini ditentukan oleh pembeli. (Harga pembelian tertinggi Rp. 50,000,-/kg). Biaya: Biaya yang dikeluarkan untuk pemanfaatan hasil masohi adalah pada biaya logistic dan transportasi. Biaya logistic dikeluarkan selama kegiatan pencarian, pemanenan sampai pengeringan. Sedangkan biaya trasportasi umumnya dikeluarkan untuk pengakutan hasil masohi kering untuk dijual ke kota. Rata-rata biaya yang dikeluarkan adalah (Rp. 1juta - Rp 1.2jt per trip)

Jarak tempuh yang jauh, kemampuan produksi local yang terbatas dan stock yang terbatas di alam adalah catatan penting bagaimana pilihan untuk mendorong pengelolaan HHBK dengan produk Masohi dan Minyak Lawang di Kampung Kensi saat ini belum tepat. Perlakuan tambahan dengan pengembangan hutan tanaman rakyat untuk dua jenis HHBK ini adalah langkah yang harus diambil untuk mendukung masyarakat mewujudkan semangat dan harapannya pada kedua produk HHBK ini serta mendapatkan manfaat yang optimal darinya. Bang Hengky diakhir perjalanan bersama kami menyampaikan bahwa "tolong dibantu bagaiman agar produk-produk masyarakat dari Kensi bisa mendapatkan pasar yang bagus, kita punya tanah adat luas dan masih bisa mencari lebih banyak lagi" harapan yang tetap masih melihat stock dialam yang sebenarnya terbatas menjadi tumpuan gerakan ekonominya.


Video Cara Pemanenan Kulit Masohi Oleh Masyarakat Kensi


Minggu, 20 Desember 2009

Perjalanan ke Kensi, Kampung Di Ujung Batas Kaimana dan Teluk Bintuni


Angin dan hujan malam itu mengantarkan kami sampai tiba di Kota Kaimana kira-kira Jam 8.40 malam. Waktu yang bagi sebagian orang sangatlah berbahaya untuk menyeberangi tanjung Simora mengikuti kuatnya arus  sungai Arguni hanya dengan perahu motor tanpa alat navigasi yang cukup, bergantung pada instinct dan pengalaman sang driver boat. Wajar saja kami tiba tengah malam, karena jarak tempuh yang kami lewati adalah sekitar 6 jam dari hulu sungai Airguni Kampung Kensi tempat dimana kami memulai perjalanan dengan long boat - alat transportasi yang menjadi pilihan utama masyarakat. Dari kensi kami baru bertolak jam 2.45 siang, tetapi karena harus mengejar jadwal yang padat, kami pun harus bisa sampai di Kota untuk melanjutkan assesstment dan kajian yang harus kami lakukan terkait Hasil Hutan Bukan Kayu dari kampung Kensi. Ini adalah akhir cerita penting dari perjalanan kami ke Kampung Kensi dan mengantarkan saya pada tulisan ini tentang kampung Kensi - diujung batas kaimana dan teluk Bintuni dan Diantara batas Suku Mairasi dan Suku Kuri.


Video: menyebrang Sungai Kecil sebelum memasuki kampung

Kampung Kensi Distrik Arguni Atas Kabupaten Kaimana adalah bagian dari kampung-kampung pedalaman yang sulit dijangkau - beberapa diantaranya yang terkenal juga adalah kampung Yamor di Timur Kaimana yang berbatasan dengan Kabupaten Nabire, Papua. Tidak tanggung-tanggung untuk mencapai Kampung yang letaknya yang diutara Kabupaten Kaimana ini minimal waktu 7 jam perjalanan harus disediakan untuk mencapai tempat ini dari Kota. Waktu tempuh tersebut mencakup 6 Jam mengarungi laut, masuk sungai sampai ke muara sungai Kensi dan kemudian dilanjutkan dengan 1 jam berjalan kaki menuju kampung menapaki tebing terjal dan menyeberangi beberapa aliran sungai kecil. Bagi saya, ini adalah pengalaman travelling yang mengasikan menjelajahi Tanah Papua dan memahami bagaimana tidak sederhananya percepatan pembangunan untuk target pertumbuhan ekonomi bisa dirasakan manfaatnya oleh mereka yang tinggal di tempat-tempat terpencil ini. Selefanus Ayi, salah satu masyarakat lokal yang menemani kami pada perjalanan ini mengatakan bahwa "menghitung waktu pasang surut air laut dan sungai harus dilakukan untuk memastikan kita bisa mencapai titik pemberhentian terakhir dari perahu sebelum ke kampung karena apabila terlambat perahu motor tidak bisa mencapai titik terjauh yang artinya kita akan jalan lebih jauh lagi". Infomasi ini dibuktikan memang dengan bagaimana surutnya air dan membuat jalur ke muara sungai menjadi dangkal dan kelihatan bebatuan sungai dibawahnya yang bisa kita langkahi atau lewati dengan hanya berjalan kaki. Pada saat trip balik ke kota, kamipun diberikan pelajaran berharga akan hal ini, terutama karena tidak disiplin dengan info waktu pasang surut air. Karena terlambat berangkat di kampung untuk mencapai titik penjemputan perahu, kami harus menunggu hampir 3 jam di titik penjemputan untuk air kembali pasang dan perahu bisa naik menjemput kami.

Pemandangan yang indah, udara yang sejuk, makanan yang organik dan fresh menyambut dan memberikan cerita tersendiri dari perjalanan panjang ini dan menghilangkan kelelahan yang dirasakan. Kampung Kensi yang berpenduduk hampir 170 jiwa dalam 23 KK ini tersembunyi diam diatas pegunungan utara Kaimana. Kondisi inilah yang menjadi faktor bagaimana hampir 90% penghidupan masyarakat bergantung dan sumber daya alam. Bahkan untuk cash income sebagian dari mereka bergantung dari pembayaran hak ulayat atas hutan yang dimanfaatkan kayu-nya oleh PT. Wanakayu Hasilindo sedangkan sebagian lainnya masih menjual kulit masohi dan daging buruan tetapi jumlah-nya cukup terbatas.


Video: Sungai Arguni-Kensi yang harus dilewati dengan Motor Boat

Posisi dan letaknya yang sangat jauh dari kota sepertinya menjadi faktor utama yang mempengaruhi bagaimana masyarakat di Kampung Kensi tidak banyak mengakses pendidikan yang baik. Terlepas dari fakta tersebut letaknya yang berada pada pertemuan dua kabupaten dan dua suku secara sosial dan administrasi seharusnya menjadikan kensi perhatian tersendiri oleh pemerintah. Dengan jumlah penduduk yang kecil hanya 23 Kepala Keluarga dengan struktur sosial yang sederhana karena hampir 98% penduduk di Kensi adalah Marga Yafata dari Suku Mairasi pendekatan pembangunan melalui jalus sosial dan adat sepertinya bisa menjadi pilihan. Tetapi tentu tantangan untuk mendekatkan pelayanan publik dan akses terhadap fasilitasi penunjang terutama pendidikan dan kesehatan adalah besar, termasuk pembangunan ekonomi masyarakatnya dengan pilihan pada pemanfaatan hasil hutan. Perjalanan panjang pulang pergi dengan jarak dan waktu tempuh yang jauh serta bagaimana tantangan dalam kemampuan mengenal alam dan waktu pasang surut adalah pengalaman dan pelajaran penting. Kensi yang berada di ujung utara kaimana dan merupakan kampung terluar yang berbatasan dengan Kabupaten teluk bintuni memberikan cerita dan catatan tersendiri akan Papua dan dinamika tantangan pembangunan yang dihadapi untuk menjawab tujuan pemerataan.