My Ideas and Stories About PAPUA

Making the rich and beautiful resources in Papua become the social economic strength for Papuan has become the long home works. Many people believe that the early start to find the answer is by understanding how Papua looks like, their communities and their special strength. And it can be realize by directly in touch with them. This blogs provides you chance to touch and gets insight ideas, trends and stories about Papua.
  • Stories About Beautiful Papua

    Every Single Place In Papua Have Its Stories To Be Shared To Build Other People Understanding About This Island

  • The Last Frotier Primary Forests

    With 42 Million ha of forests, Papua play crucial rules in Indonensia forests development targets.

  • Women and Natural Resources

    Forests or land right are not only about Man. So understanding the roles women and the impact of forests changes to women are also crucial

  • Our Traditional Value

    Papuan Community Have Been Living for Centuries with Their Knowledge and Wisdom in Managing Natural Resources and Practice Best Conservation

  • For Papuan Generation

    Every Works We Do Now Must Be Dedicated To The Future Papuan Generation

  • Dependency to Forests Resources

    Practicing Good Forests Governance in Papus About Understing the Right of Indigenous People and Their Dependency to Natural Resources

  • All Are Wonderful

    You Will Get Good Scene That You May Not Able Somewhere Else - Only In PAPUA

  • Bitter Nut Is Papuan Favorit Gums

    Bitter Nut or In Papua We Call 'Pinang' Is The Local Gum You Can See In Every Corner of the Cities. Papuan People Love To Chewing It. Sometime People Consider It As Contact Material When You Travel to The Village

  • Papuan Traditional Conservation Practices

    For Centuries, Papuan Has Practicing Local Wisdom to Sustainaible Use of Natural Resources. They Have Traditional Education System to Teaching Them How To Interact With Human, Spiritual Power and Understanding The Words Of Nature

Minggu, 29 Desember 2013

Paper/Publication: Mapping, Tenure Right and REDD+ In Indonesia

Summary

Understanding the linkages between forests, peoples and climate changes are important in tropical country to appropriately reduce the impact of deforestation and degradation and enhancing the benefit to forests owner. The appropriate approaches is also needs to reduce the conflict among parties. 

Papua as a part of the last remaining tropical forests in the world plays important position for future emission reduction of GHG. With large and virgin forests cover the island could store a millions of ton carbon. But ironically the large forests with high natural resources treasure not necessary align with the wealth development of Indigenous Papuan. Natural resources conflict are remain high. This is often appear as implication of the weak of local right recognition, lack of community participation and empty space of regulations to cover it. So it is acknowledge that avoiding the increasing of deforestation and degradation in Papua are about how you could helps community to find their right be recognize and get legal chance the manage their resources. 

REDD+ as a new scheme to mitigate the impact of climate changes must also consider the rights issues. But the question then how to know who own the right over the forests? What tools we can uses to understand the linkage community livelihood with a forests? How should REDD working on the place where customary right claim are strong? This will trying to elaborate above questions. This was developed based on 3 years mapping experiences that Samdhana Institute and partners in Papua had. The paper in brief will provide a description about rights and how customary boundary mapping could become an suitable tools for Papua to address the right of land and resources issues. 

Tittle: Mapping, Tenure Right and REDD+ in Indonesia 
Author: Yunus Yumte, Peter Wood and Ita Natalia
Paper: 2012  
DOWNLOAD

Selasa, 10 September 2013

Kajian: Kebijakan Invetasi Berperspektif Gender di Papua

Memastikan bahwa investasi atau perkembangan pembangunan saat memberikan manfaat menyeluruh kepada semua pihak maka perlakukan-perlakukan menyeluruh dan tertata pada aspek sosial yang mempengaruhi pembangunan dan dampak dari Investasi menjadi penting untuk dilakukan. Papua dengan kekayaan sumber daya alam-nya yang melimpah terus menjadi perhatian para kapitalis dan penguasa untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dari sektor pengelolaan SDA. Investasi besar seperti IUPHHK-HA, Konsesi Tambang dan Migas serta kelapa sawit adalah beberapa daftar teratas yang saat ini terus meningkat usulannya di meja pemerintah. Namun dengan fakta-fakta sosial yang sudah banyak diungkap dalam banyak kajian bahwa investasi di Papua selalu berkorelasi positif dengan peningkatan masalah sosial, maka tantangan baru muncul; bagaimana seharusnya kebijakan-kebijakan dikembangkan untuk meminimalisir dampak-dampak negatif yang mungkin akan terjadi dan meluas dikemudian hari?

Gender atau dalam kajian ini ditekankan pada aspek kesetaraan dan keadilan pemanfaatan manfaat antara semua laki-laki dan perempuan merupakan salah satu bagian penting yang harus dikaji, dirumuskan dan dikembangkan instrument khusus untuk memonitor dan mengukur dampak rill maanfaat sebuah Investasi. Perempuan yang selalu dikemas dalam perspektif gender sebagai object kajian, perlu mendapatkan perhatian dalam kebijakan investasi di Papua baik pada posisi sebagai karyawan ataupun posisinya sebagai orang terdampak karena suaminya yang bekerja pada investasi/pembangunan tersebut.

Tulisan berikut secara padat mencoba mengemas cerita, analisis dan rekomendasi kebijakan tentang pembangunan investasi yang perlu memainstreaming gender di Papua. Mengambil studi kasus di 2 perusahaan besar di Manokwari dan Wondama, penulis mencoba mengelaborasi dasar-dasar pikiran tentang fakta-fakta ketidakadilan gender serta bagaimana langkah yang harus diambil pemerintah untuk menjaga agar ketimpangna sosial antara beban dan tanggung jawab pekerjaan serta kesejahteraan keluarga tetap terjadi..


Tittle : Implementasi Kebijakan Responsif Gender di Lingkungan Perusahaan Meminimalkan dan Memarjinalisasikan Kaum Perempuan Papua

Author : Afia. E.P Tahoba
Year     : 2013

DOWNLOAD

Senin, 01 April 2013

Menikmati Indah-nya Senja di Kaimana

Kan ku ingat selalu kan ku kunang selalu 
Senja indah, senja di Kaimana ................. 


Itulah lirik awal lagu Senja di Kaimana ciptaan Alfian artis lawas tahun 1970an. Lagu yang dibuat untuk menggambarkan bagaimana keindahan senja di Kaimana, senja emas dibalut birunya awan semilir hembusan angin dan udara segarnya hutan yang masih tumbuh hijau mengelilingi kota kaimana. Lirik lagu bersama dengan julukan nama 'kota senja' pastinya tidak begitu saja datang. Nama dan lagu ini muncul sebagai gambaran indahnya senja di Kaimana yang hampir setiap sore disaat cuaca cerah bisa kita nikmati. 

Sore ini kami bersiap-siap mencari spot/titik shoot kamera yang baik. Beberapa titik yang direkomendasikan orang-orang pun dijajaki seperti dari pelabuhan Kaimana, dari pertama dan dari bukit Kampung Key. Beberapa hari sebelumnya bahkah mencari lokasi titik shoot di dekat bandara yang jaraknya hampir 35 dengan mobil dari tempat kami menginap; untuk ukuran orang Kaimana ini sudah termasuk jauh jaraknya. Photo yang selalu ingin diabadikan adalah bagaimana matahari menghilang di tanjung kaimana, tanjung simora dan laut arafuru menuju kepulauan kei. Kamipun cukup beruntung sore ini dengan lukisan indah menawan di langit kaimana, potret senja orange berbalut emas dalam awan biru memberikan warna sore ini dan terus memaksa kami untuk memenuhi memori kamera ini dengan tampilan bumi yang indah dan sudah pasti tidak selalu kami saksikan. Sebagai orang non berdomisili di Kaimana dan hanya beberapa kali datang untuk tujuan program, memiliki dan mengabadikan momen bersama dengan latar belakang senja yang indah sudah pasti sebuah kebanggaan tersendiri sekalipun ikatan cerita baru pengalaman bagaimana menikmati satu panorama bumi di Indonesia yang sejak lama menjadi buah bibir. 

Seiring surya meredupkan sinar, Jika datang ke hati berdebar 
Kau usapkan tangan halur mulus, Diluka nan parah penuh debu....

Lanjutan lagu senja di Kaimana terus berlanjut melukiskan Indahnya senja ini. Sebagai salah satu kabupaten baru di Papua Barat dengan lokasinya di pinggir laut dan panorama alam dengan hasil laut yang melipah Kaimana sangat berpotensi untuk berkembang menjadi salah satu destinasi alam yang menjajikan di Papua. Menjual senja yang indah pada musim-musim tertentu dengan kombinasi sea-food culinary sudah pasti kombinasi yang sangat attraktif ditambah lagi dengan titik lokasi mangrove, sungai yang indah dan spot-spot bird watching yang jaraknya tidak jauh dari kota arah ke teluk Arguni. 

Senja yang kami tangkap sore ini sudah pasti sangatlah indah dan membayar rasa penasaran dan memori tentang Kaimana dan bagaimana lukisan senja yang disebutkan dalam lagu-nya alfian. Waktu yang menunjukan pukul 18.15 dan suasan yang mulai gelaps membuat kami harus kembali. Kami pun belajar bahwa periode jam 17.00 - 18.00 adalah timing yang tepat untuk menuju ke titik-ttik yang direkomendasikan untuk mengabadikan Indahnya senja di Kaimana yang menjadi obat alami untuk relaxasi. Namun tentunya mendapatkan gambar yang bagus selain dari pada posisi dan timing yang tepat harus didukung oleh kamera dengan spesifikai dan teknis pengambilan gambar yang baik. Begitulah pengalaman sore ini. 

Kamis, 31 Januari 2013

Catatatan Perjalanan ke Enarotali 23 - 25 Januari 2012

Sambil kembali melihat tulisan-tulisan yang pernah saya buat sebagai catatan perjalanan, saya menemukan kembali catatan ini dan menurut saya penting untuk di share dalam blog saya ini. Perjanalan ini merupakan bagian dari kerjasama antara Samdhana Institute dengan Papua Low Carbon Task Force untuk melihat kemungkinan intervensi untuk pekerjaan-pekerjaan green business di Papua. Perjalanan ini merupakan kunjungan pendahuluan yang dilakukan. Catatan laporan full dari perjanan ini juga sudah saya kembangkan dan tentu tersedia untuk di share apabila ada yang membutuhkan reportnya. Full report yang saya susun berjudul "Catatan Singkat Perjalanan di Enarotali Pengamatan Awal Wilayah Rencana Pengusulan Pengembangan Agrofestry dan Restorasi Lahan-Lahan Terdegradasi Sekitar Danau Paniai - 2012 "


Gambaran Umum Perjalanan

Melanjutkan komunikasi dengan Pak Pendeta Harold Gobay terakit rencana penghijauan dibeberapa areal disekitar Danau Paniai kunjungan awal untuk pengamatan, pengenalan lokasi sekaligus komunikasi awal dengan masyarakat. Pengamatan cepat dilakukan selama kurang lebih 2 jam dan dilanjutkan dengan diskusi bersama ketua-ketua adat dan tokoh-tokoh masyarakat dari wilayah-wilayah sekitar. Ide-ide dasar diawal mengawal kunjungan ini adalah:
-         Mendorong pemanfaatan lahan kosong dan lahan-lahan terdegradasi untuk dimanfaatkan kembali oleh masyarakat dengan menanam pohon dengan sistem tertentu yang mampu memberikan manfaat ekonomi bagi penghidupan mereka.
-         Mempersiapkan sebuah usulan dukungan dari pihak diluar negeri untuk mendukung upaya penyelamatan bumi dan dampak perubahan iklim
-          Mengkomunikasikan ide pemetaan ruang adat sebagai bagian penting dalam pengamanan dan pengakuan wilayah adat masyarakat.

Catatan Hasil Kunjungan

1.       Kondisi Umum Hutan

Berada pada ketinggian lebih dari 1000 mdpl menjadikan wilayah Paniai memiliki vegetasi yang didominasi oleh hutan pegunungan. Beberapa jenis lokal mendominasi kawasan hutan disekitar danau Paniai ini. Selain jenis lokal, ada juga beberapa jenis pohon eksodus yang ditanam didaerah ini seperti pohon kasuari dan pinus. Kayu Kasuari (Casuarina Equisetifolia) sendiri menjadi salah satu sumber bahan bakar (kayu bakar) pilihan utama masyarakat didaerah sekitar pegunungan.

Kawasan Paniai dikelilingi oleh pegunungan-pegunungan dengan tingkat elevasi yang cukup curam dan umumnya hutan menyebar merata pada pegunungan-pegunungan ini. Sekalipun kondisi pegunungan yang cukup curam ini, namun sebagia wilayah dimanfaatkan oleh masyarakat untuk membuka dan mengelola lahan pertanian. Hasil pertanian yang cukup memberikan pengaruh pada pendapatan rumah tangga baik cash maupun non-cash adalah petatas dan beberapa jenis sayuran.

Hasil hutan lain yang kelihatan dijual ke pasar oleh masyarakat dan diperoleh dari hutan-hutan sekitar paniai adalah Rotan. Selain rotan, ada juga beberapa jenis buah lokal yang selama ini dikonsumsi oleh masyarakat dan sebagian diantaranya dijual kepasar. Untuk tanaman industri bernilai pasar potensi, kopi masih menjadi salah satu hasil potensial yang bisa dikembangkan. Beberapa masyarakat mengaku memiliki pohon kopi dalam jumlah yang cukup banyak namun mengalami kendala pada pemasaran sehingga sebagian pohon ditelah ditebang.  

2.       Kekuatan Internal

Kukuatan Internal dari Masyarakat berdasarkan kunjungan awal ini:
-         Secara kelembagaan adat, masyarakat memiliki ikatan emosional kekeluargaan yang cukup kuat. Didalamnya mereka mengenal, mengakui dan menghormati ketua-ketua adat atau tokoh masyarakat berdasarkan marga dan kampung. Ini merupakan potensi kelembagaan yang cukup efektif dalam mendorong komunikasi dan peran aktif anggota masyarakat dari setiap kelompok dan marga di kampung dalam mendukung program
-         Berdasarkan hasil diskusi didapat informasi bahwa secara teknis mereka (masyarakat) telah memiliki pemahaman dan kemampuan dalam pengelolaan lahan mereka. Kemampuan itu diantaranya untuk berladang, mengenal jenis pohon, menjaga kawasan hutan dan menanam pohon untuk kayu bakar dan kopi. Ini merupakan faktor pendukung kemajuan program di awal.
-         Keinginan dan semangat yang tinggi dari masyarakat untuk mendapatkan manfaat ekonomi yang besar dari sumber daya hutan dan lahan yang mereka kelola. Ditunjutkan dengan semangat diawal merespon program-program penanaman pohon secara antusias.
-         Pak Harold Gobay sebagai tokoh masyarakat memiliki semangat dan inisiatif yang kuat dalam mendukung program dan menjadi jembatan komunikasi antara program dengan Masyarakat di Paniai.
-         Sistem kepemilikan lahan yang secara adat dikenal dan diakui secara baik oleh masyarkat.
-         Sekolah Pertanian yang dikelola oleh Pak Harold menjadi potensi akademis untuk mempersiapkan tenaga-tenaga pendamping lokal dengan pengetahuan dasar pertanian yang baik.
-         Informasi dari Pak harold Bahwa telah ada koperasi “....” yang dibentuk. Harapannya akan menjadi lembaga bisnis awal untuk menampung hasil-hasil masyarakat.

Kekuatan Internal dari PEMDA:

Sekalipun tidak mendapatkan kesempatan untuk pertemuan langsung dengan pihak Pemerintah Daerah namun komunikasi  yang telah terbangun antara Pak John Mampioper dan Pak Kepala BAPPEDA KAB Paniai sebagai catatan awal menunjukan respon dukungan yang cukup baik.


3.       Kekuatan Eksternal

-          Ide reforestasi atau aforestasi merupakan satu kegiatan yang juga menjadi konsen pemerintah propinsi dan Nasional. Sehingga dukungan baik teknis maupun pendanaan kemungkinan besar bisa dididapatkan.
-          Beberapa komoditi lokal yang teridentifikasi seperti kopi memiliki potensi pasar yang cukup potensial diluar Enarotali dengan nilai pasar komoditi yang cukup tinggi dengan rantai perdagangan yang mudah teridentifikasi.
-          Dukungan yang diberikan dari beberapa negara maju untuk aktifitas-aktifitas yang bertemakan isu adaptasi dan mitigasi terhadap perubahan iklim. Dimana reforestasi menjadi bagian dari skema global yang bisa mendapatkan dukungan.
-          Ketertarikan dan semangat dari Task Force Pembangunan Rendah Karbon Papua untuk mendorong community based land and forest management dengan gagasan pendanaan people to people.
-          Kecenderungan mendapatkan dukungan teknis dan pendanaan dari sumber lain (NGO) dengan isu yang didorong. Komunikasi menjadi aspek penting untuk memastikan partisipasi ini.

4.       Tantangan Internal

Tantangan Internal dari Sisi masyarakat yang teridentifikasi selama perjalanan:
-          Pengalaman masyarakat dari program-program dengan thema serupa pada beberapa tahun sebelumnya baik yang difasilitasi oleh Pemerintah maupun beberapa NGO yang pernah bekerja di Paniai. Dimana aspek pemasaran dan dukungan sampai pada pencapaian manfaat ekonomi belum tercapai. Contoh: Kopi yang ditanam dengan dukungan WFI sampai sekarang belum mendapatkan pasar yang memuaskan.
-          Keterwakilan semua kelompok dan tokoh masyarakat. Melihat konteks kultur dan ikatan kekeluargaan yang kuat antar masyarakat yang direncancakan menjadi target tuk difasilitasi, komunikasi secara menyeluruh diawal menjadi penting untuk meminimalisir kesalahpahaman.
-          Membangun semangat dan usaha masyarakat untuk berupaya mengakses pasar untuk memasarkan komoditi unggulan mereka dengan nilai jual yang menguntungkan.
-          Menghidupkan badan-badan usaha lokal untuk merangsang semangat dan ketertarikan masyarakat untuk aktif dalam kegiatan ekonomi tertata.
-          Belum banyaknya tenaga-tenaga potensial lokal yang akan siap membantu untuk aspek manajemen bisnis dan kontrol terhadap aktifitas di lapangan - mecatat dan melaporkan.
-          Memastikan pembagiaan manfaat yang adil berdasarkan hak kepemilikan atas ruang dan sumber daya alam diatasnya. Ikatan kultur dan kekeluargaan yang kuat mempengaruhi sistem pengelolaan lahan termasuk klaim atas lahan. Kebutuhan untuk memfasilitasi komunikasi untuk pengaturan dan pengakuan bersama antar masyarakat tentang pemilikan dan pemanfaatan lahan – resolusi kemungkinan kesalahpahaman di kemudian hari dari sekarang.
-          Belum adanya peta wilayah adat, peta kampung dan peta marga yang dapat membantu program
-          Belum terdatanya jumlah pohon kopi yang masih produktif untuk mendukung pemasaran

Tantangan Internal Dari Pihak Pemerintah Daerah
-          Data dan informasi tentang potensi sumber daya alam masyarakat yang dapat mendorong percepatan pembangunan ekonomi masyarakat.
-          Politisasi program ke masyarakat untuk kepentingan tertentu sehingga menimbulkan ketidakpercayaan masyarakat apabila program dikerjakan bersama PEMDA
-          Belum menempatkan pengelolaan sumberdaya lokal untuk pembangunan ekonomi masyarakat sebagai program prioritas. Dimana salah satu contohnya belum aktifnya PEMDA membantu mendorong pemasaran hasil masyarakat dari Kampung ke Pengumpul.

5.       Tantangan Eksternal
-          Mengembangkan dokumen usulan yang bisa meyakinkan donor dari luar untuk memberikan dukungan baik teknis maupun pendanaan kepada program secara keseluruhan
-          Mendorong pemasaran produk kopi secara cepat dengan maksud merangsang semangat masyarakat untuk aktif mendukung program
-          Menjembatani komunikasi aktif para pihak yang diharapkan memeberikan dukungan kepada program.
-          Mempersiapkan bantuan teknis dan transfer informasi dan pengetahuan kepada pengelola lokal untuk secara bertahap mandiri mengelola bisnis komoditi potensial di daerah

Apa yang harus dipersiapkan?
Berdasarkan hasil pengamatan dan penilaian cepat diatas satu pertanyaan kritis yang keluar adalah apa yang harus dipersiapkan pada phase-phase awal kegiata untuk meminimalisir resiko ketidaklancaran pelaksanaan program kedepan?

Beberapa pemikiran yang muncul untuk menjawab pertanyaan diatas adalah:
1.       Melengkapi Data dan Informasi. Data-data spasial wilayah yang akan di intervensi program, data penduduk, biofisik kawasan serta analisis-analisis dengan kualitas baik tentang kesesuaian lahan. Proses ini bisa dimulai dengan membangun sistem data base tentang site program di sekretariat task force dan memulai mengumpulkan data-data dan informasi yang berhubungan dengan site program di Paniai.
2.       Menyiapkan draft program design document. Berdasarkan data dan informasi awal yang tersedia tim diharapkan sudah bisa memulai membuat desai awal program.
3.       Melaksanakan assesment dan  feasibillity study terpadu untuk memfinalkan draft program design document.
4.       Membangun komunikasi dan partisipasi aktif para pihak terutama di tinggkat masyarakat: Memastikan bahwa masyarakat secara jelas menerima informasi program serta memahami apa yang akan dilakukan di wilayah mereka dan mengambil keputusan tanpa tekanan apakah mendukung program atau tidak. Proses konsultasi dan komunikasi aktif sebaginya sudah dimulai.
5.       Melakukan pendataan jumlah pohon kopi masyarakat dan identifikasi jaringan pasar kopi dan mencari sumber pendanaan awal sebagai rangsangan usaha pembelian dan penjualan kopi masyarakat.
6.       Memantapkan badan usaha lokal milik masyarakat dan membantu menyusun strategyc bussiness plan untuk pemasaran kopi. Berdasarkan data jumlah pohon kopi produktif masyarakat dan informasi pasar yang tersedia.
7.       Mencari sumber dana awal untuk rangsangan pemasaran kopi masyarakat. Membangun komunikasi aktif untuk updating program ke pihak-pihak terkait yang siap mendukung.