My Ideas and Stories About PAPUA

Making the rich and beautiful resources in Papua become the social economic strength for Papuan has become the long home works. Many people believe that the early start to find the answer is by understanding how Papua looks like, their communities and their special strength. And it can be realize by directly in touch with them. This blogs provides you chance to touch and gets insight ideas, trends and stories about Papua.
  • Stories About Beautiful Papua

    Every Single Place In Papua Have Its Stories To Be Shared To Build Other People Understanding About This Island

  • The Last Frotier Primary Forests

    With 42 Million ha of forests, Papua play crucial rules in Indonensia forests development targets.

  • Women and Natural Resources

    Forests or land right are not only about Man. So understanding the roles women and the impact of forests changes to women are also crucial

  • Our Traditional Value

    Papuan Community Have Been Living for Centuries with Their Knowledge and Wisdom in Managing Natural Resources and Practice Best Conservation

  • For Papuan Generation

    Every Works We Do Now Must Be Dedicated To The Future Papuan Generation

  • Dependency to Forests Resources

    Practicing Good Forests Governance in Papus About Understing the Right of Indigenous People and Their Dependency to Natural Resources

  • All Are Wonderful

    You Will Get Good Scene That You May Not Able Somewhere Else - Only In PAPUA

  • Bitter Nut Is Papuan Favorit Gums

    Bitter Nut or In Papua We Call 'Pinang' Is The Local Gum You Can See In Every Corner of the Cities. Papuan People Love To Chewing It. Sometime People Consider It As Contact Material When You Travel to The Village

  • Papuan Traditional Conservation Practices

    For Centuries, Papuan Has Practicing Local Wisdom to Sustainaible Use of Natural Resources. They Have Traditional Education System to Teaching Them How To Interact With Human, Spiritual Power and Understanding The Words Of Nature

Senin, 30 November 2015

Mengenal Kerangka Pikir Pemetaan Indikatif Batas Wilayah Adat di Papua


Diawali dengan komitmen pembagian peran dan tanggung jawab para pihak yang tergabung dalam mitra pembangunan mendukung upaya pemerintah daerah Kabupaten Tambrauw untuk membangun kerangka hukum dan kebijakan terkait pembangunan konservasi berbasis masyarakat di wilayahnya kegiatan pemetaan muncul sebagai alat untuk membantu pemerintah dan mitra memahami peta penguasaan dan pemilikan wilayah adat. Kebutuhan yang muncul adalah bagaimana secara cepat mendapatkan data dan informasi spasial dan sosial tentang hak masyarakat adat di Tambrauw. Dimana data ini juga menyajikan secara cepat fakta-fakta antropologis tentang hubungan antara masyarakat dengan sumber daya alamnya yang diatur dalam tata nilai dan aturan adat yang kuat. Permintaan ini kemudian menjadi bahan diskusi panjang untuk merumuskan pilihan pendekatan pemetaan yang bisa diambil. "Pemetaan Indikatif Wilayah Adat" kemudian muncul sebagai usulan kerangka tersebut. Pendekatan ini dipilih agar secara cepat kita bisa mendapatkan informasi antropologis, sosial dan spatial tentang hak masyarakat adat dalam suku-suku di Kabupaten Tambrauw dan bagaimana hubungannya. Didalamnya juga tergambarkan informasi tentang zonasi wilayah adat dan pola-pola pemanfaatan sumberdaya alam yang selama ini diterapkan oleh masyarakat adat didalam wilayah adatnya. 

Pemetaan Indikative bukanlah hasil final dari pemetaan partisipatif untuk mengetahui detail kepemilikan sehingga tidak bisa digunakan untuk tujuan-tujuan resolusi konflik batas atau tujuan lain yang membutuhkan informasi detail. Hasil dari pemetaan ini hanya akan menyediakan data dasar untuk membantu pemerintah daerah dan para praktisi pemetaan untuk selanjutnya mendorong dan memfasilitasi pemetaan detail yang lebih partisipatif dan padat diskusi sosial. 

Beranjak dari perhatian bahwa, pilihan metode ini akan memunculkan banyak pertanyaan terutama di level praktisi dan pemerhati pemetaan sehingga tulisan tentang kerangka pikir dari metode dan pendekatan pemetaan indikatif ini disajikan. Tulisan ini menyajikan secara ringkat hal-hal menyangkut definisi, prinsip dan tata cara dari pemetaan indikatif. Tentu kami berharap referensi ini bisa menjadi bahan diskusi dan pengembangan lebih jauh dari metode pemetaan wilayah adat cepat untuk merekam informasi, social antropologis dan spasial dari hak-hak masyarakat adat atas tanah dan sumber daya alamnya. Hasil dari pemetaan indikatif ini sendiri bisa digunakan sebagai lampiran dari produk legal daerah yang ingin didorong sebagai payung hukum dari pengakuan dan perlindungan hak masyarakat adat di daerah. Silahkan download detail tulisanya di link berikut: https://drive.google.com/file/d/0BygScToA2HKFeDFoYmdtaVV3dEk/view?usp=sharing 


Flow dari pemetaan Indikatif di Tambrauw

Jumat, 06 November 2015

"Noken" of Moi People - Sorong

This short article was translated from original notes by Agustinus Kalalu when we asked him to find a Noken for Papua Itu Kita event in Jakarta. Interesting to see how rich are Papua cultures and local knowledge living with community and has keep them survive until today. Yes, Noken or in Indonesia we can say "Tas Tangan" is a traditional hand bag made from woods, bark, leaf or fine. Moi people as part of Indigenous Papuan tribe has recognize this for long time and some woman are still manage this art of handy craft for their domestic needs.

"Kuwok" is the words Moi People is saying to "noken/hand bag". Raw material for 'noken' are collected from the bush around the villages such as 'Banto' or grass, 5 kinds of tree barks, bamboo, rattan and palm leaf. The size of Noken is made based on its function. Big noken or Moi People call it "Kuwok Sai", is using to keeps Sago powder/starch, big volume of vegetables and bush meat. While the 'Kuwok Plagi" is the words for small bag/noken and its mostly used for keep and carry small material such as tradition cigarattes, fire, foods, traditional medicine and include money. Mostly noken has its original color follow the materials but some Noken also got painted using traditional color material the community it gathered from the wild. The colorful noken in Moi Poeple is called "Kuwok Gele". 


In the current development and modern live pressures to the customary values, traditional knowledges and consumption live styles the efforts that this woman doing are the evidence of how they are trying to maintain the tradition. Agus added that “noken” is an indicator to measure how close are one community with their environment, land and resources that they are claiming. This also a sources of verification to see how women in Moi Tribe interaction and dependency to nature are still high. So he said that action to save the forests are crucial to also save the tradition, value and knowledges and maintain the woman contribution in managing forests resources.