My Ideas and Stories About PAPUA

Making the rich and beautiful resources in Papua become the social economic strength for Papuan has become the long home works. Many people believe that the early start to find the answer is by understanding how Papua looks like, their communities and their special strength. And it can be realize by directly in touch with them. This blogs provides you chance to touch and gets insight ideas, trends and stories about Papua.
  • Stories About Beautiful Papua

    Every Single Place In Papua Have Its Stories To Be Shared To Build Other People Understanding About This Island

  • The Last Frotier Primary Forests

    With 42 Million ha of forests, Papua play crucial rules in Indonensia forests development targets.

  • Women and Natural Resources

    Forests or land right are not only about Man. So understanding the roles women and the impact of forests changes to women are also crucial

  • Our Traditional Value

    Papuan Community Have Been Living for Centuries with Their Knowledge and Wisdom in Managing Natural Resources and Practice Best Conservation

  • For Papuan Generation

    Every Works We Do Now Must Be Dedicated To The Future Papuan Generation

  • Dependency to Forests Resources

    Practicing Good Forests Governance in Papus About Understing the Right of Indigenous People and Their Dependency to Natural Resources

  • All Are Wonderful

    You Will Get Good Scene That You May Not Able Somewhere Else - Only In PAPUA

  • Bitter Nut Is Papuan Favorit Gums

    Bitter Nut or In Papua We Call 'Pinang' Is The Local Gum You Can See In Every Corner of the Cities. Papuan People Love To Chewing It. Sometime People Consider It As Contact Material When You Travel to The Village

  • Papuan Traditional Conservation Practices

    For Centuries, Papuan Has Practicing Local Wisdom to Sustainaible Use of Natural Resources. They Have Traditional Education System to Teaching Them How To Interact With Human, Spiritual Power and Understanding The Words Of Nature

Minggu, 20 Desember 2009

Perjalanan ke Kensi, Kampung Di Ujung Batas Kaimana dan Teluk Bintuni


Angin dan hujan malam itu mengantarkan kami sampai tiba di Kota Kaimana kira-kira Jam 8.40 malam. Waktu yang bagi sebagian orang sangatlah berbahaya untuk menyeberangi tanjung Simora mengikuti kuatnya arus  sungai Arguni hanya dengan perahu motor tanpa alat navigasi yang cukup, bergantung pada instinct dan pengalaman sang driver boat. Wajar saja kami tiba tengah malam, karena jarak tempuh yang kami lewati adalah sekitar 6 jam dari hulu sungai Airguni Kampung Kensi tempat dimana kami memulai perjalanan dengan long boat - alat transportasi yang menjadi pilihan utama masyarakat. Dari kensi kami baru bertolak jam 2.45 siang, tetapi karena harus mengejar jadwal yang padat, kami pun harus bisa sampai di Kota untuk melanjutkan assesstment dan kajian yang harus kami lakukan terkait Hasil Hutan Bukan Kayu dari kampung Kensi. Ini adalah akhir cerita penting dari perjalanan kami ke Kampung Kensi dan mengantarkan saya pada tulisan ini tentang kampung Kensi - diujung batas kaimana dan teluk Bintuni dan Diantara batas Suku Mairasi dan Suku Kuri.


Video: menyebrang Sungai Kecil sebelum memasuki kampung

Kampung Kensi Distrik Arguni Atas Kabupaten Kaimana adalah bagian dari kampung-kampung pedalaman yang sulit dijangkau - beberapa diantaranya yang terkenal juga adalah kampung Yamor di Timur Kaimana yang berbatasan dengan Kabupaten Nabire, Papua. Tidak tanggung-tanggung untuk mencapai Kampung yang letaknya yang diutara Kabupaten Kaimana ini minimal waktu 7 jam perjalanan harus disediakan untuk mencapai tempat ini dari Kota. Waktu tempuh tersebut mencakup 6 Jam mengarungi laut, masuk sungai sampai ke muara sungai Kensi dan kemudian dilanjutkan dengan 1 jam berjalan kaki menuju kampung menapaki tebing terjal dan menyeberangi beberapa aliran sungai kecil. Bagi saya, ini adalah pengalaman travelling yang mengasikan menjelajahi Tanah Papua dan memahami bagaimana tidak sederhananya percepatan pembangunan untuk target pertumbuhan ekonomi bisa dirasakan manfaatnya oleh mereka yang tinggal di tempat-tempat terpencil ini. Selefanus Ayi, salah satu masyarakat lokal yang menemani kami pada perjalanan ini mengatakan bahwa "menghitung waktu pasang surut air laut dan sungai harus dilakukan untuk memastikan kita bisa mencapai titik pemberhentian terakhir dari perahu sebelum ke kampung karena apabila terlambat perahu motor tidak bisa mencapai titik terjauh yang artinya kita akan jalan lebih jauh lagi". Infomasi ini dibuktikan memang dengan bagaimana surutnya air dan membuat jalur ke muara sungai menjadi dangkal dan kelihatan bebatuan sungai dibawahnya yang bisa kita langkahi atau lewati dengan hanya berjalan kaki. Pada saat trip balik ke kota, kamipun diberikan pelajaran berharga akan hal ini, terutama karena tidak disiplin dengan info waktu pasang surut air. Karena terlambat berangkat di kampung untuk mencapai titik penjemputan perahu, kami harus menunggu hampir 3 jam di titik penjemputan untuk air kembali pasang dan perahu bisa naik menjemput kami.

Pemandangan yang indah, udara yang sejuk, makanan yang organik dan fresh menyambut dan memberikan cerita tersendiri dari perjalanan panjang ini dan menghilangkan kelelahan yang dirasakan. Kampung Kensi yang berpenduduk hampir 170 jiwa dalam 23 KK ini tersembunyi diam diatas pegunungan utara Kaimana. Kondisi inilah yang menjadi faktor bagaimana hampir 90% penghidupan masyarakat bergantung dan sumber daya alam. Bahkan untuk cash income sebagian dari mereka bergantung dari pembayaran hak ulayat atas hutan yang dimanfaatkan kayu-nya oleh PT. Wanakayu Hasilindo sedangkan sebagian lainnya masih menjual kulit masohi dan daging buruan tetapi jumlah-nya cukup terbatas.


Video: Sungai Arguni-Kensi yang harus dilewati dengan Motor Boat

Posisi dan letaknya yang sangat jauh dari kota sepertinya menjadi faktor utama yang mempengaruhi bagaimana masyarakat di Kampung Kensi tidak banyak mengakses pendidikan yang baik. Terlepas dari fakta tersebut letaknya yang berada pada pertemuan dua kabupaten dan dua suku secara sosial dan administrasi seharusnya menjadikan kensi perhatian tersendiri oleh pemerintah. Dengan jumlah penduduk yang kecil hanya 23 Kepala Keluarga dengan struktur sosial yang sederhana karena hampir 98% penduduk di Kensi adalah Marga Yafata dari Suku Mairasi pendekatan pembangunan melalui jalus sosial dan adat sepertinya bisa menjadi pilihan. Tetapi tentu tantangan untuk mendekatkan pelayanan publik dan akses terhadap fasilitasi penunjang terutama pendidikan dan kesehatan adalah besar, termasuk pembangunan ekonomi masyarakatnya dengan pilihan pada pemanfaatan hasil hutan. Perjalanan panjang pulang pergi dengan jarak dan waktu tempuh yang jauh serta bagaimana tantangan dalam kemampuan mengenal alam dan waktu pasang surut adalah pengalaman dan pelajaran penting. Kensi yang berada di ujung utara kaimana dan merupakan kampung terluar yang berbatasan dengan Kabupaten teluk bintuni memberikan cerita dan catatan tersendiri akan Papua dan dinamika tantangan pembangunan yang dihadapi untuk menjawab tujuan pemerataan.


Rabu, 07 Oktober 2009

Sudah Tahukah Anda Tentang Hubungan Antara Hutan dan Perubahan Iklim Yang Mengkerangkan Diskusi Tentang REDD?

Isu perubahan iklim merupakan berita sangat hangat sakarang ini di telinga kita. Pemanasan global atau dalam bahasa inggrisnya global warming, merupkan suatu fenomena alam dimana bumi mengalami kenaikan suhu ke level yang lebih ekstrim, sehingga berbahaya bagi keberlangsung hidup manusia dan makhluk hidup lain didunia ini.

Beberapa pemicu kenaikan suhu bumi ada emisi gas rumah kaca akibat pembakaran bahan bakar fosi, dan kegiatan penebangan dan penggundulan hutan. Menurut CIFOR (2009), "Ilmuan memperkirankan bahwa emisi yang dirimbulkan dari kegiatan penebangan dan penggundulan hutan mencapai sekitar 20 % dari seluruh emisi gas rumah kaca (GRK)per tahun. Jumlah ini lebih besar dari emisi yang dikeluarkan sektor transportasi secara global" Dari pernyataan diatas terlampir bahwa dengan tidak terkendalinya laju perubahan lingkungan dan kerusakan hutan merupakan alasan kuat untuk mengatakan bahwa bumi kita diambang kepunahan.

Ada pertanyaan yang muncul, "Bagaimana hutan dapat mengeluarkan emisi yang lebih besar dari emisi gabungan yang dikeluarkan oleh mobil, truk. pesawat dan kapal laut?" Nah CIFOR (2009) mencoba menjawab begini katanya "ketika hutan ditebang atau digunduli, biomasa yang tersimpan dalam pohon akan membusuk dan terurai menghasilkan gas karbon (CO2, sehingga meningkatkan konsentrasi GRK di atmosfer yang memerangkap panas yang dipancarkan permukaan bumi. selain itu beberapa kawasan hutan melindungi sejumlah besar karbon yang tersimpan dibawah tanah. Sebagai contoh ketika hutan di lahan gambut dibakar atau kikeringkan, maka emisi karbon yang dikeluarkan tidak hanya terbatas dari vegetasi yang tumbuh di permukaan tanah; bahan organik yang ada didalam tanah juga akan terurai dan mengeluarkan CO2. hutan lahan gambut memiliki lebih banyak karbon dibawah permukaan tanah daripada diatasnya.

Ketika pohon-pohon habis, bumi kehilangan sumberdayanya yang sangat berharga yang seharusnya secara terus menerus menyerap CO2 yang ada di atmosfer. Hasil riset terbaru menunjukan bahwa dari 32 Milyar ton CO2 yang dihasilkan oleh aktivitas manusia per tahunnya kurang dari 5 ton diserap oleh hutan. Jadi kehilangan satu tegakan pepohonan merupakan kehilangan berlipat ganda. Kita tidak hanya kehilangan cadangan karbon di daratan tetapi kehilangan juga ekosistem yang mampu menyerap kelebihan karbon di Atmosfer."


(sumber : http://anjari.blogdetik.com/files/2008/04/efek-rumah-kaca.jpg)

Sekarang ini topik tentang pengurangan emisi dari penebangan dan penggundulan hutan telah bergerak menuju level pusat pada perdebatan international mengenai perubahan Iklim. Ada beberapa pendapat yang menarik yang masih menjadi kontrafersi antar berbagai stakeholder yang bersimpati terhadap lansecap secara menyeluruh. Pendapat ini adalah REDD secara umum dipandang, significant, cheap, quick, dan win-win way untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. Siginificant karena satu dari lima emisi GRK global berasal dari penebangan dan penggundulan hutan, dipandanng Cheap karena sebagian besar kegiatan penebangan dan penggundulan hutan hanya dapat menguntungkan secara merginal, jadi pengurangan emisi GRK dari hutan akan menjadi lebih murah dari kebanyakan pengukuran mitigasi yang lain. Dipandang Quick, karena pengurangan emisi GRK dalam jumlah yang banyak dapat dicapai melalui performa “stroke of pen” dan pengukuran lain yang tidak tergantung pada inovasi teknologi. Dan win-win way karena ada transfer finansial yang secara besar dan pemerintahan yang baik dan dapat menguntungkan bagi masyarakat miskin di negara berkembang dan meyediakan sumber daya yang dibutuhkan.

Dari deskripsi diatas, terlihat secara jelas bahwa dari segi konseptualitas REDD di anggap merupakan jawaban baru atas tantangan yang selama ini ada di dunia poleksoshut (politik, ekonomi dan sosial kehutanan). REDD di pandang secara politik menguntungkan karena merupakan jalan pembangunan dan pengembangan kerjasama diplomatis antara negara-negara penghasil GRK terbesar dengan negara-negara yang memiliki hutan. Secara ekonomi karena dengan keuntungan finansial yang ada mempu mendongkrak kebutuhan belanja negara dan masyarakat serta mampu mendukung pembangunan di daerah. Secara sosial kerana REDD dianggap merupakan salah satu jawaban smart dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat ekonomi lemah yang hidup di dalam dan sekitar hutan.

Sementara itu ada kekhawatiran di balik keuntungan REDD ini. AMAN (Asosiasi Masyarakat Adat Nusantara) mengkawatirkan bahwa akan terjadi ketimpangan dan masalah baru ketika REDD benar-benar terealisasi. Menurut AMAN, selama ini masyarakat adat di Indonesia telah banyak mengalami masalah dengan berbagai penggunaan hutan yang ada. Sebut saja perusahan HPH/HTI, taman nasional dan lain-lain. Masalah ini sampai sekarang sulit untuk di cari titik pemecahan secara adil dengan tidak merugikan kedua belah pihak. Kekhawatiran AMAN adalah, apabila REED benar-benar terealisasi, kemungkinan akan menambah sederet masalah yang akan di hadapi masyarakat adat di dalam dan sekitar hutan. Karena terutama di Indonesia dengan sistem evaluasi dan pengawasan keuangan yang cukup lemah, di khawatirkan akan muncul masalah baru seputar sosial ekonomi masyarakat adat pemilik hutan.

REDD saat ini dianggap merupakan solusi cerdas yang mampu mempertahankan keberlanjutan hutan dunia, namun mekanis pelaksaan, evaluasi dan pengawasan sampai ke tingkat pemanfaat hasil yang lebih rendah perlu di mantapkan sehingga tidak menimbulkan masalah baru bagi masyarakat ada hidup di dalam dan sekitar hutan.

Analisis Dampak Galian Pasir Di Kabupaten Kaimana, Papua Barat

Perkembangan suatu daerah tidak lepas dari kebutuhan akan bahan baku dalam memenuhi kebutuhan pembanguna fisik daerah. Begitu juga dengan Kabupaten Kaimana yang merupakan salah satu kabupaten yang baru dimekarkan. Kebutuhan akan bahan baku bangunan merupakan fakta mutlak dalam mewujudkan laju pembangunan fisik di Kaimana. Salah satu bahan baku bangunan fisik yang selama ini menjadi kebutuhan pokok adalah pasir.

Selama ini pasir untuk kebutuhan pembangunan fisik di kabupaten Kaimana diperoleh dari daerah sekitar pantai Utarom sampai kampung Coa. Didaerah sekitar ini dengan sangat mudah kita temuakan bekas-bekas galian pasir, bahkan ada yang masih tetap digali. Lahan-lahan galian ini merupakan milik perorangan atau keluarga yang dikelola secara bersama dengan system pembagian hasil tertentu.

Penggalian ini dilakukan di pesisir pantai dan juga sebagian dilakukan di daerah darat, 10 – 50 m dari garis pantai. Pasir umumnya digali sedalam 1-1,5 m di tempat lalu pembeli menyediakan truk beserta tenaga pengangkut. Penggalian ini memberikan dampak yang besar terhadap keberlangsungan lansekap sekitar. Dampak yang ditimbulkan tidak saja dampak negative, tetapi juga dampak positif. Dampak-dampak ini akan coba ditelursuri dengan menggunakan pendekatan sederhana yang diharapkan mampu memberikan gambaran nyata sekaligus bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan yang bijaksana terkait pengelolaan bahan galian pasir di Kaimana.

Analisis sederhana berikut diharapkan mampu memberikan gambaran atas dampak dan efek yang ditimbulkan dari kegiatan penggalian pasir di Kaimana. Dampak yang ditelusuri disini tidak berarti bermakna buruk, tetapi ada juga bersifat positif bagi pembangunan masyarakat dan pemerintahan di Kabupaten Kaimana. Harapan kami hasil kajian ini bisa menjadi bahan referensi dalam mengambil keputusan terkait pengelolaan sumberdaya alam secara berkelanjutan.

Tujuan :

  • Meberikan informasi terkait kegiatan penambangan pasir di kaimana
  • Memberikan informasi terkait dampak yang ditimbulkan dari kegiatan
  • penggalian pasir di sepanjang pantai Utarom sampai Kampung Coa
  • Memberikan rekomendasi dalam pertimbangan pilihan keputusan yang bisa dalam
  • mencari titik temu keseimbangan antara aktifitas penggalian pasir dengan pengelolaan kawasan dan pembangunan fisik di Kaimana.

Kerangka Pikiran Umum
(Wijayanto, 2008)

Aktifitas penggalian atau penambangan bahan mineral tanah mengakibatkan dampak yang sangat besar bagi penghidupan masyarakat. Ini karena kegiatan penggalian (baik skala besar maupun kecil), pada dasarnya memiliki daya rusak bagi lingkungan yang sulit dipulihkan. Daya rusak dibatasi pengertiannya sebagai suatu bentuk campur tangan terhadap sistem-sistem alami, yang mengakibatkan rusaknya sistem alami tersebut, sehingga fungsinya berkurang dan bahkan hilang. Semakin besar skala suatu kegiatan penggalian/penambangan maka ia akan berubah menjadi resiko atau ancaman. Resiko a\yang dibiarkan dan tidak dikelola akhirnya menimbulkan dampak berupa kerusakan sistem-sistem alami (ekosistem).

Secara umum aktifitas penggalian bahan mineral dalam tanah membawa pengaruh yang sangat besar bagi keberlangsung setiap segi kehidupan dimuka bumi ini. Begitu pula dengan kegiatan penambangan pasir di Kaimana juga membawa pengaruh yang cukup besar bagi keberlangsungan kehidupan sosial, ekonomi dan ekologi di Kaimana. Dari hasil pengamatan langsung di lapangan, diketahui bahwa hampir semua masyarakat yang memberikan hak wilayahnya untuk diambil pasirnya memiliki hampir 80% pendapatan Uang tunai berasal dari penggalian pasir ini.


Gambar 1. Kerangka pikiran umum atas dampak kegiatan penggalian pasir

Dampak-dampak yang terjadi akibat kegiatan penambangan atau penggalian pasir dapat bersifat langsung, tidak langsung dan meluas. Danpak langsung adalah perubahan yang nampak pada saat kejadian atau perubahan yang terlihat pada tempat penggalian, dan dampak ini bersifat jelas dan meliputi wilayah tertentu. Contohnya terjadi kehilangan vegatasi hutan didaerah sekitar galian, kondisi air disekitar tempat penggalian yang keruh, serta dampak ekonomi langsung yaitu memberikan keuntungan finansial dalam penerimaan uang secara langsung oleh masyarakat.

Dampak-dampak lain yang pasti mengalami perubahan akibat kegiatan penggalian pasir baik jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang yaitu antara lain dampak sosial, ekonomi dan pembangunan didaerah tersebut.

Dampak jangka panjang adalah meluasnya dampak pada aspek-aspek penghidupan, yang jauh dari kerusakan langsung. Masalah-masalah seperti konflik antara masyarakat dengan pemerintah sering kali terjadi di Lokasi penggalian.


Pendekatan Analisis


Kegiatan dilaksanakan selama kurang lebih 3 minggu dari periode tanggal 23 Juni – 27 Juni 2009. Kegiatan dibagi menjadi 2 yaitu kegiatan pengumpulan data dan observasi lapangan, dan kegiatan pengolahan, analisis dan panyajian data.

Pendekatan yang digunkan adalah pendekatan observatif, analisis korelatif dan analisis perubahan dinamik. Pengolah dan analisis data menggunakan beberapa perangkat lunak komputer seperti MS. Excell, dan Stella. 9.


Gambar 2. Kerangka analisis

Kagiatan pembangunan akan memberikan pengaruh berupa perubahan yang signifikan bagi keberlangsungan semua sistem yang saling mempengaruhi didalamnya. Dengan setiap pilihan pembangunan yang akan diambil semuanya akan memberikan dampak yang signifikan.

Analisis ini beranjak dari sebuah pemikiran dasar tentang pilihan pembangunan yang bisa diambil untuk mambangun Kabupaten Kaimana serta bagaimana hubungan penggalian pasir mempengaruhi dan dipengaruhi oleh pilihan pembangunan ini. Dimana coba dibuat 3 pilihan pembangunan dengan berbagai peubah yang beranjak dari hasil wawancara dan asumsi. Pilihan-pilihan ini yaitu:
  1. Kaimana seperti apa adanya, berjalan sesuai dengan pemikiran rencana seperti sekarang ini.
  2. Kaimana diarahkan kepada Kabupaten sentra industri dengan laju pembangunan cukup tinggi, serta alokasi/konversi lahan untuk tujuan komersil besar terus meningkat.
  3. Kaimana diarahkan kepada Kabupaten pariwisata dengan tetap menjaga nilai-nilai kenaekaragaman hayati.
Perubahan yang kemungkinan terjadi dalam periode beberapa tahun kedepan dari 3 pilihan pembangunan yang Bisa diambil untuk Kabupaten Kaimana. 1. Pembangunan Berjalanan dengan perencanaan seperti sekarang. 2. Kaimana dijadikan atau direncanakan untuk menjadi pusat industri besar untuk pengolahan sumber daya alam. 3. Kabupaten Kaimana di jadikan kabupaten pariwisata/konservasi dengan tetap menjaga nilai-nilai kekayaan alamnya. Dinamika prubahan yang kmungkinan terjadi coba ditelusuri dengan alat bantu analisis ini.

a. Pendekatan observatif
Pendekatan ini lebih menitik beratkan pada pengamatan langsung dilapangan dan wawancara dengan orang-orang kunci yang terlibat langsung pada kegiatan pemanfaatan pasir galian. Hasil yang akan dicapai dari pendekatan ini adalah gambaran umum secara singkat tentang kondisi umum daerah yang menjadi tempat penggalian pasir.

b. Pendekatan korelatif
Analisis korelatif secara umum digunakan untuk melihat keeratan hubungan antara variable-variable yang saling mempengaruhi dalam aktifitas penggalian pasir ini. Variable khusus yang yang akan diperhatikan adalah hubungan saling mempengaruhi antara laju pembangunan dengan jumlah produksi pasir galian serta jumlah luas galian dengan tenaga kerja

Analisis korelasi yang digunakan pada kajian kali ini merupkan analisis korelasi dasar. Dimana nilai korelasi (r) yang dihasilkan menunjukan kekuatan hubungan antara peubah yang saling mempengaruhi didalamnya. Apabila nilai r = 0 maka besar kemungkinan menyimpulkan tidak ada hubungan antara peubah yang satu dengan peubah yang lain. Apabila nilai r mendekati +1 atau -1, hal tersebut mencirikan bahwa hubungan antara peubah cukup erat dan saling mempengaruhi. Nilai korelasi minus menunjukan hubungan berbalik, dimana pengaruh yang terjadi adalah pengaruh negatif dimana kenaikan satu peubah, menyebabkan penurunan peubah yang lain. Sedangkan nilai korelasi positif menunjukan hubungan searah dua variabel, dimana kenaikan suatu peubah akan menyebabkan kenaikan peubah yang lain.

c. Pendekatan perubahan dinamik
Pendekatan ini digunkan untuk melihat dinamika perubahan yang terjadi pada lansecap ini. Selain itu juga perndekatan ini digunkan untuk melihat hubungan saling mempengaruhi dan sebab-akibat antar sistem yang satu dengan sistem yang lain. Pendekatan ini secara garis besar digunakan untuk melihat dan mengestimasi dinamika perubahan yang terjadi pada lansecap seiring dengan berjalannya waktu dengan menggunkan batasan-batasan asumsi tertentu. Batasan analsis sederhana ditekankan pada hubungan saling mempengaruhi antara beberapa faktor yaitu pemanfaatan hutan pantai, populasi, income (pendapatan) dan pembangunan. Kerangka model seperti yang disajikan pada gambar selanjutnya.


Gambar 3. Pola hubungan antara sistem-sitem yang coba dilihat perubahannya.

Gambaran Umum Model Penggalian Pasir

Model dibangun dengan pemikiran dasar bahwa ada perubahan secara dinamis terhadap sistem yang ada akibat dari aktifitas penggalian pasir disepanjang pantai utarom-coa, Kaimana. Dengan melihat langsung kondisi yang ada dilapangan dan hasil wawancara langsung diperoleh fakta menarik bahwa penggalian pasir di tempat ini sudah berlangsung sejak lama, Pasir yang diambil di Tempat ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku material untuk pembangunan fisik bangunan di Kabupaten Kaimana.

Secara sederhana model disamping menggambarkan hubungan saling mempengaruhi antar peubah yang mempegaruhi dan dipengaruhi oleh aktifitas penggalian pasir. Dimana dari kerangka model disamping terlihat secara jelas bahwa beberapa sistem besar lansecap ikut dipengaruhi dan mempengaruhi kelanjutan penggalian pasir di Kaimana. Dimana secara sederhana dapat dikatakan bahwa dinamika perubahan pembangunan mendorong banyak perubahan di setiap sektor yang lain.

dari hasil simulasi dapat dilihat bahwa sektor-sektor yang mempengaruhi dan dipengaruhi oleh aktifitas pengggalian pasir adalah sektor populasi dan pekerja, penggunaan lahan serta pendapatan. hasil simulasi juga menunjukan bahwa semakin bertambah jumlah penduduk, mendorong laju pembangunan yang terus meningkat. Laju pembangunan ini manjadi salah satu faktor pendorong meningkatnya kebutuhan akan sumber galian pasir. kegiatan penggalian yang dilakukan disekitar garis pantai menjadi salah satu penggerak degradasi hutan pantai.

Selain dampak ekologis yang ditimbulkan, muncul juga dampak sosial yang bergerak kearah pertumbuhan tenaga kerja dan munculnya nilai sosial baru dalam masyarakat. selain nilai sosial dampak ekonomi juga tidak bisa dipisahkan dimana dilihat dari beredarnya uang sebagai alat tukar umum juga menjadi fenomena menarik yang mendorong laju kegiatan penggalian pasir. Model berikut secara simulatif berusaha menerangkan dinamika perubahan - perubahan diatas dalam satu gambaran yang lebih informatif. Model ini berusaha mengeksplorasi hubungan mempengaruhi dan dipengaruhi atas sistem-sistem diatas. Informasi akan disajikan dalam bentuk gambar grafik dan table sehingga mempermudah melihat trend perubahan yang mungkin akan terjadi.


Hasil Dan Pembahasan

a. Gambaran Umum Lokasi


Lokasi kegiatan penambangan pasir dilakukan disepanjang pantai Utarom-Coa Distrik Kaimana. Secara umum daerah ini merupkan tutupan vegetasi hutan pantai yang mantap dengan didominasi olah tanaman kelapa. Kegiatan penggalian pasir didaerah ini telah berlangsung lama untuk mensuplay kebutuhan pasir untuk pembangunan di kota Kaimana. Hal ini dibuktikan dengan pemandangan bekas-bekas galian dan jalan Truk yang masih ada disepanjang pantai ini.

Pemilik wilayah ini merupakan masyarakat asli Kaimana yang bermukin di Kampung Coa dan beberapa kampung sekitar. Dari hasil penelusuran dilapangan, diperkiran ada sekitar 4 - 5 pemilik wilayah yang meberikan lahan mereka untuk diambil pasirnya serta memiliki sekitar 12 plot penggalian. Umumnya lahan ini merupakan milik keluarga besar dan selanjutnya hasil penjualan akan dibagikan sama banyak kepada setiap keluarga yang punya hak. Namun ada juga yang milik pribadi, karena merupkan warisan dari ayahnya. Setiap harinya mereka mampu menjual sekitar 2 ret (sekitar 2,4 m3) pasir ke pembali. Umumnya harga yang berlaku adalah Rp. 250.000 per ret. Dengan sistem pemilik hanya menjual pasir dilahan mereka, yang akan menggali dan memuat adalah urusan pembeli, jadi yang menyediakan tenaga penggali adalah pembeli.

Dari hasil pengamatan dan wawancara langsung dilapangan, diketahui bahwa rata-rata penjualan pasir tiap bulannya cukup bervariasi pada setiap masyarakat pemilik disini, yaitu berkisar antara 30 – 50 ret (36 – 60 m3) per bulan. Jadi dalam satu bulan, semua masyrakat pemilik lahan pasir mampu mensuplai sekitar 432 – 720 m3 pasir untuk kebutuhan pembangunan kota kaimana.

Tempat penggalian pasir juga berada di dua lokasi yaitu pertama di dalam hutan pantai, dan yang kedua di sepanjang garis pantai. Rata-rata kedalam galian berkisar antara 1 – 1.5 m dengan luasan galian bisa mencapai 0,25 ha per tahun setiap tahunnya. Umumnya daereah bekas galian sulit untuk direstorasi dan umunya daerah ini akan tergenang oleh air apabila hujan turun.

Perubahan yang terjadi terhadap kawasan sekitar penggalian sangat nyata terlihat, hampir 2 – 5% saja tegakan hutan pantai yang tersisa. Selebihnya rusak akibat lingkungan sekitar yang tidak mapu mendukung keberlangsungan hidupnya. Dari hasil pengamatan dilapangan banyakl pohon kelapa yang tumbang dan sebagian besar daerah ini merupkan lahan terbukan dengan hanya tumbuhan bawan seperti petatas pantai yang merambat menutupi permukaan bekas galian. Vegetasi mangrove yang juga sebagai banteng alam terhadap terpaan ombak juga mengalami kerusakan yang cukup parah.

b. Hasil analisis Korelasi

Hasil analisis korelasi menunjukan bahwa terdapat hubungan yang cukup erat antara laju pembangunan fisik di Kaimana dengan kebutuhan akan pasir. Dimana hubungannya adalah hubungan positif dengan nilai korelasi r = 0.68 (68%). Nilai korelasi diatas secara sederhana menggambarkan hubungan yang bahwa peningkatan laju pembangunan fisik kaimana, akan mengakibatkan peningkatan permintaan kebutuhan atas bahan baku pasir.

Hasil analisis korelasi juga menunjukan bahwa ada hubungan yang cukup erat antara peubah pertambahan luas galian pasir dengan pertumbuhan jumlah tenaga kerja. Dimana dari hasil analisis diperoleh nilai koefesien korelasi r = 0.72 (72%). Nilai ini juga merupakan hubungan positif dimana kenaikan/pertambahan luas galian pasir akan mendorong peningkatan kebutuhan akan tenaga tenaga kerja. Tenaga kerja disini dibatasi hanya pada tenaga galian.

c. Hasil Simulasi Pemodelon Penggalian Pasir

Hasil-hasil simulasi pemodelan menggambarkan nilai-nilai yang diprediksi dan ada kemungkinan untuk terjadi apabila asumsi yang berlaku bahwa pertumbuhan pembangunan berjalan tanpa mengalami gangguan politik, ekonomi dan sosial serta bencana alam.

Hasil – hasil simulasi disajikan dalam gambar grafik dan tabel segai berikut:
Sektor

d. Dampak – Dampak Yang Muncul Akbibat Kegiatan Penggalian Pasir

Dampak Ekologis

Kegiatan penggalian pasir membawa dampak yang besar bagi keberlangsungan fungsi ekologis dari kawasan sekitar. Daerah-daerah disekitar penggalian pada awalnya merupakan vegetasi hutan pantai yang mantap yang memiliki fungsi pokok sebagai benteng alam/tembok bagi hantaman ombak. Vegetasi hutan pantai sepanjang pantai Utarom-Coa pada awalnya didominasi oleh vegetasi-vegtasi mangrove, tanaman ketapang, dan rimbunan pohon kelapa yang berjejer disepanjang pantai.

Dari hasil pengamatan dilapangan terlihat jelas bahwa hampir sebagian besar vegetasi yang didominasi oleh Rhyzophora telah rusak dan hilang. Selain itu juga banyak pohon kelapa (Cocos nucifera) dan pohon ketapang (Terminalia catapa) yang telah tumbang umumnya lokasi yang ditemukan kerusakan paling parah merupakan daerah-daerah bekas penggalian pasir. Vegetasi yang ada didaerah ini umunya vegetasi sekunder dengan didominasi oleh tumbuhan bawah yang merambat menutupi seluruh permukaan daerah bekas tebangan. Disebagian tempat lagi hanya sekitar 2 – 5% tegakan yang tinggal dan umumnya tegakan tinggal didominasi oleh pohon kelapa.

Laju kehilangan vegetasi pantai disepanjang pantai Utarom - Coa cukup besar, hal ini didukungan oleh pendapat beberapa warga yang menyatakan bahwa dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, sekitar 5 – 7 m bibir pantai telah hilang akibat hantaman ombak dan umunya daerah dengan kerusakan paling parah dijumpai pada areal bekas galian.


Gambar 4. luas daerah penggalian hingga 20 tahun mendatang

Gambar diatas merupakan hasil kajian dinamika perubahan untuk tiga pilihan pembangunan yang diestimasi terjadi apabila kondisi penambangan tetap seperti sekarang ini. Dimana setiap setiap pilihan pembangunan memberikan pengaruhi yang cukup besar bagi luas areal penggalian. dengan batasan bahwa kebutuhan pasir untuk pembangunan dan perumahan konstan, maka dalam kurun waktu 20 tahun mendatang, areal yang terbuka akibat kegiatan penggalian pasir mancapai angka 100 ha untuk tiga pilihan pembangunan yang akan diambil. Pilihan pembangunan kedua (kaimana menuju pusat industri) memberikan hasil yang cukup besar aDari gambar diatas pula dapat kita lihat sebuah dinamika perubahan yang cukup besar dalam 20 tahun mendatang dimana setiap tahunnya sekitar 1.2 – 3 ha, sehingga dapat dikatakan bahwa dalam kurun waktu 20 tahun kedepan dengan pola pemanfaatan galian pasir seperti yang sekarang ini, maka dinamika perubahan vegetasi pantai yang mantap menjadi tanah terbukan adalah sekitar kurang lebih 100 ha.

Dari segi daya dukung lingkungan, kemungkinan besar kondisi tanah disepanjang pantai Utarom – Coa tidak mampu secara alami mendukung atau menahan pukulan ombak yang tiap menitnya sekitar 28 – 36 kali memukul bibir pantai. Laju aktifitas alam ini secara konsisten akan mempengaruhi kondisi pantai ini dalam beberapa waktu kedepan. Karena kondisi tanah dan vegetasi tidak mampu secara alami mendukung keberlangsungan fungsi ekologis-nya sebagai benteng alam. Daya dukung ekologi perlu diperhatikan dalam rangka meminimalisir pengeluaran pemerintah dalam jumlah besar untuk pembangunan tanggul penahan pukulan ombak.


Gambar 5. Dinamika perubahan hutan pantai di Kaimana, dalam kurun waktu 20 tahun kedepan untuk 3 pilihan pembangunan

Gambar diatas ini semakin menguatkan argumen kita bahwa hutan pantai di kaimana akan mengalami perubahan ke arah yang memperihatinkan karena aktifitas manusia dan aktifitas alam yang tidak dikendalikan. Dimana dari hasil simulasi, dapat diestimasi bahwa dalam kurun waktu 20 tahun kedepan, untuk ketiga pilihan pembangunan, sekitar 500 - 600 ha hutan pantai akan hilang akibat aktifitas alam dan manusia. Sedangkan apabila dibandingkan kehilangan luas hutan pantai paling besar terdapat pada pilihan pembangunan kedua (pusat industri). Hal ini didiorng oleh kebutuhan bahan baku material pasir dalam mendukung pembangunan fisik menyokong kegiatan industri. Grafik menunujukan sebuah perubahan yang cukup besar seiring dengan meningkatnya luas areal penggalian pasir.

Aktifitas penggalian pasir yang terus-menerus berlangsung disepanjang pesisir pantai utarom-coa sangat mempegaruhi daya dukung ekologis dan kondisi wilayah sekitar. Fungsi hutan pantai yang selama ini diharapkan sebagai benteng alam, secara perlahan telah hancur akibat kegiatan penggalian pasir yang terus meningkat. Jadi dapat dikatakan bahwa nilai manfaat ekologi dari keberadaan hutan pantai telah hilang akibat aktifitas manusia.

Dampak Sosial

”Pembangunan mendorong banyak perubahan” ini merupakan suatu gambaran umum sekaligus harapan atas realita dalam kehidupan manusia. Pembangunan mengandung arti luas yang bisa diinterpretasikan secara bebas oleh semua orang. Pembangunan juga melingkupi banyak segi kehidupan manusia dan alam. Sehingga pembangunan dapat dikatakan sebuah pengembangan menuju perubahan.

Pembangunan tidak hanya dipandang dari segi pembangunan fisik saja, tetapi juga pembangunan non-fisik atau pembangunan yang tidak kelihatan secara langsung, tetapi dapat dirasakan melalui perubahan yang terjadi disekitar kita. Salah satu bentuk dari pembangunan ini adalah perubahan sosial masyarakat. Perubahan sosial ini mengandung pengertian bahwa perubahan yang terjadi pada pola hidup masyarkat, pola interaksi dengan sumber daya penghidupan dan pola interaksi antara manusia sebagai makhluk sosial dengan manusia lain dan manusia dengan alam. Kegiatan penambangan pasir di kaimana juga mendorong perubahan sosial yang cukup besar bagi kehidupan sosial masyarakat sekitar.

Hasil wawancara menunjukan bahwa salah satu perubahan yang mencolok dari aktifitas ini pada masyarkat adalah ketergantungan terhadap kebutuhan akan uang. Masyarakat disekitar kampung ini memandang penggalian pasir ini sebagai salah satu sumber penghidupan utama yang memberikan manfaat ekonomi bagi keberlangsungan kehidupannya. Nilai sosial baru ini telah tumbuh dan berkembang di hampir sebagian besar masyarakat. Perubahan besar dari kehidupan subsisten ke orientasi ekonomi komersil merupakan salah satu informasi menarik yang perlu dijadikan bahan referensi dalam perumusan kebijakan pembangunan daerah.

Sebuah pernyataan singkat dari seorang warga bahwa dulunya masyarakat menggantungkan hidupnya pada separuh hasil alam dengan orientasi pada pemenuhan kebutuhan keluarga sehari-hari, maka secara nyata terlihat bahwa aktifitas penggalian pasir mendorong perubahan nilai orientasi sosial yang ada dalam masyarakat.

Hasil menarik lain perlu diperhatikan ialah bahwa terjadi perubahan pola interaksi antara manusia yang satu dengan manusia yang lain. Dimana pada saat ini semua masyarakat dianggap sebagia pelaku ekonomi. Kampung Coa dianggap sebagai pasar bagi sumber daya alam pasir (bahan galian C). Karena disinilah terjadi pertemuan antara pembeli pasir dan penjual pasir (masyarakat pemilik wilayah). Dari gambaran ini diketahui bahwa ada interaksi antara manusia dengan orientasi ekonomi modern, dimana akan terjadi pertukaran antara barang (pasir galian) dengan uang sebagai alat tukar umum.


Gambar 6. Peningkatan permintaan pasir untuk perumahan seiring dengan pertambahan jumlah penduduk

Perubahan lain secara sosial adalah pertamahan jumlah penduduk yang mendorong meningkatnya permintaan terhadap pasir untuk mendukung pembangunan perumahan. Dari grafik diatas terlihat jelas bahwa laju permintaan pasir di kaimana untuk perumahan seiring dengan pertambahan jumlah penduduk berkorelasi positif. Hal ini dikarenakan jumlah keluarga baru yang muncul dan membutuhkan perumahan. Dari grafik diatas dapat diestimasi bahwa dalam kurun waktu 20 tahun kedepan total akumulasi pemakain terhadap pasir untuk perumahan akan mencapai angka 9000 ret atau sekitar 10800 m3. Hal diatas menunjukan bahwa rata permintaan pasir tiap tahun untuk perumahan akan mengalami peningkatan sebanyak 144 ret atau sekitar 173 m3 dengan kisasan kebutuhtan pasir tiap tahun untuk perumahan seiring dengan pertambahan jumlah penduduk kota Kaimana adalah berkisar antara 108 -787 ret per tahun.

Permintaan terhapa pasir untuk perumahan dan pembangunan sarana fisik lain mendorong interaksi antara pembeli dan penjual. Dalam kasus ini muncul proses negosiasi sehingga muncul nilai sosial baru dalam tatanan kehidupan baru. Karena umunya para pembeli berasal dari dari beragam suku luar Kaimana, maka melalui proses negosiasi inilah akan muncul suatu nilai pemahaman sosial yang baru. Beberapa nilai sosial baru umunya masuk dan diserap oleh masyarakat setempat (contoh: cara berpakaian dari masyarakat sekitar sini yang mulai mengikuti cara berpakaian beberapa pembeli yang datang).

Hasil penelusuran juga menemukan bahwa ada perubahan lain terkait dengan tenaga kerja. Dimana tenaga kerjanya akan meningkat seiring dengan perkembangan pembangunan. Hasil pengkajian dan perhitungan dilapangan menunjukan bahwa 1 ret pasir bisa mempekerjakan minimal 5 orang disetiap kegiatan pemanfaatan pasir. Hasil menunjukan bahwa penggalian pasir bisa mempekerjakan minimal 1 driver truk, 3 tenaga penggali, 5 orang tukang cetak batu bata, 3 tukang/kuli bangunan, serta sekitar 5 tanaga pembangunan gedung atau tanggul besar dan masih banyak lagi. Sehingga nilai manfaat sosial yang sudah tumbuh dan menjadi mantap ini sulit untuk dihilangkan.

Dengan analisis korelatif diperoleh hasil bahwa nilai korelasi antara luas areal penggalian dengan pertambahan jumlah tenaga kerja adalah 72 %. Nilai ini menunjukan bahwa ada hubungan saling mempengaruhi antara luas areal penggalian dengan jumlah tenaga kerja. Dimana semakin besar areal penggalian, tenaga kerja yang dibutuhkan juga semakin meningkat. Secara analisis nilai korelasi ini menggambarkan keeratan hubungan antara 2 sistem yang memberikan beberapa nilai sosial baru dalam interaksi manusia yaitu diantaranya tumbuh nilai harapan terhadap keberlangsungan produksi penggalian pasir.

Dari hasil dan gambaran umum diatas secar sederhana dapat dikatakan bahwa penggalian penggalian pasir juga merupakan faktor pendorong perubahan sosial yang menciptakan nilai –nilai sosial baru dalam masyarakat. Manfaat sosial lain adalah terdapat interaksi yang mantap antar manusia dalam proses negosiasi/tawar menawar. Interaksi ini berlangsung lama dan menjadi hubungan kekerabatan, sehingga interaksi ini menumbuhkan jejaring sosial dalam masyarakat.

Dampak Ekonomi

Prinsip ekonomi dasar adalah bagaimana masyarakat memenuhi kebutuhan hidupnya. Berangkat dari nilai sosial yang telah muncul dalam masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada penggalian pasir dimana orientasi utama dari penggalian pasir terutama adalah kebutuhan akan uang, secara langsung dipastikan bahwa masyarakat telah mampu melaksanakan kegiatan ekonomi. Kegiatan ekonomi sederhana yang dilakukan adalah terbentuknya pasar yang mempertemukan pembeli dan penjual dalam rangka proses ekonomi (tawar menawar) antara barang/jasa dengan uang.

Masyarakat pemilik pasir di sepanjang pantai Utarom-Coa mendapatkan manfaat ekonomi yang besar bagi keberlangsungan hidupnya dan keluarga. Manfaat ekonomi yang dirasakan adalah pendapatan dalam bentuk uang tunai. Manfaat ekonomi lain yaitu kemampuan masyarakat untuk menabung dan membeli dimana uang yang diperoleh dari hasil penjualan pasir bisa langsung digunakan untuk membeli keperluan sehari-hari.

Dari hasil wawancara dilapangan diperoleh informasi bahwa rata-rata produksi pasir tiap bulan adalah antara 30 – 50 ret dengan harga rata-rata per ret adalah Rp. 250.000,-. Sehingga dari informasi ini dapat diprediksi rata-rata penerimaan bulanan dari masyarakat pemilik wilayah yang diambil pasirnya. Hasil prediksi dengan menggunakan analisis dinamika perubahan disajikan pada gambar berikut.


Gambar 7. Prediksi pendapatan masyarakat pemilik pasir dalam 12 bulan

Hasil diatas beranjak dari hasil perhitungan bahwa rata-rata (ยต) hasil penggalian bulanan adalah 40 ret dengan standar deviasi (s) 5 dengan harga penjulan pasir per ret adalah Rp. 250.000,- maka diperoleh prediksi pendapatan masyarakat seperti pada gambar diatas. Dimana dari hasil ditunjukan bahwa pendapatan masyarakat setiap bulannya cukup bervariasi, tergantung dari permintaan terhadap pasir, yaitu berkisar antara Rp. 8.000.000,- sampai dengan Rp. 14.000.000,-. Nilai ini cukup besar untuk ukuran pendapatan di Papua. Sehingga ini merupakan salah satu penggerak mengapa masyarakat mau meberikan lahannya untuk diambil pasirnya. Ini merupkan nilai ekonomi yang cukup menggiurkan bagi masyarakat dan pengusaha pasir. Dengan hanya bermodalkan pasir dialam, keuntungan diatas merupakan keuntungan bersih yang diperoleh masyarakat pemilik pasir.

Nilai pendapatan diatas merupakan pendapat bersih karena dalam prakteknya pemilik tidak secara langsung menggali, namun pembeli yang akan secara langsung menggali. Umumnya apabila terjadi kesepakatan harga antara pembeli dan penjual pasir, pembeli akan mengusahakan truk pengangkut dan tenaga penggali. Jadi pemilik pasir/wilayah hanya menunjukan lokasi dan mengontrol jumlah pasir yang diamati harus sesuai dengan kesepakatan transaksi. Tenaga penggali dan truk mendapat bayaran tersendiri dari pembeli. Jadi bayarannya terpisah dengan pembayaran kepada pemilik hak wilayah. Tenaga penggali umunya dibayar Rp. 50.000/ret dan truk pengangkut umumnya Rp. 200.000/trip.


Gambar 8. Hubungan antara pertambahan luas daereh galian dengan kebutuhan tenaga kerja

Seiring dengan laju pembangunan fisik sarana-prasaran yang terus di Kabupaten Kaimana, mendorong peningkatan laju instensitas penggalian pasir dalam memenuhi kebutuhan bahan baku bangunan ini. Hasil nilai korelasi 72% yang menggambarkan keeratan hubungan antara luas areal galian dengan kebutuhan akan tenaga kerja di gunakan untuk mengstimasi jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan untuk kegiatan penggalian pasir dalam kurun waktu 20 tahun kedepan. Hasilnya adalah seperti pada grafik sebelumnya dimana setiap tahunnya seiring dengan permintaan pasir untuk pembangunan peruhan, gerung dan pembangunan fisik lain, kebutuhan akan tenaga kerja untuk penggalian dan pengangkutan juga meningkat. Dengan asumsi bahwa 1 ha areal galian membutuhkan 10 tenaga kerja maka diperoleh hasil bahwa setiap tahunnya kebutuhan tenaga kerja akan meningkat dari 24 tenaga ditahun sekarang mencapai 180 tenaga ditahun ke 20.

Namun sayang menurut penuturan salah satu pegawai pemda bahwa penggalian pasir didaerah dianggap ilegal oleh pemerintah karen digali disepanjang kawasan lindung pantai Utarom-Coa. Disamping itu dari segi ekonomi tidak memberikan kontribusi kepada pemeritah. Selain itu beberap masyarakat diantaranya ada yang tidak membayarar pajak retribusi ke pemerintah. Dengan asumsi bahwa 1 % dari hasil penjualan pasir merupkan retribusi kepada pemerintah maka hasil prediksi retribusi kepada pemerintah dalam kurun waktu 20 tahun kedepan dari kegiatan penggalian pasir adalah sebagai beikut.


Gambar 9. Prediksi penerimaan retribusi dari penggalian pasir

Dari gambar diatas ditunjukan bahwa penggalian pasir juga memberikan pengaruh cukup signifikan terhadap pendapatan Pemerintah daerah dalam berntuk retribusi. Dimana dari hasil simulasi diatas diketahui bahwa apabila retribusi ditetapkan pada level 1 % per ret pasir, setiap tahunnya terjadi peningkatan permintaan pasir dan harga jual pasir tidak mengalami perubahan selama kurun waktu 20 tahun maka total pendapatan tiap tahunnya akan naik dari Rp. 16.000.000,- ditahun pertama menjadi Rp. 35.000.000,- pada 20 tahun kedepan.

Dari gambar juga terlihat bahwa nilai retribusi dari penggalian pasir sangat dipengaruhi oleh perluasan areal penggalian. Nilai retribusi diatas merupakan nilai manfaat ekonomi yang bisa diperoleh pemerintah dari kegiatan penggalian pasir oleh masyarakat.

Namun sayang nilai ekonomis yang cukup menjanjikan ini harus dibayar mahal dengan dengan kehilangan beberapa nilai ekologis dari hutan dan lahan sekitar.

Dampak Pembangunan

Dari waktu ke waktu pasir galian masyarakat memberikan kontribusi yang besar bagi pembangunan di Kabupatn Kaimana. Meskipun pada nyatanya tidak ada retribusi yang dibayarkan kapada pemerintah dalam bentuk uang tunai oleh masyarakat. Dari hasil perhitungan kami diperoleh fakta menarik bahwa rata-rata setiap tahuannya sekitar kurang lebih lahan 2 ha dimanfaatkan untuk pengambilan pasir dan dari situ menyumbang sekitar lebih dari 1000 ret pasir tiap tahun untuk memenuhi kebutuhan pembangunan fisik di Kabupaten Kaimana. Khusus untuk sarana prasarana umum seperti jembatan, jalan, gedung, sarana olah raga dan tanggul penahan ombak, kebutuhan pasir kota kaimana setiap tahunnya minimal 730 ret per tahun.

Dengan demikian usaha penggalian pasir dari sisi ekonomi-pembangunan dinilai merupakan usaha yang bersifat posotif karena memberikan pengaruh yang baik bagi pembangunan ekonomi masyarakat dan pembangunan fisik sarana-prasarana pemerintah. Dari hasil penelusuran di kota kaimana setiap tahun minimal sekitar 10 rumah baru yang dibangun dan dari hasil wawancara didapat informasi bahwa setiap rumah membutuhkan 7 – 12 ret pasir. Dari informasai tersebut dapat dihitung bahwa setiap tahun sekitar 70 – 120 ret pasir digunakan untuk pembanguan perumahan.

Setelah dilakukan simulasi dengan pendekatan dinamika perubahan, dengan mengasumsikan bahwa pemerintah menetapkan retribusi kepada pemilik pasir sebesar 1 % dari hasil penjualan pasir, maka pendapatan yang akan diterima pemerintah pada tahun pertama adalah adalah sebesar Rp. 16.000.000 rupiah. Pendapatan ini akan meningkat seiring dengan pembangunan yang mendorong perluasan areal penggalian pasir. Akhirnya pada tahun yang ke 20 dengan asumsi tidak ada perubahan harga jual pasir maka pemerintah akan memperoleh sekitar Rp. 35.000.000,- dari retribusi penggalian pasir.

Dampak lain ialah pemerintah didorong untuk mengambil kebijakan yang efektif terkait pemanfaatan bahan galian pasir ini. Hasil penelusuran menunjukan bahwa ada konflik antara regulasi pemerintah terkait kawasan lindung setempat dengan kepentingan ekonomi masyarakat sekitar. Penetapan zona pemanfaatan untuk penggalian pasir perlu ditetapkan guna menekan laju degradasi lingkungan.


Kesimpulan dan Rekomendasi

Kesimpulan


  1. Dari hasil kajian sederhana ini ditemukan bahwa kegiatan penggalian pasir memberikan dampak yang cukup signifikasi terhadap keberlangsungan fungsi ekologi dari ekosistem hutan pantai, dimana hutan pantai akan mengalami degradai yang cukup tinggi hingga mencapai angka 1000 ha pada 20 tahun kemudian.
  2. Muncul nilai-nilai dan proses sosial yang terbentuk dari suatu proses interaksi sosial yang mantap. Dimana ada penyerapan kebiasan tertentu dari setiap masyarakat yang berinteraksi.
  3. Pasir galian memberikan manfaat ekonomi yang besar bagi masyarakat dimana keuntungan masyarakat pemilik wilayah/pasir dapat mencapai angka Rp. 13.000.000,-.
  4. Belum adanya regulasi yang mantap terkait pengatura retribusi daerah dari hasil penggalian pasir. Dari hasil prediksi dapat dikatakan bahwa penerimaan pemerintah dari retribusi penggalian pasir dapat mencapai angka 35 juta per tahun.


Rekomendasi


  1. Penetapan zona pemanfaatan yang terlegalisasi dengan peraturan daerah sangat diperlukan guna menunjang keberlanjutan ekosistem hutan pantai
  2. Penetapan nilai retribusi terhadap bahan galian pasir perlu dilaksanakan

oleh pemerintah dengan regulasi yang mantap guna kontribusi bagi pendapatan
asli daerah

Reference:


Laksmi D dan Apriani A.T, 2008. Pengenaan Pajak Lingkungan: Telaah Terhadap RUU Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Jurnal Ekonomi Lingkungan. Jakarta

Sylviani, 2008. Kajian Dampak Perubahan Fungsi Kawasan Hutan Terhadap Masyarakat Sekitar . PUSLITBANGHUT. Bogor

Wijayanto, 2008. Taen Hein.

Sabtu, 04 Juli 2009

Tuangkan Curahan Hati Disni Saja.... "Memandang Hari Esok Dunia Kehutanan di Papua"............

Kondisi pembangunan kehutanan sampai saat ini kelihatan tidak menjadi sebuah primadona dalam pemerintahan. Hutan selalu dipandang sebagai bank yang dapat membrikan kepuasan Finansial bagi setiap pelaku ekonomi didalamnya. Hutan dari waktu ke waktu terus mengalai degradasi dan deforestasi. Laju konversi lahan hutan menjadi areal perkebunan komersil dengan tidak memperhatikan fungsi dasar hutan semakin meningkat.

Ada apa dengan hidup ini? Ini merupakan salah satu pertanyaan yang tanpa sengaja saya dengarkan dari seorang Prof.... Desela-sela pengantar-nya pada sebuah Buku Kehutanan...

Pernyataan ini merupakan satu indikator bahwa seakan banyak orang telah cape memikirkan kemana hutan ini harus di bawa. Semua individu pemikir seperti kehilangan ide dan metode yang mampu digunakan untuk mempertahankan fungsi hutan sebagai pendukung kehidupan bentang alam.

Sangat disayangkan apabilan kita menjadi putus asa untuk berjuang memberikan yang terbaik baik hari depan. Terkadang orang terlalu mengaca dengan kondisi pembangunan lama dan menjadi pesimis terhadap sebuah kemajuan dalam pembangunan. Namun inilah saatnya kita bangkit dan bergerak keatas menuju hari depan penuh harapan.

Kita bersama-sama satu hati satu jiwa memandang pada berkat Tuhan yang besar dan tak ternilai harganya ini. Kita bersama-sama berusaha mengelola dan memanfaatkan sumberdaya ini secara berkelanjutan demi keberlangsungan hidup insan budiman. Adalah sebuah amanah bagi setiap oran beragama untuk mencintai alamnya dan melestarikannya. Karenan dari sinilah kita hidup dan berkembang.

Jumat, 12 Juni 2009

Kemampuan Masyarakat Dalam Mengelola Sumber Daya Hutan



Sumber daya hutan merupakan aset besar bagi masyarakat sekitar hutan. Begitu pula dengan masyarakat sekitar hutan yang berada di Kabupaten Kaimana. Masyarakat di Kaimana telah mampu mengelola hutan sejak lama. Umumnya mereka mengambil kayu untuk membangun rumah dan mengumpulkan kayu bakar sebagai sumber energi. Selain hasil hutan kayu, masyarakat di Kaimana juga melimpah hasil hutan bukan kayu seperti pala dan cengkeh untuk rempah-rempah, jamur untuk obat dan lain-lain.

Masyarakat asli di beberapa kampung di Kaimana sudah secara mandiri mampu mengelola hasil hutan kayu dan hasil hutan non-kayu di tempatnya. Kemampuan ini diperoleh secara ”autodidak” atau tanpa pendidikan atau pelatihan sekalipun. Kemampuan ini merupakan hal penting yang harus diketahui untuk mengukur seberapa besar masyarakat mampu mengelola sumber daya hutan mereka.

Dilihat dari kondisi yang ada sekarang, diketahui bahwa sytem pengelolaah sumber daya hutan oleh masyarakat masih berifat sendiri-sendiri. Di beberapa tempat telah digalakan kelompok usaha kampung, namun pada kenyataannya tidak berjalan secara efektif. Selain hasil hutan yang dikelola sendiri-sendiri adapula yang mengelola secara bersama-sama, atau bergerak pada level keluarga atau marga. Namun sangat disayangkan karena orientasi keberlanjutan dan pengembangan usaha tidak menjadi prioritas. Umumnya orientasi yang mendasari pikiran masyarakat dalam pengelolaan sumber daya hutan mereka adalah kebutuhan akan uang untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan untuk memenuhi kepuasan ekonomi.

Sejauh ini secara mandiri masyarakat telah mampu memanfaatkan hasil hutan yang ada untuk menjamin keberlangsungan hidupnya. Berdasarkan hasil kegiatan analisis kemiskinan, secara nyata diperoleh fakta bahwa lebih dari 40% sumber pendapatan uang tunai masyarakat berasal dari sumber daya hutan. Untuk pertanian umumnya bersifat subsisten atau hanya untuk menjamin kebutuhan pangen rumah tangga setiap hari. Sehingga dari uraian diatas hutan memberikan arti penting bagi keberlanjutan ekonomi keluarga masyarakat di kampung-kampung di Kaimana.

Dari hasil pengamatan dan diskusi dengan masyarakat, secara kasar dapat diketahui bahwa secara teknis pemanfaatan hasil hutan, masyarakat telah memiliki kemampuan. Masyarakat sudah mampu mengekstrak sumber daya hutan baik hasil hutan kayu maupun non-kayu. Sebagai contoh di kampung Esania Distrik Buruway. Untuk perahu besar atau long boat setiap tahun masyarakat mampu menghasilkan minimal 2 buah perahu yang dijual dengan harga berkisar antara 10 – 50 juta rupiah. Selain itu setiap bulannya masyarakat kampung Esania juga mampu mensuplay kayu gergajian ke kota Kaimana. Rata-rata setiap bulan masyarakat mampu mensuplay 5 m3 kayu gergajian ke Kota Kaimana, biasanya disesuaikan dengan pesanan. Cuma sayangnya kemampuan teknis ini tidak diimbangan dengan kemampuan manajemen yang baik dalam usaha berkelanjutan dan perkembangan usaha.

Ketika kami mencoba untuk bertanya ”seberapa banyak kemampuan masyarakat untuk mensuplay kayu ke kota kaimana?” masyarakat menjawab ”Kami siap mensuplay kayu olahan ke kaimana dalam jumlah yang banyak apabila ada pesanan yang banyak”. Dari jawaban atas pertanyaan tersebut diatas, diketahui bahwa secara teknis pemanfaatan hasil hutan, masyarakat sudah mampu secara mandiri melakukannya. Tetapi ketika ditanya ”Bagaimana perhitungan dalam penentuan harga jual?” Masyarakat sering kebingungan menentukan bahkan ada beberapa yang sering berpatokan pada harga kayu yang sudah ditentukan oleh pembeli. Selain itu ada juga proses tawar menawar harga jual kayu antara masyarakt dengan pembeli. Kasus ini menunjukan bahwa dari segi manajerial terutama dalam perhitungan untung-rugi (benefit-cost) bukan menjadi hal yang krusial bagi masyarakat. Kasus ini kembali pada orientasi bahwa ”yang penting saya dapat uang tunai dan bisa berbelanja kebutuhan rumah tangga dan memenuhi kepuasan ekonomi”

1. Kemampuan Memanfaatkan Hasil Hutan Kayu.
Sumber daya hutan kayu merupakan kekayaan terbesar yang menjadi primadona di beberapa kampung di Kaimana. Potensi yang cukup menjanjikan ini mendorong banyak investor yang sudah dan akan masuk untuk mengekstrak hasil hutan ini. Sebut saja 2 kampung yang menjadi contoh kegiatan analisis kemiskinan, yaitu kampung Kensi dan kampung Guriasa. Kampung ini memiliki hak tanah adat atas areal HPH/IUPHHK yang sedang beroperasi didaerah sekitarnya. Catatan menarik kami peroleh yaitu bahwa kampung Guriasa meskipun letaknya yang jauh secara aksesibitas dari kota Kaimana, namun kampung ini merupakan kampuang yang dapat di kategorikan sejahtera, karena hampir sebagian besar masyarakatnya mendapat penerimaan uang tunai dan bentuk lain
dalam jumlah yang besar dari perusahaan yang beroperasi disini.

Potensi kayu di daerah ini cukup besar yaitu sekitar 31 m3/ha untuk pohon layak tebang. Dari hasil laporan realisasi tebangan tahunan dari beberapa HPH di Kaimana diperoleh informasi bahwa rata-rata panen tahunan kayu-kayu komersil di Kaimana mencapai lebih dari 10,000 m3.

Selain dimanfaatkan/dieksloitasi oleh perusahaan logging besar, kayu juga dipanen oleh masyarakat dan dijual dalam bentuk kayu gergajian atau kayu olahan. Jenis-jenis kayu yang sering dimanfaatkan atau dipanen oleh masyarakat adalah seperti pada daftar di bawah ini.

Daftar nama kayu yang di ambil oleh masyarakat

No Nama Daerah /Nama Dagang /Nama Ilmiah
1 Kayu Besi /Merbau /Intsia bijuga
2 Kayu Matoa /Matoa /Pometia pinata
3 Kayu Susu /Pulai /Alstonia scholaris
4 Kayu Kuning /Cendana /Santalum album
5 Kayu Linggua /Angsana /Pterocarpus sp
6 Kayu Pala /Pala /Myritica fragrans
7 Kayu Bunga /Raja Bunga /Adenanthera spp
8 Kayu Kunang2
9 Dammar /Agatis /Agatis sp
10 Gufasa /Gopasa /Vitex spp.
11 Sukun Hutan /Terap /Artocarpus spp
12 Bintangur /Bintangur /Calophyllum spp
13 Durian hutan /Durian /Durio spp
14 Kayu Ketapang /Ketapang /Terminalia sp
15 Kedondong Hutan /Kedondong Hutan/Spondias spp
16 Benuang /Benuang /Octomeles sumatrana Miq
17 Kayu Minyak
18 Kayu Bawang /Kulim /Scorodocarpus borneensis
19 Kayu Bugis /Bugis /Koordersiodendron pinnatum
20 Kayu Putih /Eucaliptus /Eucalyptus spp

Kayu-kayu ini umunya bernilai komersial yang cukup tinggi. Sebagai contoh : kayu Merbau (Instia bijuga) yang menjadi kayu primadona Papua yang sampai saat ini masih terus dijarah dan diangkut ke luar negeri untuk keperluan bahan baku industri flooring.

Dari segi masyarakat secara sederhana telah memanfatkan kayu untuk keperluan pembangunan di kampung, seperti pembangunan rumah-rumah penduduk, sekolah, dan sarana umum lain di kampung. Selain untuk konsumsi dalam kampung sebagian masyarakat juga telah menjual sebagian kayu ke kota Kaimana untuk keperluan pembangunan di Kaimana. Namun umumnya masyarakat menjaual kepada para penadah kayu kota Kaimana. Dan jumlah kayu yang dijual ke Kaimana juga dalam jumlah yang terbatas tergantung kapasitas perahu dalam mengangkut kayu ke kota.

Secara teknis, masyarakat telah mampu memanfaatkan hasil hutan kayu dan non kayu.
Dari hasil kegiatan di ketahui bahwa masyarakat kampung Esania memiliki kemampuan dalam mengelola hasil hutan kayu. Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa masyarakt di Kampung Esania, diketahui bahwa rata-rata 1 keluarga yang memiliki operator chainsaw mampu menebang lebih dari 5 m3 kayu olahan dalam 1 bulan. Bahkan apabila ada pesanan yang lebih dari 5 m3 masyarakt mampu untuk mensuplay/memenuhi pesanan itu. Aksesibilitas yang cukup mudah dan lebih murah dibandingkan kampung contoh lain menjadi faktor pendorong potensial dalam pemanfaatan sumber daya hutan kayu. Dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, masyarakt kampung Esania sudah banyak mensuplay kayu olahan untuk konsumsi pembangunan dalam kota Kaimana.

Di kampung Kensi, berdasarkan hasil analisis kemiskinan, diperoleh hasil bahwa hanya 3 laki-laki dewasa yang mampu mengoperasikan chain-saw. Hampir sebagian besar sumber pendapatan tunai masyarakat kensi berasal kegiatan mengumpulkan, memanen dan mengolah dari hasil hutan bukan kayu seerti gaharu, minyak lawang, kulit masohi pala, dan lain-lain. Secara teknis 3 laki-laki dewasa di kampung Kensi ini mampu menebang kayu. Hal ini dilihat adri konsumsi kayu dalam kampung untuk perumahan. Selain untuk konsumsi dalam kampung mereka juga mensuplay kayu olahan ke kampung-kampung di sekitar kampung Kensi yang membutuhkan. Dengan alasan aksesibitas yang cukup sulit dan alasan biaya akomodasi yang cukup tinggi, sehingga mereka tidak menjadi suplier kayu gergajian untuk kota Kaimana.

Keahlian khusus yang dimiliki kebanyakan laki-laki dewasa di Kampung Kensi adalah inventarisasi hutan. Karena hampir sebagian besar laki-laki dewasa merupakan bekas tenaga surveyor untuk perusahaan yang pernah beroperasi disini.

Untuk kampung Guriasa, hampir semua laki-laki diusia produktif (>19 tahun) mampu mengoperasikan chain-saw. Hal ini dibuktikan dengan data kepemilikan barang-barang masyarakat. Hampir 80 % dari jumlah kepala keluarga di kampung ini memiliki chain-saw. Kampung ini merupakan sebagian dari beberapa kampung di Kaimana yang masyarakatnya memiliki pendapatan diatas rata-rata. Kehadiran 2 perusahan kayu diwilayah adatnya mendorong perubahan ekonomi yang besar dalam kehidupan masyarakat. Sebagian dari Chain-saw yang ada di kampung ini merupakan bantuan dari perusahaan, tetapi hampir sebagian besar chain-saw yang ada dibeli oleh masyarakat sendiri.

Dari hasil kegiatan diperoleh fakta bahwa tiap bulannya tiap operator hanya boleh mensuplay kira-kira 1 m3 kayu gergajian. Menurut masyarkat bahwa ada larang dari pihak tertentu untuk memanfaatkan lebih dari itu, padahal mereka menuturkan bahwa mereka mampu mensuplay lebih dari itu. Dengan perkiraan diatas bahwa masyarakat mampu mensuplay 1 m3 dan dari 30 operator chain-saw hanya 25 operator aktif, maka tiap bulannya masyarakat kampung guriasan mampu mensuplay 25 m3 kayu gergajian. Pemanfaatan hasil hutan kayu di Kampung ini menjadi primodona. Kehadiran penada kayu di kampung ini turut memacu masyarakat untuk terus menebang dan menjual kayu gergajian demi kebutuhan akan uang.

Catatan:
Secara umum untuk ketiga kampung ini sistem pengaturan hasil masih bersifat tanpa perencanan terstruktur. Prinsip yang berkembang dalam pemanfaatan hasil hutan kayu adalah “siapa yang mampu mengekstrak hasil hutan kayu, silahkan untuk memanfaatkan. Namun pemanfaatan harus dilakukan pada wilayah hak adapt masing-masing keluarga atau marga”.

Menurut masyarakt kegiatan pemanenan cukup memakan waktu lama. Mulai dari penebangan sampai pemuatan dan penjualan ke penadah memerlukan waktu ± 1 minggu untuk satu pohon dengan diameter > 50 cm. Sama seperti masalah pengaturan hasil, tidak ada perencanaan tersistem dalam kegiatan pemanenan.

2. Kemampuan mengekstrak Sumber Daya Hutan Non Kayu
Selain sumber daya hutan kayu yang melimpah, Kabupaten Kaimana juga memiliki potensi Hasil Hutan Bukan Kayu yang cukup menjanjikan. Banyak produk-produk hutan bukan kayu yang menjadi primadona masyarakat dan bernilai komersial cukup tinggi seperti : Gaharu dan Minyak Lawang. Gaharu sendiri banyak dicari oleh pengusaha-pengusaha besar, karena memiliki nilai pasar yang cukup tinggi. Masyarakat di kampung-kampung sekitar Kaimana sebagian menggantungkan hidupnya pada hasil hutan bukan kayu.

Salah satu kampung dari kegiatan analisis kemiskinan yang memiliki potensi hasil hutan bukan kayu cukup besar adalah kampung Kampung Kensi. Meskipun pembangunan dan bantuan sosial sudah berjalan sejak lama, namun sebagian masyarakat kampung Kensi dalam kondisi dengan pola hidup berburu, meramu dan mengumpulkan hasil hutan. Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa sekitar 50 % dari sumber pendapatan tunai masyarakat kensi berasal dari hutan. Dan dilihat dari proporsi hasil hutan, hasil hutan bukan kayu seperti gaharu, minyak lawang, kulit masohi dan pala memberikan pengaruh paling besar bagi kehidupan ekonomi warga Kensi.

Untuk kampung lain Esania dan Guriasa, sumber hasil hutan bukan kayu yang potensial adalah pala. Rata-rata setiap keluarga memiliki pala. Pala umumnya di panen 2 kali setiap tahun, sehingga menurut beberapa warga pala tidak berpengaruh banyak pada penghidupan masyarakat dalam satu tahun.

Hasil hutan minyak lawang di Kampung Kensi cukup potensial, namun tempat untuk memperoleh hasil yang potensial ini harus dicapai dengan berjalan kaki selama ± 3 hari. Proses pengolahan minyak lawang ini selanjutnya akan akan memakan waktu ± 1 bulan. Selama satu bulan ini biasanya masyarakat mampu mendapatkan 10 – 15 botol minyak lawang siap jual. Dan biasanya satu botol dijual dengan harga Rp. 50,000 di kecamatan Arguni dan Rp. 75,000 di Kaimana kota. Hampir sebagian besar masyarakat Kensi mengolah kulit lawang menjadi minyak secara musiman dan menunggu sampai pohon kembali produktif adalah 2 kali setahun per pohon.

Pohon lawang yang dimanfaatkan diperoleh di alam liar. Dan masyarakat akan mengekstraknya di tempat yang cukup jauh dari kampung. Namun sekarang secara tradisional masyarakat sudah mencoba untuk menanam pohon lawang di sekitar kampung.
Untuk gaharu, masyarakat Kensi bisa menghabiskan waktu antara 2 – 3 bulan untuk berkeliling hutan mengumpulkan gaharu. Masyarakat akan kembali ke Kampung setelah memperoleh hasil yang cukup banyak dalam jumlah beberapa kg. Gaharu bisanya dijual ke penadah yang datang ke kampung dengan kisaran harga antara Rp.500,000 – 700,000. Terkadang masyarakat harus menjual dengan harga jauh dibawah harga normal.
Pencarian dan pengumpulan gaharu di hutan biasanya merupakan inisiatif pribadi atau keluarga.

Gaharu belum banyak diusahakan/dikelola dengan teknik silvikultur tertentu oleh masyarakat. Selama ini hasil yang diperoleh masing-masing sangat bergantung pada alam. Masyarakat masih sepenuhnya mengumpulkan hasil ini dari apa yang disediakan oleh alam. Frekuensi pengambilan hasil hutan ini tidak menentu. Umumnya masyarakat menyempatkan maktu 2 kali dalam setahun untuk masuk berkeliling hutan untuk mencari dan mengumpulkan gaharu.

Lembaga Pengelola Sumber Daya Hutan Di Tingkat Kampung

Sumber daya hutan merupakan berkah yang tak ternialai harganya bagi semua aktor biologis disekitarnya. Salah satu sumber daya alam yang begitu potensial dan merupakan tumpuan bagi keberlangsungan hidup suatu insan biologis adalah hutan. Hutan merupakan rumah dan sekaligus bank yang mensuplay kebutuhan hidup mendasar dari aktor biologis yang ada didalamnya termasuk manusia (masyarakat).

Selama ini perhatian khusus terhadap nilai pentingnya keberadaan hutan bagi masyarakat sangat kurang. Hutan selalu identik dengan bank-hidup yang mampu memberikan keuntungan dan kepuasan ekonomi diantaranya dalam bentuk uang tunai. Hal ini sangat mencolok dalam perubahan pola kehidupan masyarakat sekitar hutan. Contoh kasus dibeberapa masyarakat Kampung sekitar Kabupaten Kaimana. Masyarakat di sebagian besar kampung di Kaimana ini hidup bergantung pada hasil alam (hutan dan perairan). Berdasarkan hasil analisis proporsi pendapatan dari penghidupan setahun rumah tangga di beberapa kampung di Kaimana. Diketahui bahwa sekitar 50 % sumber penghidupannya berasal dari hasil hutan. Hutan memberikan kontribusi besar baik untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari rumah tangga atau sumber penghasilan dalam bentuk uang tunai. Masyarakat secara teknis sudah mampu untuk memanfaatkan hasil hutan baik hasil hutan kayu maupun hasil hutan bukan kayu.

Kondisi ekonomi yang terus mengalami perubahan dari waktu ke waktu mendorong laju perubahan pola hidup masyarakat yang semakin cepat pula. Kebutuhan akan uang manjadi faktor pendorong krusial dalam pemanfaatan sumber daya huta. Namun sangat disayangkan bahwa perubahan-perubahan diatas tidak diseimbangkan dengan kemampuan manajemen hasil dan manajemen usaha rumah tangga yang baik.

Menurut Eva Wolenberg (1999), penggunaan hasil hutan perlu mempertimbangkan kondisi dampak ekologi, finansial dan sosial. Pemeliharaan dan pemanfaatan hasil hutan merupakan penyesuaian terhadap situasi demikian dalam kerangka 3 pola hubungan antara usaha hasil hutan dengan pasar, kemudian hutan dengan ekonomi masyarakat kampung.

Istilah usaha yang bercetak tebal pada gambar sebelumnya mengandung pengertian interpretasi secara luas tentang aktifitas pemanfaatan hasil hutan kayu dan bukan kayu yang direncanakan dengan maksud menyediakan keuntungan ekonomi, baik berupa uang tunai atau dalam bentuk yang lain.
Oleh karena hutan merupakan sumber daya krusial sehingga dalam pemanfaatan dan penggunaannya dibutuhkan suatu system manajemen yang mantap. System manajemen ini diperlukan suatu perencanaan yang matang sebelum menjalankan usaha kehutanan. Pemantapan sistem manajemen mencakup pembentukan lembaga pengelola hasil hutan, serta rencana manajemen selanjutnya.



Gambar.1 Pola interaksi antara hutan, usaha, dan masyarakat

Dalam satu bentang alam yang kompleks, interaksi antara komponen-komponen kehidupan sangat beragam pula, sebagai contoh: interaksi antara manusia dengan hutan. Interaksi ini terjadi secara terus menerus hutan merupakan berkat tersendiri bagi manusia yang hidup disekitarnya. Oleh sebab itu dalam pengelolaannya, dibutuhkan suatu perencanaan manajerial yang baik. Rencana ini selanjutnya akan menjadi acuan atau kerangka pikiran umum dalam melaksanakan program kegiatan selanjutnya.
Masyarakat merupakan oknum yang akan memanfaatkan sumber daya hutan secara terus-menerus dari waktu ke waktu. Masyarakat dari waktu ke waku di setiap level kehidupan tidak pernah luput dari kegiatan pemanfaatan sumber daya hutan.hutan sangat berpenaruh besar pada masyarakat yang tinggal dan menggantungkan hidupnya pada sumber daya hutan. Sebagai salah satu contoh masyarakat Papua atau secara khusus sebagian masyarakat yang hidup di kampung-kampung di Kaimana. Masyarakat didaerah ini merupakan aktor utama dalam pemanfaatan hasil hutan. Masyarakat telah beranjak untuk mengelola hutan dengan sederetan aturan-aturan dasar yang mereka anggap sebagai acuan dalam memanfaatkan hasil hutan. Atura-aturan ini terus tumbuh, dan memberikan warna baru dalam setiap aktifitas pemanfaatan hasil hutan.

Masyarakat ini telah belajar dan mampu memanfaatkan hasil hutan dengan berbagai orientasi yang berkembang dalam pikiran mereka.
Ada sebuah harapan bahwa aturan-aturan yang ada bisa menjadi acuan atau kerangka pemanfaatan keberlanjutan yang baik. Pemanfaatan berkelanjutan mengandung pengertian yang luas, yaitu diantaranya keberlanjutan usaha, kelestarian lingkungan dan ketahanan sosial. 3 aspek keberlanjutan tersebut menjadi kunci acuan pemanfaatan sumber daya hutan.

Berangkat dari harapan diatas sebelumnya maka pembentukan lembaga yang akan memanfaatkan hasil hutan merupakan lankah awal. Lembaga ini merupakan sebuah badan usaha yang didalanya berlaku atura-aturan manajemen. Badan usaha ini bisa berbentuk usaha perseorang (keluarga) atau kelompok tertentu. Keanggotaan badan usaha ini diatur dengan serangkaian aturan dasar dari usaha ini.

Dari hasil kegiatan diperoleh informasi bahwa ada harapan dari masyarakat membangun suatu lembaga pemanfaatan hasil hutan yang mampu menjadi tempat penampung kemampuan dan kebutuhan masyarakat dalam hal pemanfaatan hasil hutan. Adapun beberepa pihak yang dianggap penting untuk bersama-sama masyarakat membentuk usaha ini adalah: - LSM (NGO), - PEMDA (Pemerintah Daerah), dan Pihak Swasta. Dimana pihak swasta selanjutnya akan berperan sebagai aktor yang bisa meyakinkan masyarakat terkait pemanfaatan hasil selanjutnya. LSM (NGO) membantu dan mendampingi dalam memberikan pikiran-pikiran pemanfaatan suber daya hutan secara berkelanjutan dan sebagai fasilitator/media antara masyarakat, pihak swasta dan pemerintah. Pemerintah berperan sebagai sumber dana penggerak, kontrol dan evaluasi keberlangsungan usaha serta berperan dalam penetapan hak-hak hukum dan adminstrasi dari badan usaha. (gambar. )




Gambar 2. Pemantapan sistem manajeman pengelolaan sumber daya hutan.

Setelah ada lembaga dengan serangkaian aturan yang beralaku, tahapan selanjutnya merupakan kerja masyarakat dan NGO bermitra dengan pemerintah daerah. Pekerjaan disini menyangkut pemantapan sistem manajemen usaha. Pemantapan sistem manajemen usaha ini dimasksudkan untuk mengatur setiap aspek strategis dari badan usaha secara terencana dengan tujuan yang telah ditetapkan. Usaha pemantapan sistem manajemen ini mencakup:
a) Pemantapan sistem manajemen pemanfaatan hasil
b) Pemantapan sistem manajemen organisasi usaha
c) Pemantapan sistem manajemen pemasaran
Strategi-strategi pemantapan diatas merupakan rangkaian sederhana dalam menata lembaga usaha yang telah didirikan bersama. Dimana ketiga strategi diatas diharapkan menjadi kunci dalam pengaturan pemanfaatan sumber daya hutan secara berkelanjutan. Ketiga strategi ini secara sederhana merupakan tiang utama dalam keberlanjutan usaha pemanfaatan hasil hutan.



Gambar 3. Pembentukan lembaga pengelola sumber daya hutan

1. Pemantapan sistem manajemen pemanfaatan hasil
Aspek ini merupakan aspek krusial, karena merupakan faktor pendorong berjalannya usaha. Faktor ini mencakup beberapa hal yaitu pengaturan hasil produksi, pengaturan hasil cadangan, pengaturan hasil yang dipelihara atau dipertahankan. Pengaturan hasil produksi sendiri mengandung pengertian bahwa seberapa banyak hasil yang dapat diambil per periode waktu tertentu. Sebagai contoh misalnya untuk kayu, “berapa m3 kayu yang dapat ditebang tiap tahunnya (AAC)?” Penentuan jatah tebangan tahunan ini merupakan dasar penting dalam perencanaan pemanfaatan hasil hutan secara berkelanjutan. Penentuan jatah tebangan ini mengacu pada hasil identifikasi potensi hasil hutan kayu. Untuk pemantapan kegiatan ini diperlukan dinas kehutanan sebagai assesor dan datang untuk menetapkan dan mengesahkan semua dokument pemanfaatan hasil hutan kayu
Pengaturan hasil cadangan mengandung pengertian bahwa pohon-pohon ini atau pohon-pohon induk atau hasil-hasil yang berkualitas baik dipertahankan sebagai cadangan dalam periode waktu berikutnya. Selain itu juga sumber-sumber yang berkualitas ini dipertahankan sebagai sumber bibit untuk regenerasi. Pengaturan hasil cadangan ini merupakan bagian dari manajemen persediaan.
Pengaturan hasil yang dipertahankan atau dipelihara mengandung pengertian perencanaan terhadap pemanfaatan hasil hutan lain yang langsung. Pemeliharaan lingkungan, ekosistem dan kekayaan alam yang khas dari daerah tersebut. Selain itu manajemen
2. Pemantapan Sistem Manajemen Organisasi Usaha
Organisasi usaha memiliki fungsi yang begitu luas, sehingga pada awalnya dalam pembentukan sebuah badah usaha, diperlukan penetuan terhadap ruang lingkup (scope) kerja badan usaha. Ruang lingkup akan berbicara tentang kerangka organisasi, struktur organisasi, sitem keanggotaan serta atura-atura lain yang sifatnya mengikat dalam organisasi. Pemantapan strategi organisasi usaha dianggap penting karena merupakan factor penggerak keefektifan kerja badan usaha. Pembagian peran dalam organisasi merupakan salah satu wujud dalam usaha pemantapan sistem manajemen organisasi. Dengan organisasi yang harapan baik akan terwujud.
3. Pemantapan Sistem Pemasaran Hasil
Pemasaran selalu menjadi masalah klasik yang agak rumit dicari pemecahannya. Pengelolaan hasil yang berkelanjutan akan terwujud apabila ada pasar yang siap menampung hasil yang dimanfaatkan. Langkah awal yang baik untuk menanggulangi masalah ini adalah ketika pembentukan lembaga, diharapkan juga bisa melibatkan pihak swasta yang memiliki akses pasar yang baik. Informasi pasar akan mudah diperoleh dengan kehadiran pihak swasta ini.
Selain cara diatas, adalah baik untuk membangu sebuah jaringan komunikasi yang baik dengan akses pasar hasil. Atau dengan kata lain bermitra dengan pihak swasta lokal yang memiliki akses pasar yang baik. Perencanna sistem pemasaran hasil adalah hal penting oleh sebab itu peran NGOdan pemerintah akan sangat besra pada tahap ini dalam membantu badan usaha milik masyarakat dalam merancang strategy paasar yang dan membantu mencari akses pasar yang potensial.

Mr. Yumte

Senin, 08 Juni 2009

Penghidupan Masyarakat Adat Esania dan Sumber Daya Hutannya



Mengetahui besar kontribusi hutan bagi keberlangsungan hidup suatu masyarakat yang hidup disekitar hutan merupakan salah satu kunci dalam menelusuri program pembangunan yang sesuai untuk mereka. Kontribusi disini diartikan sebagai peran hutan terhadap segala sesuatu yang dihasilkan dan digunakan suatu masyarakat dari hutan baik berupa penghasilan dalam bentuk uang tunai, maupun penghasilan yang langsung dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga.

Berbagai metode telah digunakan untuk melihat seberapa besar kontribusi hutan bagi suatu masyarakat yang hidup disekitar hutan. Pendekatan yang umum digunakan adalah pendekatan annual income (pendapatan tahunan). Perkiraan pendapatan dari masyarakat yang hidup disekitar hutan merupakan salah satu kunci dalam memahami kehidupan mereka dan pola penggunaan dari hutan. Menurut Wolenberg dan Nawir (1998), income merupakan indicator penting dari masyarakat kehidupan masyarakat sekitar hutan. Income juga dapat digunakan untuk menilai dampak dari program-program pembangunan, perkembangan pasar dan dunia usaha masyarakat.

Satu metode yang sudah digunakan dalam melihat besarnya kontrbusi hutan bagi masyarakat dan dapat digunakan untuk menelusuri masalah-masalah kehutanan yang dialami masyarakat adalah dengan Alat Bantu Analisi Kemiskinan. Metode ini mampu mengetahui besar konttribusi hutan disetiap level ekonomi rumah tangga dan sekaligus megetahui pendapat dari gender yang berbeda dari kudua level ekonomi rumah tangga tersebut. Selain itu responden juga diajak untuk berpikir bersama tentang solusi dari masalah yang dihadapi yang berkaitan dengan pengelolaan hutan.

The Samdhana Institute bersama Perkumpulan Perdu dengan dukungan dana dari IUCN sedang melaksanakan program ‘livelihoods and landscapes strategy (LLS)’ di Jasirah Bomberai, Papua Barat. Tujuan umum dari kerjasama tersebut adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Jasirah Bomberai serta mendorong pengelolaan sumber daya alam secara bekelanjutan. Adapun salah satu strategi untuk mencapai tujuan umum diatas adalah dengan mendukung pengambilan keputusan oleh pihak Pemda yang berpihak pada pengelolaan berkelanjutan dan memperhitungkan kepenting masyarakat. Untuk mencapai tujuan dan strategi diatas maka serangkai kegiatan dilakukan untuk mengumpulkan informasi tentang karakteristik masyarakat untuk menemukan pola terbaik dalam pembangunan.

Dan salah satu kegiatan dari rangkaian itu adalah proses analisis kemiskinan ini. Dengan harapan melalui kegiatan ini akan diperoleh informasi yang berhubungan dengan karakteristik kehidupan rumah tangga dari masyarakat yang hidup disekitar hutan. Serta diperoleh informasi yang berkaitan dengan masalah-masalah penggunaan lahan dan hutan yang dialami masyarakat.

Tittle: Profor - IUCN Penerapan Alat Bantu Forest Povety Toolkit
           di Kampung Esania - Distrik Buruway - Kab Kaimana
Author : IUCN - PEMALI - PERDU
Editor  : Yunus Yumte
Year    : 2009


DOWNLOAD

Rabu, 03 Juni 2009

Dalam 1 Menit, Hutan Seluas 5 Kali Lapangan Bola Rusak

JAKARTA, KOMPAS.com — Perusakan hutan di Indonesia begitu parah dan memprihatinkan. Ini meningkatkan pemanasan global yang sedang kita khawatirkan saat ini, selain faktor energi dan transportasi.

"Deforestasi di Indonesia menyumbang 75 persen gas rumah kaca," kata Joko Arif, Juru Bicara Kampanye Bidang Kehutanan Greenpeace di Jakarta, Selasa (26/5).

Menurut data yang dirilis Food Agricultural Organization tahun 2007, laju perusakan hutan 1,8 juta hektar per tahun. Dalam 1 menit perusakan hutan terjadi seluas 5 kali luas lapangan sepak bola. Dengan kata lain, dalam sejam hutan seluas 300 lapangan sepak bola rusak.

Untuk itu, Joko mendesak agar dilakukan moratorium deforestasi dan mengurangi bahan bakar batu bara. "Batu bara merupakan bahan bakar fosil terkotor, yang menyumbang gas rumah kaca, seperti CO2, NO2, CH4," tutur Joko.

Sebenarnya, ada banyak energi alternatif yang disebut energi bersih untuk mengganti bahan bakar fosil yang tidak ramah lingkungan. "Indonesia memiliki potensi energi panas bumi terbesar di dunia, punya energi sinar matahari sepanjang tahun, energi angin di Indonesia timur, dan mikrohidro di daerah yang punya sungai," tutur Joko.

Jika pemerintah tidak menyikapi isu ini, kita tinggal menunggu bencana yang mengerikan. "Pada tahun 2025 Bandara Soekarno Hatta tidak bisa digunakan karena tergenang air, dengan catatan tidak ada usaha yang dilakukan pemerintah untuk perbaiki lingkungan," pungkas Joko.

ONE
Akses http://m.kompas.com di mana saja melalui ponsel, Blackberry, iPhone, atau Windows Mobile Phone Anda

Sabtu, 30 Mei 2009

Contact



Any more information or clarification in related to the ideas, stories and news in this blog please contact me on email: mr.papua.y@gmail.com

Regards,
www.tapakbatas.blogspot.co.id

Selasa, 26 Mei 2009

Tabel Berat Tepung Sagu Duri di Sorong Salatan, Barat

Di posting saya sebelumnya http://tapakbatas.blogspot.co.id/2009/05/model-matematis-penduga-berat-tepung.html saya sudah share ringkasan penelitian saya dengan model matematis yang  coba hitung dan hasilkan untuk melihat hubungan korelasi antara volume pohon sagu yang diukur dengan pendekatan diameter (Dbs) dan tinggi bebas pelapah (Tbp). Melengkapi postingan tersebut, tulisan kali ini adalah lebih jauh berbagi tentang table berat tepung basah pohon sagu duri (Matroxylon Rumphii) yang tumbuh disorong selatan dan dimanfaatkan secara massive oleh masyarakat adat disana. Table ini adalah pengolahan lanjutan dari model penduga yang sudah saya susun.

Table ini menurut saya sangat bermanfaat dan akan membantu masyarkat, korporasi, pemrintah atau pihak lain yang ingin secara cepat mengetahui berapa banyak kira-kira jumlah tepung sagu basah yang bisa dihasilkan dari proses extraksi secara tradisional yang dilakukan oleh masyarakat adat di sekitar Kais, Kokoda, Teminabuan, Buuk dan Beraur di Sorong Selatan. Detail tentang tabel berat yang saya dapatkan dari penelitian saya bersama cara membaca dan memahaminya bisa didownload di link ini: https://drive.google.com/file/d/0BygScToA2HKFY0FxM1hHd0lneHc/view?usp=sharing


Dari hasil penelitian dan tabel berat yang saya susun ini saya mencacat point penting bahwa pendekatan penghitungan nilai manfaat sagu kepada masyarakat sedianya tidak dilihat jumlah pohon dan jumlah batang yang ada didalam satu hamparan hutan sagu tetapi dari jumlah tepung yang bisa dihasilkan dari total bataang sagu tersebut. Saya melihat bahwa dengan potensi yang besar sangatlah besar kemungkinan satu waktu exploitasi skala besar akan masuk ke wilayah ini terutama untuk industry pengolahan sagu. Sangatlah disarankan agar pendekatan berat dipakai sebagai acuan dalam penentuan nilai produksi dan manfaat yang harus diterima oleh masyarakat.

Minggu, 24 Mei 2009

Model Matematis Penduga Berat Tepung Sagu

YUNUS YUMTE. Penyusunan Model Penduga Berat Basah Tepung Sagu Duri (Metroxylon rumphii) di Kabupaten Sorong Selatan Propinsi Papua Barat. Departemen Manajemen Hutan. Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyusun model matematika yang dapat digunakan untuk menduga berat basah tepung sagu (kg/pohon) di Kabupaten Sorong Selatan Propinsi Papua Barat. Penelitian ini berangkat dari fakta bahwa Pulau Papua telah dianggap sebagai pusat keanekaragaman tanaman sagu. Maka informasi yang banyak tentang sifat-sifat atau karakteristik-karakteristik dari tanaman sagu sangat diperlukan untuk menjamin kestabilan dan keberlanjutan pengelolaan hutan sagu di Papua.
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April – Mei tahun 2008 di Kabupaten Sorong Selatan. Jenis sagu yang dijadikan objek penelitian ini adalah Sagu Duri (Metroxylon rumphii). Pohon sagu contoh diambil di Distrik Kais, Teminabuan dan Seremuk. Jumlah pohon contoh yang berhasil diukur adalah 52 pohon. Pohon sagu contoh ini diambil dengan pertimbangan sebaran tempat tumbuh, sebaran diameter dan sebaran tinggi bebas pelepah. 52 pohon contoh tersebut dikelompokan per kelas diameter setinggi dada (Dbh) dengan selang tiap kelasnya adalah 5 cm, dan kelas tinggi bebas pelepah (Tbp) dengan selang tiap kelasnya adalah 5 m.
Berdasarkan pada hasil penelitian diketahui bahwa diameter setinggi dada pohon sagu di Kabupaten Sorong Selatan mencapai 64 cm dan tinggi bebas pelepah mencapai 21 m. Hasil produksi basah tepung sagu per pohon berkisar antara 87 – 368 kg dengan rata-rata berat basah tepung sagu 189,22 kg. Bentuk pohon sagu di Kabupaten Sorong Selatan tidak silindris dimana diameter batang bagian tengah lebih besar dari diameter batang bagian pangkal dan bagian ujung. Sehingga volume aktual yang diperoleh dari hasil pengukuran lebih besar dari volume silindris (1/4 ยต (D(cm)/100)2 T(m)). Dimana berdasarkan hasil perhitungan diperoleh volume aktual rata-rata pohon contoh adalah 2,635193 m3 sedangkan volume silindris rata-rata pohon contoh adalah 2,169902 m3, dengan volume aktual pohon contoh terbesar mencapai 7,348883 m3. Berdasarkan hasil perhitungan terhadap 52 pohon contoh ini, juga diperoleh nilai angka bentuk (f) batang sagu sampai batas yang dianggap produktif untuk menghasilkan tepung sagu sebesar 1,26133.
Dari total 52 pohon contoh, 35 pohon contoh digunakan untuk tahap penyusunan model dan 17 pohon contoh untuk uji validasi model. Analisis regresi digunakan untuk mendapat model penduga berat basah tepung sagu. Berdasarkan analisis pada tahap penyusunan model dan uji validasi model, diketahui bahwa model Schumacher-Hall (Ws = 1,795 (Dbh)0,648 (Tbp)0,874) lebih baik untuk menduga berat basah tepung sagu di Kabupaten Sorong Selatan.

Mr.Yumte

Senin, 18 Mei 2009

Cerita Lapang Jilid I


Halo kawan-kawan,

Halo kawan-kawan semua, aku mau cerita sedikit tentang apa yang aku dapat selama kegiatanku dilapangan. Satu hal yang mau aku katakan pertama adalah Dunia Kehutanan Merupakan Dunia yang Sangat Komplek dengan Berbagai masalah yang saling berkaitan.


Aku dah bekerja untuk kerjaan sakarang ini kurang lebih 7 Bulan (4 Bulan di Tahun 2008 dan 3 bulan di Tahun 2009). Tujuan dari project yang aku terlibat didalamnya ini adalah untuk menemukan metode bersama dalam berpikiran Landscape secara menyeluruh. Jadi kita tidak hanya berpikir dari dunia kehutanan saja, tetapi semuanya (Perikanan, Kependudukan, Pertanian, Industri, Pembangunan Perkotaan, Pembangunan Ekonomi, dan segala hal yang berpengaruh terhadap penghidupan dalam suatu wilayah).


Beberapa proses telah dilewati, diantaranya dengan memperkenalkan soft ware Stella.9 sebagai alat bantu dalam menganalisis perubahan yang terjadi sampai metode manual dengan pendekatan Analisis kesejahteraan. Sungguh beberapa proses yang menarik dan tentunya memberikan tambahan pengetahuan untuk saya. Beberapa hal yang menarik lain adalah saya bekerja langsung dengan Beberapa Ahli di Bidangnya dari CIFOR dan IUCN. Untuk kegiatan yang berkaitan dengan Stella Pa Heri Purnomo juga terlibat. Dan tentunya salah satu ahli pemodelan Partisipatif dari Charles Darwin University yang juga Direktur Livelihood Program di CIFOR Mr. Brucee Campbell.

Hasil analisis dan simulasi menarik kita dapatkan dimana apabila kegiatan pembangunan di daerah ini berjalan seperti apa adanya sekarangan ini maka cadangan hutan yang ada akan berkurang dalam kurun waktu yang cepat. Apalagi ditambah dengan rencana Pemerintah daerah setempat yang berencana memberikan izin usaha pemanfaatan lahan kepada Salah satu perusahaan sawit ternama negeri ini.
Selain laju konfersi lahan yang cukup besar, hasil menarik juga didapat terkait kesempatan kerja yang meningkat. Hal ini mendorong laju imigrasi cukup tinggi. Sehingga dari hasil simulasi diketahui bahwa dalam kurun waktu 20 tahun kedepan perbandingan orang asli dan orang pendatang akan menjadi 30 : 70 (30 untuk lokal dan 70 untuk pendatang).

Selain kegiatan Stella, kegiatan lain yang sekrang sedang saya kerjakan membantu Salah satu ahli di bidang analisis kesejateraan. Ia seorang Ibu yang bekerja di ODI (Overseas Development Institute) UK dan juga salah staff di IUCN Ibu Gill Sepherd. Kegiatan yang satu ini lebih menarik karena kita akan berusaha mengidentifikasi kontribusi hutan dan sumber-sumber lain kepada pendapatan tahunan masyarakat di suatu kampung.
Menarik karena teknik yang digunakan bukan teknik wawancara/FGD seperti yang pernah lakukan selama kuliah, tetapi teknik kerambol. Jadi kita bisa melihat bagaimana pendapat yang muncul dari setiap golongan ekonomi di suatu kampung. Selanjutnya kita laksanakan identifikasi permasalah utama yang muncul dan mereka alami terkait sumberdaya hutan. Bedanya dengan teknik inteview biasa adalah semua masyarakat lebih aktif untuk memberikan pendapat. Karena setiap kelompok dibagi berdasarkan gender dan ditentukan menurut golongan ekonomi. Hal menarik lain adalah kita bisa menemukan variasi yang mencolok dalam hal pendapat masyarakat tentang hutan dan kontribusi hutan dan sumber daya lain kepada penghasilan masyarakat. Saat ini kegiatan kedua sedang berjalan, jadi saya belum bisa mencerikan hasil yang didapat. mungkin akan saya lanjutkan setelah kegiatan kedua ini selesai. Terima kasih untuk waktunya yang diluangkan untuk membaca cerita ini.

Best regards,
Mr. Yumte