My Ideas and Stories About PAPUA

Making the rich and beautiful resources in Papua become the social economic strength for Papuan has become the long home works. Many people believe that the early start to find the answer is by understanding how Papua looks like, their communities and their special strength. And it can be realize by directly in touch with them. This blogs provides you chance to touch and gets insight ideas, trends and stories about Papua.
  • Stories About Beautiful Papua

    Every Single Place In Papua Have Its Stories To Be Shared To Build Other People Understanding About This Island

  • The Last Frotier Primary Forests

    With 42 Million ha of forests, Papua play crucial rules in Indonensia forests development targets.

  • Women and Natural Resources

    Forests or land right are not only about Man. So understanding the roles women and the impact of forests changes to women are also crucial

  • Our Traditional Value

    Papuan Community Have Been Living for Centuries with Their Knowledge and Wisdom in Managing Natural Resources and Practice Best Conservation

  • For Papuan Generation

    Every Works We Do Now Must Be Dedicated To The Future Papuan Generation

  • Dependency to Forests Resources

    Practicing Good Forests Governance in Papus About Understing the Right of Indigenous People and Their Dependency to Natural Resources

  • All Are Wonderful

    You Will Get Good Scene That You May Not Able Somewhere Else - Only In PAPUA

  • Bitter Nut Is Papuan Favorit Gums

    Bitter Nut or In Papua We Call 'Pinang' Is The Local Gum You Can See In Every Corner of the Cities. Papuan People Love To Chewing It. Sometime People Consider It As Contact Material When You Travel to The Village

  • Papuan Traditional Conservation Practices

    For Centuries, Papuan Has Practicing Local Wisdom to Sustainaible Use of Natural Resources. They Have Traditional Education System to Teaching Them How To Interact With Human, Spiritual Power and Understanding The Words Of Nature

Kamis, 27 April 2017

Ekonomi Papua: "Masohi" Kenapa Masyarakat Hanya Menjual Kulit Pohon-nya?

Masohi, Lactone dan Status Pengembangannya

Berawal dari obrolan singkat siang ini dengan Abang Lichin dan Mas Risdianto, dua Senior NGO di Papua Barat tentang potensi Kulit Masohi yang besar di wilayah teluk bintuni saya kemudian mencoba untuk menelusuri informasi-informasi yang ada tentang Masohi. Perkenalan saya dengan produk alam yang cukup terkenal dari Papua ini secara langsung terjadi ketika studi bersama IUCN dan Samdhana Institute yang dilakukan di Kampung Kensi Kabupaten Kaimana Tahun 2009. Dimana studi ini membawa kami untuk mendaftarkan dan mengidentifikasi kondisi market untuk merangkai pilihan ekonomi yang tepat kepada masyarakat adat. Masohi menjadi produk yang disebutkan oleh masyarakat kensi berkontribusi besar terhadap ekonomi masyaraka di kampung sekalipun sebenarnya mereka rugi karena cost yang lebih besar dari profit. Mungkin mereka menjadi terus rugi karena menjual mentahan kulit masohi yang nilai jual-nya tidak besar dan tidak mampu menutupi biaya logistik pengiriman barang (kulit) ke pasar. Pada saat itu, Pak Andrew Ingles dari IUCN dengan hasil assessment yang kita lakukan memberikan saran agar dua opsi dilakukan yaitu (1) membangun hutan tanaman masohi untuk pasokan yang lebih stabil dan (2) introduksi teknologi penyulingan untuk membantu meningkatkan nilai tambah dari produk daripada masyarakat hanya menjual kulit dengan harga yang merugikan mereka di kota.

Saya mencoba untuk menelusuri cerita tentang masohi, memulai dengan mengetik "jual minyak masohi Papua". Sayapun dibawa Google ke beberapa pilihan informasi. Perhatian saya kemudian tertuju khusus pada info google dimana link-nya adalah tokopedia.com. Sebagai orang Indonesia, tokopedia kita kenal baik sebagai salah satu situs e-commerce yang sangat aktif dan lancar transaksi. Didalam tokopedia muncul sekitar 10 iklan produk minyak kulit masohi dengan kisaran harga yang kurang lebih sama. Semua penjual berdomisili di luar Papua, mereka tersebar di Jakarta, Surabaya dan Palu. Harga terendah yang disajikan disitu adalah Rp.80,000 rupiah untuk minya dengan ukuran botol 25ml sedangkan harga tertinggi adalah Rp.440,000 untuk botol 80ml. Nilai ekonomi produk yang besar tentunya. Informasi dari Litbang Kehutanan Manokwari sebagaimana di upload di http://www.forda-mof.org/files/HHBK-Potensi_Pemberdayaan_Masyarakat_Sekitar_Hutan.pdf , bahwa dipasaran nilai minyak masohi dihargai rata-rata Rp. 3,250,000/liter: itupun tergantung dari kandungan "Lactone" didalamnya untuk kandungan lakton yang tinggi mencapai 70% nilai jualnya bahkan bisa mencapai Rp. 4,500,000/liter.


Apa sebenarnya yang spesial dari kulit pohon ini? Kenapa nilai jual per liter-nya begitu tinggi dipasaran? Pertanyaan ini terjawab dengan beberapa literatur. Dari situs https://www.britannica.com/science/lactone misalnya saya menemukan informasi bahwa inti dari pohon kulit kayu Masohi adalah kandungan 'Lactone' yang merupakan bagaian dari gugus ester asam pekat. Lactone selama ini menjadi asam organic yang dipakai di industri parfum ingredient, kosmetik, plastik, vitamin C dan antibiotic. Situs http://beneforce.com  singkat tetapi tegas menyebutkan contoh penggunaan extract lactone ini untuk mengurangi kesuburan pria, dan digunakan di china untuk praktek ini. Sehingga penggunaan secara berlebihan sangat tidak disarankan. Lebih jauh http://indonetwork.co.id  memberikan penegasan tentang rasa manis tetapi panas yang dihasilkan sebagai akibat dari reaksi kimia dari lactone, sehingga beberapa minyak urut sebagaimana yang dipromosikan di tokopedia adalah untuk menjadi minya urut. Literatur-literatur ini secara padat membantu saya untuk memahami apa manfaat pohon ini dan kenapa nilai jualnya tinggi serta tingkat pencarian-nya begitu tinggi di Papua.

Hanya Kulit yang Dijual Masyarakat 

Sumber: http://hutanpapua-indonesia.blogspot.co.id/2015/10/teknologi-budidaya-kulit-masohi.html
Mempelajari tentang Masohi dan fakta bahwa kayu ini adalah endemic Papua dan hanya ditemukan di Papua memberikan perasaan sedih bahwa inilah kekuatan ekonomi Papua yang belum optimal manfaatnya dirasakan masyarakat. Kesedihan itu tentu berkaca dari bagaimana masyarakat Kensi dan Masyarakat di Irarutu Teluk Bintuni hanya menjual kulit kayu saja kepada penadah. Introduksi teknologi yang didorong dengan paket pengembangan kapasitas kepada masyarakat untuk proses penyulingan, kontrol mutu dan pengemasan belum dilakukan optimal. Informasi bahwa nilai jual di kampung sebesar 8000 rupiah/kg sangatlah jauh dari nilai di tingkat pengempul yaitu Rp. 40,000 - 50,000 rupiah/kg.

Minim Perhatian

Sama seperti produk-produk unggulan Papua lainnya, kulit masohi yang sudah jelas diketahui nilai pasar dan juga kebutuhan industrinya belum dilihat sebagai sumber kekuatan ekonomi kehutanan di Papua. Pemberian ijin konsesi kayu dan pembukaan lahan untuk peruntukan non kehutanan sayangnya terus naik menjadi prioritas daerah yang jelas konsekuensinya pada hilangnya aset-aset ekonomi yang mungkin sengaja di abaikan ini. Minim perhatian jelas sekali dari bagaimana tidak adanya kajian lengkap yang diikuti dengan rencana pengembangan produk unggulan daerah dari masohi. Regulasi daerah untuk perlindungan ekologi masohi pun tidak ada.

Membangun Ekonomi Rakyat dari Masohi

Pemanfaatan sumber daya hutan yang benar sudah pasti akan memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat terutama masyarakat adat yang saat ini hidup didalam hutan adatnya dalam kemiskinan. Pemerintah bersama dengan smua pihak perlu memberikan perhatian serius pada pengembangan usaha masohi sebagai produk unggulan daerah. Pembangunan hutan tanaman masohi dan pengembangan industri destilasi di tingkat kampung bisa menjadi langkah awal yang harus dibangun di tingkat tapak. Yang kemudian dilanjutkan dengan fasilitasi pemasaran dan kontrol kualitas dan harga untuk menjamin kelancaran bisnis masyarakat yang mengelola dan memanfaatkan masohi.

Minggu, 02 April 2017

Economi Papua: Crab, Un-Recorded Fishery Potency in West Papua Province

This morning is my 4th trips of exporting 1 box of crab that i collected from the middle man here in Manokwari. The crabs I exports are coming from Bintuni Bay - new established district in West Papua that famous with its British Petroleum - Multinational Natural Liquid Gass Company. For sure Bintuni is one of the richest spots in Papua Island that deposits billions dollar of resources because of is timber, oil, gas and marines products been occupied by several national and international investor. While crabs or locally known as Kepiting Bakau is another hidden billion dollar resources that available here. This may because of their mangrove and swamp that cover almost 1,3 million ha of Bintuni forests. I then learned that this is what people call with Mangrove Crab with high prices because its nutrition and for chines are believing the fortune.
Crab stories brought me to found the another layers of un-recorded economic strength that Papua has. The box I sent is covered by another 28 big boxes of streoform containing average 30 Kg of fresh mangrove crabs. 'Its just arrive this morning and are transported out every days by air shipping" Said the officer in the cargo gates of Manokwari Airport. He then added that "this now reduced since the government declared to say no for the female crabs. Now only male that exported out. It used to be minimum 40 boxes were exported". This emphasized what my friend in Jakarta has reminded me and the experienced i had with quarantine inspection before it is allowed to loaded. The prices I bought is about Rp. 38K per kg for red mangrove crabs while I guess they may bought with only 20K or 25K per kg in Bintuni bays. Looking at the big boxes with tonnes of crabs transported out I was then amazed how this big dollar resources from Papua are taken out without clear controls and so silly since no data shows how much crabs are contributing to GDP of the region or province. In rough we could calculates: if i assumed they take 20 days of regular exports in a month with average 30 boxes containing 30 kg of crabs each then there are 18,000 kg or about 18 Ton of mangrove crabs are exported out every days. If this is consistent in a year there are about more that 200 tonnes of crabs been transporting out of West Papua.

Legally there is no straight regulation of fishery products compare to mining or timbers that quite complicates. We just needs to organize the permission and letter known as SIUP at Investment Body with confirmation from Marine and Fishery Department with few amount of non taxes payment to the states. At the airport we will have to secure the quarantine checks to make sure we are exported the species or specific aspect not forbidden by the law. As described bellow that for crabs the inspection are applied to make sure that all the boxes are only containing male crabs. I then learned from okezone.com article 14th April 2016 that the Government argue there would a big implication of crabs scarcity by taking big numbers of female crabs particularly with eggs in it stomach. The was also a reason i learned from detik.com article Jan 19 2015 that there values of crabs export were falling down since the buyers in china and taiwan then breeding the eggs and growing bigger for their internal consumption.


Female crabs, recognize by the form of its sex
(yellow circle)

Financially the region doesn't aware or may be the don't want to aware about the million dollars of crabs investment been happening in their region. Once the crabs arrive in Jakarta the prices could reach Rp120K per kg of which in a month there are about USD-200K or in a year could reach 1 million USD transaction are going on. Having a regulation and clear arrangement is crucial to help government control the revenue and stocks in the wild. This will also helps government to setup the crab farming for the small groups of Papuan who can engage to gets access to big benefits of their crabs. With large mangrove covers, clean airs, steady ecosystem and facts that community are depending much on their natural resources should be another layers of economic poles in the island to increase income and level of community wealth.